Persepsi dan Realitas dalam Kebudayaan Populer Kita

Beberapa hari yang lalu saya menonton talkshow televisi yang menampilkan bintang tamu paranormal Ki Joko Bodo bersama grup boyband-nya. Saya agak lupa siapa saja paranormal yang tergabung didalamnya. Grup boyband yang dinamakan Trio Mantra itu terdiri dari para paranormal, itu saja yang saya ingat. Acara itu tak pelak membuat saya terkejut dan terheran-heran. Selama ini yang saya tahu bahwa paranormal “bekerja” di wilayah metafisika, dan serta merta berada jauh dalam gemerlap populeritas dan trivial. Namun kini tampaknya status selebritas adalah sebuah imajinasi yang seolah-olah menjadi populeritas dan selebritas merupakan satu impian. Rasanya di akhir dekade ini adalah arah kebudayaan yang tanpa arah dan tidak jelas. Seorang paranormal jadi selebiritis. Seorang polisi menjadi selebritis dalam waktu yang sesaat. Entah apa di balik motif mereka, jalur populeritas telah menjadi hingar bingar.

Sebelum saya beranjak lebih jauh untuk memperdebatkan, membicarakan, atau merefleksikan apa yang terjadi dalam realitas budaya populer Indonesia di akhir dekade millennium pertama ini, saya sedikit teringat mengenai persoalan kebudayaan di Indonesia. Saya jadi teringat akan Pidato Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991 yang termaktub dalam buku Senjakala Kebudayaan oleh Nirwan Dewanto. Dari desain kebudayaan yang telah ada, kebudayaan bukanlah semacam kreasionisme. Kebudayaan melakukan banyak penyimpangan dari desain besar yang ingin mengendalikannya. Sudah saatnya menganggap selesai perdebatan-perdebatan tentang orientasi utama dan bentuk terakhir kebudayaan Indonesia. Setiap orang secara potensial adalah pencipta kebudayaan. Kinilah saatnya, mengenali bagaimana kebudayaan Indonesia berevolusi melalui satuan-satuan kecil, satuan-satuan mikroskopik sekalian.

Pernyataan dalam tulisan Nirwan Dewanto itu begitu menyentak jika saya melihat seperti apa kebudayaan yang ada di Indonesia sekarang, mungkin khususnya dinamika budaya populer yang bakal terus berkembang sampai sejauh apa dan sejauh mana. Saya sendiri tidak bisa memprediksi bakalan seperti apa arah kebudayaan populer Indonesia di tengah kita masih berkecamuk dengan perang pesona, citraan, identitas, gaya hidup, dan informasi-informasi yang terus mengepung. Saya hanya meyakini, kita sebagai sebuah unit kebudayaan akan terus melakukan upaya dialog dengan sebuah kekuatan budaya, yang disebut oleh Nirwan Dewanto, kekuatan budaya yang punya peluang sama untuk penuh maupun hidup terus.

Berbicara tentang fenomena yang terjadi dalam industri hiburan atau industri budaya pop kita selama beberapa tahun terakhir memang kadang membuat kita mengelus dada. Bahkan jika kita menyimak acara televisi ataupun pemberitaan media massa, dinamika kebudayaan Indonesia sedang mengalami turbulensi identitas. Kemunculan boyband, hegemoni musik korea, pencitraan para selebritis, pasar yang goyah, dinamika anak muda yang labil, budaya instant, kelatahan, dan pemberitaan media tanpa arah memberikan kita refleksi cukup penting tentang seperti apa arah kebudayaan populer di Indonesia menjelang akhir dekade pertamanya di milenium ini.

Secara garis besar, bagaimana kebudayaan pop kita tumbuh dan berkembang sebagai sebuah realitas yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia di tengah berbagai persepsi, mitos, dan fantasi yang membentuknya. Kita masih bisa melihat bagaimana kebudayaan populer kita masih dikelilingi oleh fantasi-fantasi indah kapitalisme; meraup citraan dan untung sebanyak mungkin, dan meminggirkan wacana atau esensi yang dikandungnya. Juga bagaimana program reality show televisi, acara berita, talkshow, hingga pertunjukan musik masih mengedepankan aspek hiburan dan kepentingan pasar atau rating membuktikan fantasi tersebut.

Kebudayaan pop memang dibentuk oleh mitos sebagai sesuatu yang dangkal, permukaan, dan instant. Awal Januari 2012, Huffington Post merilis sebuah tulisan tentang refleksi terhadap fenomena kebudayaan pop di dunia sepanjang tahun 2011. Di ranah politik, kita tahu bahwa revolusi di Arab atau Arab Springs sepanjang tahun 2011 lalu berkat kehadiran demokratisasi yang digulirkan oleh para blogger. Dalam sisi yang negatif, kebudayaan sedang digiring kedalam sesuatu yang instant, sesaat, dan cepat.

Di wilayah budaya populer misalnya kemunculan Justin Bieber yang fenomenal, atau “anak-anak zaman” seperti Trevor Powers yang sebelumnya hanya remaja biasa yang bekerja di sebuah retail di Amerika namun dengan cepat bisa meraih populeritas sebagai musisi berkat kehadiran YouTube. Atau, di Indonesia sendiri kita mengenal fenomena “Keong Racung” Sinta Jojo dan Briptu Norman. Huffington Post dalam analisisnya soal budaya pop dan kaitannya dengan budaya instant ini menulis: “In Indonesia, a policeman named Norman Kamaru became a viral sensation after releasing a grainy YouTube video of him lip-synching to a Bollywood song. He scored a $100,000 record contract and appeared on lokal talk shows. Indeed, 2011 was a year when “YouTube musician” became a compliment, and success for the unknown came faster than ever — in both the indie and mainstream worlds. The rules for success in the musik industry have changed rapidly over the years. What started with the MySpace craze has now branched much farther out to include lip-synching Indonesians, students from Boise and teenage girls whose mothers pay a pair of fledgling producers to write a song about a day of the week. And as labels lost more of their power, radio lost listeners, and albums became even more of an afterthought, the music industry continued to redefine itself in 2011”.

Kehadiran teknologi media tak hanya dipandang sebagai suatu saluran demokrasi, namun kehadirannya bisa membuat “seseorang” menjadi “selebritis” hanya dalam waktu 15 menit seperti yang dikatakan seniman Andy Warhol. Budaya instant yang dirayakan, itu mungkin cerminan paling tepat dari kemunculan fenomena ini. Pemberitaan tentang Briptu Norman dan Sinta Jojo pun menghiasi televisi kita berulang-ulang, yang lebih menghadirkan aspek hiburan dibandingkan esensi pendidikan.

Selain kemunculan selebritis-selebritis “viral”, hegemoni musik Korea beberapa tahun terakhir memberikan gambaran menarik tentang konsumerisme yang menjebak arah kebudayaan otentik Indonesia menjadi sangat kabur. Musik dan fashion ala anak muda Korea diadaptasi dan ditelan mentah-mentah hingga menjadi kiblat baru bagi anak muda Indonesia. Salah satunya seperti kemunculan grup musik Smash hingga berujung munculnya boyband atau girlband ala Korea lainnya. Dunia sinetron pun tak mau kalah. Adaptasi-adaptasi drama ala Korea segera menjadi panutan. Budaya populer di Indonesia masih terjebak dan terpesona pada citra dan bukan mengedepankan nilai atau esensi. Kebudayaan seperti inilah yang miskin imajinasi.

Di sisi yang lainnya, konsumerisme di kalangan anak muda dan kemunculan kalangan menengah baru di Indonesia tengah menggeliat. Globalisasi kini telah membentuk anak muda yang lebih konsumtif dan labil. Sejak dibukanya arus investasi asing dalam industri musik pada pertengahan 1990-an, hadirnya major label besar di Indonesia seperti Sony Music atau Universal, hingga arus media mainstream seperti MTV. Beberapa tahun terakhir ini Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak dikunjungi oleh musisi internasional selain Jepang dan Singapura. Meningkatnya arus konsumsi masyarakat Indonesia terhadap maraknya musisi Internasional bisa menjadi contoh. Paling menghebohkan ketika konser David Foster yang harga tiketnya mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan Foster menyentil dengan berucap, “Hello, Indonesian rich people”. Tentu saja dari ucapan itu mengandung ironi terbesar, di saat dunia sedang mengalami resesi ekonomi dan biaya hidup yang mencekik.

Berkaca dari fenomena-fenomena di atas, budaya instant dan budaya latah adalah gambaran menarik tentang definisi kebudayaan populer Indonesia selama beberapa tahun belakangan. Kemunculan konsumerisme yang tiada tara itu seolah di dalam logika industri kebudayaan ini menjadi komoditi yang menarik. Hasrat yang dilahirkan oleh berbagai pesona dan produksi komoditi kapitalisme telah menjerat kebudayaan populer Indonesia untuk tetap berjalan di tempat. Dan malah semakin kehilangan otentisitasnya lewat serbuan-serbuan produk komoditi kapitalisme mutakhir. Semua itu lantas menjadi trend, fenomena sesaat, dan seperti yang dipaparkan oleh Max Horkheimer dan Theodore Adorno sebagai industri budaya yang menyebutkan bahwa dalam hembusan kebudayaan pop terus memproduksi selera, mode, fashion, jenis musik, atau irama lagu yang tak henti-hentinya didaur ulang dibalik beroperasinya suatu industri budaya kapitalisme.

Budaya populer dibangun oleh apa yang disebut imajinasi populer yaitu imajinasi dan fantasi-fantasi yang dibangun secara sadar oleh orang atau sekelompok orang, untuk membedakan mereka dengan orang-orang lainnya. Imajinasi populer merupakan bentuk-bentuk imajinasi yang dicirikan oleh sifat-sifatnya yang murahan, rendah, dasar, vulgar, umum, rata-rata, atau rakyat kebanyakan, yang digunakan untuk menghimpun massa di dalam berbagai wacana massa populer (Piliang, 2011: 418).

Di balik semua itu, lewat logika budaya populer yang sesaat itu membuktikan bahwa imajinasi seniman atau pelaku budaya populer lebih mengedepankan cara berpikir populer, yaitu cara berpikir yang dipengaruhi berbagai wacana budaya populer yang bersifat dangkal, permukaan, dan selera massa (Piliang, 2011: 419). Lahirnya hegemoni musik Korea, musisi siap-saji (instant), dan produk-produk industri budaya lainnya (sinetron, film horror, reality show) memampatkan imajinasi dalam teks-teks atau produk budaya Indonesia saat ini. Dan kalau diperhatikan, dengan tidak beragamnya kehadiran produk budaya yang ada saat ini, membuktikan bahwa industri budaya Indonesia yang hadir saat ini masih belum demokratis. Itu pula yang membuat bahwa pelaku budaya kita kehilangan imajinasinya. Bahkan kecenderungan media massa yang masih memihak pada pelaku kapitalisme atau pemilik modal, seolah-olah membiarkan demokratisasi budaya menjadi mampat. Pemberitaan menjadi tanpa arah. Konstruksi wacana yang ditawarkan lebih memilih pihak pemilik modal. Maka, tak aneh, anak muda sebagai basis target paling empuk dari budaya populer menjadi massa yang labil, inotentik, dan tanpa identitas.

Resistensi Kultural

Catatan penting tentang kebudayaan populer Indonesia adalah melihat bagaimana budaya di Indonesia membangun suatu persepsi baru. Di tingkat sub-kultur, misalnya, budaya tak hanya dipandang sebagai pilihan estetis dan politis sehari-hari, beberapa anak muda malah “terjebak” dalam hal ihwal gaya hidup dan fashion semata. Untuk itulah seharusnya kita memandang budaya sebagai suatu yang cair dan keseharian, serta menjadi pilihan dalam mengadopsi nilai-nilai didalamnya.

Beberapa hari terakhir ini berita tentang penangkapan dan “penertiban” anak punk di Aceh sedang menjadi sorotan di mana-mana. Sejumlah demonstrasi yang dilakukan komunitas punk di Rusia dan Amerika untuk menunjukan solidaritasnya terhadap kawan-kawan mereka di Aceh.  Pemberitaan itu lantas menjadi buah bibir ketika menyinggung persoalan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Berekspresi didalamnya. Saya melihat persoalan ini, dalam konteks budaya, sebagai bentuk bagaimana kebudayaan kontemporer (punk) bisa hidup dan berkembang dalam norma-norma serta tradisi Indonesia yang memang telah lahir dari sononya (taken for granted). Saya sengaja tidak melibatkan upaya-upaya politis didalamnya, akan tetapi melihat konteks seperti apa resistensi kultural yang berkembang di Indonesia di tengah hegemoni budaya pop seperti yang sudah saya paparkan di atas.

Kalau melihat seperti perkembangan budaya pop secara lebih komprehensif, saya perlu untuk merelasikan bagaimana hubungan yang harmonis antara kebudayaan “barat” (global) dan “timur” (tradisionil/lokal) dalam konteksnya di kehidupan masayarakat Indonesia. Di era glokalisasi (global-lokal) seperti sekarang ini, rasanya sudah tidak ada lagi yang namanya kebudayaan tunggal (mono culture) atau pendefinisian kebudayaan berdasarkan strata; budaya tinggi (high culture) dan budaya rendah (low culture).

Saya melihat fenomena ini ketika mengamati munculnya metal kasundaan atau kelompok musik hip hop Jawa, adalah segelintir diantaranya semacam resistensi kultural. Melihat seperti ini, kebudayaan adalah sesuatu yang cair, daur ulang, fleksibel, dan dinamis. Ia jangan dipandang sebagai sesuatu yang kaku, dingin, dan struktural.

Beberapa tahun terakhir memang banyak munculnya sebuah unit kebudayaan yang saling membangun hibrid dan membentuk fondasinya masing-masing. Kemunculan fenomena musik metal kasundaan, sebuah genre musik metal yang mengelaborasikan diri dengan musik tradisionil termasuk nilai-nilai lokal didalamnya (bahasa, petuah, filsafat, dsb) seperti yang dikembangkan oleh komunitas musik metal asal Bandung, Ujungberung Rebels. Begitupula jika melihat seperti apa yang dikembangkan komunitas hip hop Jogja HipHop Foundation (JHHF) yang menggabungkan musik hiphop dengan sastra Jawa didalamnya. Mereka bahkan tampil manggung di New York beberapa bulan lalu.

Jauh di tengah pesimisme terhadap keberlangsungan kehidupan berbudaya Indonesia, hibridasi budaya semacam ini akan menjadi riak-riak kecil yang berpengaruh terhadap ombak besar yang sedang menggulung kebudayaan pop Indonesia.

Dari beberapa contoh di atas seperti kebudayaan kontemporer yang dibawa dari Barat (punk, metal, dan hiphop) akan membangun imajinasinya sendiri dan membentuk realitasnya dalam kehidupan budaya masyarakat Indonesia. Yang saya yakini, keterbukaan anak muda terhadap berbagai nilai baik dan budaya Barat maupun Timur akan lebih adil dan ma’rifat dalam menghadapi berbagai hegemoni budaya populer yang terus bertubi-bertubi dan hadir dalam setiap sekat kehidupan kita.

Saya melihat apa yang diperlukan oleh kita sekarang adalah semacam desain atau strategi kebudayaan untuk meninjau lebih jauh seperti apa realitas kebudayaan pop Indonesia kedepannya. Rasanya masih mustahil jika kita masih berharap pada para pelaku elit industri budaya pop untuk bisa berubah. Mereka masih berpikir, menurut Harvey Cox dalam buku Fire From Heaven (1994), pasar sebagai “tuhan” (the market as “god”).

Hadirnya resistensi kultural rasanya bisa diharapkan lewat kesadaran individu atau kelompok (komunitas) seperti apa yang dilakukan oleh komunitas metal Ujungberung Rebels, Jogja Hip Hop Foundation, atau komunitas di Bali. Kemunculan resistensi kultural bisa menjadi pijakan kita dalam meraih imajinasi bersama-sama mengenai kebudayaan yang lebih demokratis dan berpihak pada rakyat, bukan pemilik modal. Resistensi kultural itu tak hanya penting untuk membendung arus budaya dari pusat tapi juga menjadi jembatan untuk membentuk narasi budaya masing-masing.

Bandung, 5 Januari 2012

(Ditulis dalam rangka Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2012: Katastrofe Kebudayaan pada Sabtu, 7 Januari 2012 kerjasama antara Forum Studi Kebudayaan ITB dan Common Room Networks Foundation)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here