Dari Keheningan Malam, Adhitia Sofyan Kembali Lewat album How To Stop Time

Setelah sempat menggebrak lewat debut album Quiet Down: Bedroom Recordings Vol.1, Adhitia Sofyan menjadi salah satu singer-songwriter yang patut diperhitungkan. Modalnya sederhana, petikan gitar dan suara merdu yang direkam dalam program komputer di kamar tidur kala jeda dari kesibukan kesehariannya sebagai seorang creative director di sebuah konsultan bisnis. Malam hari menjadi waktu pilihannya untuk mengekspresikan perasaannya yang dituangkan lewat lagu.

Adhitia Sofyan terhitung musisi yang produktif. Tahun ini ia kembali merilis album baru bertajuk How To Stop Time: Bedroom Recordings Vol. 3 menyusul kesuksesan sophomore album Forget Your Plans: Bedroom Recordings Vol. 2 yang dirilis pada 2011 lalu. Konsepnya masih sama dengan kedua album sebelumnya yaitu merilis terlebih dahulu albumnya untuk diunduh secara gratis lewat laman www.Adhitiasofyan.wordpress.com. Salah satunya versi demo lagu “September” yang sempat dirilis beberapa bulan lalu. Kemudian ia akan merilis dalam format CD seperti biasa.

“Free download full album adalah cerita saya, identitas perjalanan musik saya dari awal, orang kenal saya dari cerita ini, saya belum ingin lepas dari model ini. Saya juga tidak merasa terbebani dengan sharing seperti ini, karena saya juga bermusik bebas dan tidak menggantungkan hidup dari musik,” ujar Adhitia Sofyan yang tidak khawatir format free download akan berpengaruh bagi penjualan album fisiknya.

Pada album ketiga, How To Stop Time, Adhitia Sofyan belum terlalu beranjak dari konsep acoustic singer-songwriter. Kali ini ia lebih berusaha mematangkan dan membungkus lagu-lagu yang dikemas dalam nuansa akustik dan kaya akan aransemen strings yang lebih bervariasi.

“Kalau secara umum rasanya tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dengan kedua album sebelumnya. Saya berusaha untuk lebih bermain di elemen suara di luar gitar akustik dan vokal. String section yang lebih eksploratif, terstruktur dan terkadang unpredictable. Ada lebih banyak nuansa perkusif.Penggunaan keyboard synth sebagai pemanis, dan horn section sebagai pad di beberapa bagian lagu,” ujarnya menjelaskan konsep musik di album terbarunya ini.

Momen pembuatan album ini dimulai saat Adhitia Sofyan sedang melakukan tur solo di Jepang selama sepuluh hari pada September 2011. Di tengah rutinitas yang menggila, hanya pada malam hari Adhitia Sofyan bisa mengambil jeda untuk sekedar beristirahat dan berpikir.

“Pada malam hari saya terdiam berangan-angan punya kemampuan menghentikan waktu agar saya bisa istirahat sejenak. Di sisi yang berbeda saya sempat merasakan kesenangan yang luar biasa, sehingga ingin punya kemampuan untuk menghentikan waktu supaya tidak cepat berlalu,” ujarnya menerangkan alasan pemilihan judul album How To Stop Time.
Entah tergolong makhluk Nokturnal atau bukan, tapi malam hari selalu menjadi inspirasi bagi Adhitia Sofyan. Karena pada waktu hening seperti ini ia bisa menyendiri. Ide-ide kemudian datang untuk diolah dalam gitar dan direkam pada handphone miliknya sebelum diolah lebih matang ke dalam program Native Instruments Komplete 7. Proses rekaman dilakukan pada malam hari setelah semua anggota keluarga tertidur pulas, menutup semua pintu kamar apartemen, dan mematikan suara AC agar dia bisa lebih fokus berkarya dan tidak menimbulkan noise yang mengganggu proses rekaman. Semua itu dilakukan di apartemennya di bilangan Jakarta Selatan.

“Ada kepuasan sendiri merampungkan semuanya di kamar sendiri dengan memaksimalkan alat-alat yang ada,” ujarnya.

Hasil dari keheningan malam itu terciptalah sebelas lagu berbahasa Inggris dalam album How To Stop Time: Bedroom Recordings Vol. 3. Single pertama “Tokyo Lights Fade Away” dibuat saat sedang tur di Jepang akhir tahun lalu. Lagu ini menggambarkan perasaan Adhitia Sofyan saat melakukan perjalanan sepuluh hari di negeri Matahari Terbit. Selain itu lagu “September” juga bercerita tentang perasaan yang sama.

Kalau diperhatikan secara seksama dari album ke album, Adhitia Sofyan selalu memiliki ikatan emosionil pada satu kota atau tempat. Pada album pertama dia bercerita soal kota Adelaide dan kota Jakarta pada album kedua.Apakah kota memang selalu menjadi inspirasi?

“Ini kebetulan saja, kebetulan yang manis. Dan lagu-lagu dengan nama-nama kota ini selalu saya letakkan sebagai track pertama. Ini tidak menjadi ‘peraturan tetap’ buat saya, purely hanya karena momen yang datang saja yang mendorong menulis lagu-lagu ini. Kebetulan karena saya sempat berada di Tokyo, and I feel strongly about the whole experience, secara natural akhirnya tertuang menjadi lagu,” katanya mengekspresikan perasaannya.

Pada lagu “Mother”, Adhitia Sofyan bercerita soal seorang anak yang kehilangan ibunya karena meninggal. Lagu ini menjadi obat kerinduan Adhitia Sofyan jika sosok ibu kita akan meninggal di masa yang akan datang.

Adhitia Sofyan juga bercerita tentang pengalaman emosionilnya soal media sosial lewat lagu “World Without A Sky”. Lagu ini tercipta ketika dirinya kehilangan seorang pegawainya yang telah meninggal dan hanya bisa memantaunya lewat berita-berita dari media sosial yang dikirim oleh rekan dan saudaranya. Sebuah pengalaman sedih itu mendorong Adhitia Sofyan untuk menuliskannya ke dalam lagu.

Yang paling berbeda adalah lagu “Secrets of The World” di mana Adhitia Sofyan mengutip ayat Al Quran untuk lirik lagu ini. Sebenarnya ide ini bukan untuk pertama kali karena Adhitia Sofyan sudah melakukannya pada lagu “In To The Light” yang terdapat pada album Forget Your Plans (2011). Lagu bernuansa kelam itu bercerita tentang kematian menurut sudut pandang Islam soal cerita Malaikat Munkar dan Nakir serta Hari Akhir.  Pada lagu “Secrets of The World”, kali ini ia bercerita soal kebesaran Tuhan dalam mengatur kuasa-Nya pada umat manusia.

“Ayat Al Qur’an saya kutip sebagai penunjang cerita di lagunya saja, tanpa ada maksud berdakwah atau bagaimana. Dari sisi song writer saya melihat ini sebagai exercise yang bagus untuk lebih eksploratif dalam mencari sudut pandang menulis lirik,” ujarnya menjelaskan soal proses kreatif ini.

How To Stop Time: Bedroom Recording Vol. 3 hanyalah ekstase kreativitas Adhitia Sofyan yang tidak akan pernah berhenti. Waktu pun rasanya tidak akan menghentikan ledakan kreativitas Adhitia Sofyan dalam berkarya.

“Saya melihat album-album ini sebagai tugas wajib musisi, seperti penulis membuat buku, dan sutradara dengan film-filmnya. Album ini ‘hanya’ satu titik buat saya lanjut ke album-album berikutnya. Ketika album ini selesai di kepala saya pemikiran tentang album ke 4 sudah berjalan,” katanya.

Silakan, nikmati album How To Stop Time: Bedroom Recordings Vol. 3 dan masuki ruang keheningan Adhitia Sofyan. (Idhar Resmadi)

Track List “How To Stop Time: Bedroom Recordings Vol. 3” :
1. Tokyo Lights Fade Away (first single).
2. Mother
3. Place I’ll Never Be
4. Sudden Wonderland
5. Rainbows and Starlight
6. World Without A Sky
7. Secrets of the World
8. September
9. Promises
10. You’re In Town
11. Words and Stories

(Tulisan ini dibuat untuk siaran pers album How To Stop Time dari Adhitya Sofyan)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here