Resah, Konser Musik Rusuh

“Penyebab pensi jebol itu simple, pengen gratis. Mereka bokek, terus merasa nonton acara itu paling enak kalo jebolan. Akhirnya pakai kekerasan untuk menjebol. Padahal pensi itu kan acara sekolah. (Tempat) orang-orang yang terpelajar, berpikir, pintar….”– Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs

Ironis. Keresahan Jimi mewakili keresahan para musisi (atau bahkan kita semua) mendengar konser-konser musik yang selalu rusuh. Tak hanya kerugian secara materiil, konser rusuh pun kadang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Musik yang seharusnya menjadi ajang apresiasi seadiluhung mungkin, dalam sekejap bisa berubah menjadi ladang huru-hara. Mengerikan sekali, bukan?

Kalau saya tidak salah mencatat, beberapa kali konser musik di Indonesia mengalami kerusuhan. Misalnya, konser Ungu di Pekalongan pada tahun 2006, kerusuhan Pentas Seni (Pensi) SMA Tarakanita di Stadion Lebak Bulus, Pensi SMAN 91 di Plaza Barat Senayan, dan paling parah ketika Pensi SMAN 44 mengakibatkan puluhan polisi dan penonton luka-luka, properti konser rusak, kendaraan hancur lebur, dan panitia merugi sampai ratusan juta rupiah. Berita kerusuhan Pensi ini bahkan menjadi ulasan media massa nasional.
Sejak tahun 1970-an konser musik rusuh memang bukan hal baru di wajah pentas musik nasional. Kerusuhan besar pernah terjadi dalam konser musik Summer 28 pada tahun 1973 dan konser Pesta Musik Udara Terbuka Aktuil di Medan pada 1975. Kemudian konser-konser musik band internasional di Indonesia kala itu memang selalu jadi lahan kerusuhan seperti pada konser Deep Purple tahun 1975 di Gelora Senayan, dan konser The Rolling Stones pada tahun 1988 di Senayan. Salah satu paling fenomenal, kerusuhan yang terjadi pada konsernya Metallica di pertengahan 1990-an. Konser yang terekam dalam film dokumenter Global Metal arahan sutradara Sam Dunn itu memaparkan situasi konser yang penuh huru-hara, suara sirene polisi meraung-raung, perusakan, dan pembakaran di mana-mana.

Kerusuhan memang tak pernah pandang bulu. Kalau dulu konser musik rock yang dikenal distorsi dan mampu membakar serta memprovokasi penonton kerap dijadikan kambing hitam, kini semua genre musik mampu menjadi sumbu semua itu. Mau itu rock, pop, bahkan dangdut sekalipun. Bahkan beredar stereotype umum di masyakarat kita kalau tiap perhelatan konser dangdut identik dengan ejekan “senggol bacok”. Maksudnya, setiap konser dangdut di kampung-kampung (mungkin di kota juga) berpotensi menjadi ladang tawuran. Terlalu rumit memang kalau mau mencari sebab musabab suatu kerusuhan konser musik, apalagi menyalahkan dan mengambinghitamkan genre musik.

Musik memang sebuah produk seni paling populer yang tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial didalamnya. Konser musik adalah social hub yang paling umum, mudah ditemui, dan saling mempertemukan kumpulan status sosial yang hadir untuk menikmati hiburan bagi diri mereka sendiri. Namun, konser musik sebagai sebuah social hub tentu tak bisa dipungkiri dapat memungkinkan terjadinya gesekan-gesekan yang mengakibatkan sumbu kerusuhan itu terjadi. Dalam bukunya Rethinking After Adorno, Tia DeNora memberikan perspektif bahwa gesekan sosial itu terjadi karena  musik dapat menyebabkan suatu mobilisasi aksi yang berhubungan dengan pelbagai aspek sosial.

Pada beberapa fakta yang ada, kerusuhan dalam konser musik memang terjadi tatkala penonton yang membludak akibat tidak kebagian tiket masuk konser berusaha menjebol pagar pintu masuk. Pada tahun 1970-an, kerusuhan acap kali terjadi tatkala penonton tidak merasa puas dengan pertunjukan sebuah band sehingga melempari mereka dengan botol dan batu. Saya rasa rendahnya apresiasi terhadap musik menjadi muara semua itu: nggak mau bayar tiket masuk, konser gratisan, maupun melempari musisi.

Sikap demikian sedikitnya mencerminkan paradigma masyarakat yang menganggap apresiasi terhadap musik seperti terhadap “barang hiburan”, bukan karya seni. Itulah salah satu penyebab di antara rendahnya apresiasi yang membuat konser musik kerap rusuh. Acapkali hal itu yang menjadi penyebab kenapa penonton yang tidak berniat membeli tiket memaksakan kehendaknya untuk masuk gedung konser dan menikmati pertunjukan dengan cara yang salah. Atau berbuat destruktif terhadap musisi non favoritnya dengan melempar batu atau botol.

Lantas apakah kesalahan mutlak ditimpahkan pada penonton semata? Penyelenggara konser atau promotor merupakan unit yang paling penting dalam keberlangsungan sebuah konser musik. Fakta kerusuhan yang ada dan penyebab rendahnya apresiasi dari pihak pelaku industri sendiri: musisi dan penyelenggara konser lebih mengkontruksi musik menjadi komoditi hiburan – hingga kemudian masyarakat mengganggapnya serupa. Yang muncul pun sebuah fetisisme industri: yang ada masyarakat bukan lagi memuja suatu produk industri budaya yang secara nyata ada, tetapi pemujaan tersebut lebih cenderung dialamatkan kepada simbol dan merek dari produk tersebut.

Jika kapitalisme mutakhir telah menjadikan musik sebagai komoditi hiburan, pihak penyelenggara, para kapital, menjadi salah satu penyebabnya. Mentalitas cukong (istilah ngetop pebisnis musik di 1970-an) biasanya mau untung saja. Venue tidak layak pakai, kerap kali dipakai seperti yang terjadi pada kasus kerusuhan konser Sheila on 7. Tiket konser yang terlalu mahal yang tidak seimbang dengan status sosial penontonnya.  Tiket terlampau mahal dan venue kurang representatif menjadi dalih penonton melakukan tindakan barbar.

Dalam konser Summer 28, para cukong tentu tidak peduli kalau para penonton membeli tiket konser sampai menjual baju dan sepatu. Penyebab kerusuhannya, panitia tidak menepati janji untuk menyelesaikan konser sampai waktu yang ditentukan dan juga tidak menampilkan Terenchem dan AKA. Alhasil, itu menjadi pemicu huru-hara di dalam dan luar panggung.

Ujung-ujungnya, kadang permasalahan seperti ini menjadi sangat pelik. Kalau kita tidak mau resah seperti Jimi, menonton konser musik hanyalah persoalan bagaimana kita menunjukan musik kembali dalam apresiasinya yang tertinggi: menghargainya sebagai karya seni!

***

(Tulisan diterbitkan di Majalah Bung, Desember 2011)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here