Pure Saturday Menemani Perjalanan Hidup Saya

Berbicara tentang musisi idola tentu tidak mudah. Sepanjang hidup, kita terlalu banyak disuguhi musik-musik yang menemani keseharian kita mulai dari radio, televisi, hingga sayup musik di minimarket. Dari kesekian musik yang kita dengarkan sehari-hari, tentu ada yang berkesan dan ada juga yang sekedar “numpang lewat”.

Bagi saya pribadi, musisi idola itu tentu yang menyimpan banyak kesan. Bukan semata persoalan musik yang memiliki lirik indah atau aransemen musik yang baik, kalau persoalannya hanya kedua hal itu, tentu banyak pilihannya. Tapi musik yang menemani perjalanan hidup kita, barang tentu musisi itu memiliki tempat istimewa di hati. Satu yang tersimpan di hati yaitu Pure Saturday.

Pure Saturday menemani saya dewasa. Musik mereka, berjalan seiring dengan hidup saya dan menemani saya sampai sekarang. Pertama kali mendengar Pure Saturday ketika musik mereka sedang berada di puncak euphoria pada pertengahan 1990-an. Lagu “Kosong” yang melejitkan nama Pure Saturday diputar di radio dan televisi. Seperti halnya remaja yang sedang gandrung dengan demam musik Britpop, Pure Saturday segera mencuri hati saya. Musik mereka yang harmonis nan membius membuat orang mudah jatuh cinta pada musik mereka. Jika saja musik mereka ibarat obat bius, maka tepat rasanya jika musik mereka masuk kategori obat bius yang teramat sedatif.

Pada saat itu saya masih SMP. Namun kesempatan mengenal musik Pure Saturday lebih jauh ketika saya berseragam putih abu. Mereka baru saja merilis album Utopia pada awal 2000. Kaset mereka saya buru ke toko kaset Aquarius di Dago. Sebuah toko kaset legendaris di Bandung yang kini sudah tiada akibat desakan penjualan album yang kian menukik. Album Utopia yang cenderung kelam, membuat saya semakin cinta pada band ini. “Labirin” adalah sebuah lagu yang kemudian membuat saya banyak berpikir tentang kehidupan.

Selepas itu, Pure Saturday hampa dalam berkarya. Karena mereka ternyata sedang vakum. Seiring itu pula saya beranjak masuk kuliah pada 2003. Dua tahun saya kuliah, Pure Saturday merilis album Elora yang menjadi penanda kembalinya eksistensi mereka. Saya membeli album Elora di sebuah distro di Bandung. Bentuknya kaset. Saya membeli kaset mereka dari hasil kerja saya sebagai penulis lepas di majalah indie Bandung. Tidak seperti kedua album sebelumnya yang merupakan duit pemberian orang tua yang saya tabung sedikit demi sedikit. Inilah pengalaman pertama membeli album Pure Saturday hasil dari keringat sendiri. Sangat menyenangkan hati, tentu saja.

Seiring saya bertambah umur, Pure Saturday masih tetap eksis saja. Dan semoga akan selalu eksis. Album terbaru mereka yang rilis pada pertengahan 2012 ini juga ketika saya sudah semakin berumur dan bekerja di sebuah organisasi non-profit di Bandung. Pure Saturday selalu menemani dalam setiap fase hidup saya. Kadang kalau hadir ke dalam setiap penampilan mereka, saya terbawa mesin waktu mengingat-ingat kesan pertama ketika mendengar “Kosong” atau “Desire”. Setiap lagu-lagunya seperti scene-scene dalam kehidupan saya. Maka, Pure Saturday adalah soundtrack dalam hidup saya.

Atas setiap kesan dan kenangan, saya patut berterima kasih pada Pure Saturday!

*Ditulis untuk #Note2Write @Samsung_ID

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here