Karena Kampus Bukanlah Pasar

Institut Kesenian Jakarta – atau disebut “Institut Kegaulan Jakarta” oleh Pepeng, drummer band Naif – seperti kawah candradimuka bagi band-band independen yang muncul pada pertengahan 1990-an dan awal 2000-an. Pada pertengahan tahun 1990-an, kita mengenal nama Naif dan Rumah Sakit sebagai “dedengkot” anak band IKJ. Generasi selanjutnya tak kalah mentereng. Nama-nama besar seperti Club 80’s, Goodnight Electric, The Upstairs, The Adams, hingga White Shoes and The Couples Company merupakan eksponen dari “scene” IKJ yang sudah malang melintang di pentas musik nasional dan internasional. Anak-anak IKJ juga sempat merilis kompilasi Kampus 24 Jam Non-Stop Hits yang berisikan band-band asal kampus mereka. Tak salah, pada tahun 2007 Rolling Stone Indonesia menjuluki IKJ dengan “school of rock” dalam salah satu liputannya.

foto diambil dari http://www.scoutnetworkblog.com

Keterkaitan erat antara dunia kampus dengan aktivitas bermusik tak hanya bermuara di IKJ saja. Di Bandung, kita mengenal nama Seurieus dan Mocca. Nama pertama berawal dari sekumpulan mahasiswa Seni Rupa ITB yang ingin mengekspresikan “kegilaan” mereka di luar sumpek dan penatnya tugas-tugas kampus. Pada awal karirnya, mereka dikenal band kampus yang acapkali tampil di berbagai acara kampus ITB. Nama kedua, Mocca, berawal dari sekumpulan mahasiswa desain ITENAS yang membentuk band sebagai “proyek sampingan” selain menjadi mahasiswa. Namun, nasib berkata lain jika berawal hanya proyek sampingan dan ajang eksis di kampus itu justru mengubah nasib personil Mocca sendiri. Tak aneh, ketika Mocca tampil reuni di kampus ITENAS beberapa waktu lalu, tersimpan memori indah yang akan mereka kenang.

Pada suatu waktu, di sebuah hotel di kawasan Teuku Umar Bandung, saya sempat berbincang dengan Indra Massad (drummer Mocca) tentang bagaimana pengaruh besar kampus ITENAS terhadap awal karir Mocca. Menurutnya, gairah terbesar ketika bermusik di acara-acara kampus dan ditonton oleh teman-teman sendiri yaitu membuat bermusik itu menjadi sangat menyenangkan dan tanpa beban – kecuali beban diejek oleh teman-teman kampus sendiri. Ajang-ajang seperti itu sangat penting untuk band pemula memupuk mental. Setiap kampus pun rasanya memiliki acara musiknya masing-masing. Dan seharusnya lewat acara musik itulah ruang untuk band-band kampus unjuk gigi.

foto diambil dari mymocca.com

Kampus memang harus kita pandang sebagai tempat kebebasan berekspresi itu tumbuh. Namun, situasi yang terjadi sekarang berkebalikan ketika kampus sudah dimasuki ranah komersil. Kampus secara kodrati merupakan tempat belajar dan bereksperimen, namun kini tak lebih dari “pasar” untuk acara-acara musik. Hal ini tak bisa dipungkiri sebagai ekses dari komersialisasi yang kini juga sudah merambah dunia kampus. Dampaknya terlihat dari penyelenggaraan acara kampus yang lebih berorientasi pasar dengan mengundang band-band “besar” dan ternama. Acara-acara kampus kini sudah disponsori oleh pemodal besar semacam perusahaan rokok, telco, atau lainnya.

Komersialisasi ini berdampak terjadinya kompetisi antar fakultas maupun universitas ketika menggelar acara-acara musik. Situasi kompetitif memang butuh agar kreativitas itu tumbuh. Namun, kompetisi ini dikhawatirkan justru menumbuhkan ekses negatif. Alih-alih berkompetisi menciptakan konsep acara yang unik dan inovatif, malah justru “terjebak” mengadakan acara secara instan dengan mengundang band-band terkenal yang bakal mendatangkan banyak penonton sesuai tuntutan pemodal/sponsor. Mentalitas kreatif akan tergerus oleh mental-mental komersil.

Akan sayang sekali jika hal itu terjadi dan membuat hilangnya ruang untuk band-band kampus yang membutuhkan jam terbang. Secara kreativitas juga penyelenggara akan kehilangan independensinya karena lebih menuruti kepentingan pemodal atau sponsor. Padahal kampus notabene seharusnya menjadi tempat belajar. Karena mahasiswa bukan profesional yang memang dituntut untuk menuruti keinginan klien/pemodal.

Menggelar acara musik dan belajar untuk profesional memang bukan hal yang salah.  Penyelenggaraan acara musik di kampus dapat menjadi media “praktik kerja lapangan”. Pembelajaran itulah yang seharusnya ditekankan dalam penyelenggaraan acara musik di kampus. Tak salah memang jika sampai berhasil menggaet sponsor besar. Tapi poin pentingnya bukan persoalan berhasil-atau-tidaknya meraih sponsor. Akan tetapi, bagaimana belajar untuk berorganisasi yang baik, belajar disiplin terhadap waktu, belajar menghargai musikus dan penonton, belajar membuat konsep acara yang menarik, belajar mempromosikan acara, belajar membangun relasi, dan masih banyak pembelajaran lainnya. Nilai-nilai pembelajaran itulah yang ditularkan sehingga semangat belajar dan kreatif yang tumbuh dari generasi ke generasi.

Semangat pembelajaran kolektif dan kebebasan berekspresi harus tumbuh sebagai modal awal untuk mengembangkan kultur kreatif di kalangan mahasiswa. Kampus harus menjadi tempat tumbuhnya kebebasan berekspresi, tumbuhnya semangat inovasi dan eksperimentasi, dan menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Saya pikir nilai-nilai itu yang harus ditumbuhkan jika kita ingin melahirkan “school of rock” lainnya dan lahirnya the next Naif, the next Mocca, atau the next Seurieus. Karena kampus bukanlah pasar.

***

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Djatinangor edisi 42 atau bisa dilihat versi onlinenya di: https://issuu.com/djatinangor/docs/majalah_djatinangor__42)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here