Gimmick Ridwan Kamil, Inovasi, dan Anak Muda

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberikan pidato pembuka pada acara Asia Africa Smart City Summit (AASCS) 2015 di Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/4). AASCS 2015 merupakan pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah tingkat kota, akademisi dan pelaku industri dan membahas masalah yang dihadapi terkait lingkungan, permukiman, energi, dan transportasi di Asia Afrika. ANTARA FOTO/aacc2015/M Agung Rajasa/15.

Wajah Bandung kini telah banyak berubah. Kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil telah berhasil memoles sebagian wajah Bandung menjadi lebih bersolek. Lihat saja taman-taman yang sebelumnya kusam dan tak terawat kini berubah menjadi cantik camperenik.

Atau lihat juga ruas Jalan Asia Afrika yang kini disulap menjadi tempat nostalgia lewat beragam instalasi unik lainnya. Toh, itu tak bisa menyelesaikan persoalan sebenarnya. Kemacetan, degradasi lingkungan, pembangunan yang belum merata, dan kesenjangan sosial merupakan masalah sebenarnya yang dihadapi warga Bandung.

Pendek kata, kebijakan-kebijakan dan perubahan infrastruktur yang dilakukan Ridwan Kamil masih dianggap seperti gimmick. Perbaikan taman-taman dan program-program seperti teknopolis, smart city, dan creative city sejauh ini hanya sekadar “gimmick” atau jargon. Persoalan sosial yang kini dihadapi Bandung menjadi substansi yang harus diatasi dibandingkan dengan terus “bersolek”.

Salah satu persoalan sosial itu adalah keberadaan komunitas anak muda di Kota Bandung. Tak bisa dipungkiri jika bonus demografi sekarang tengah terjadi di Indonesia di mana populasi usia produktif melimpah dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Bonus demografi berisiko negatif jika tak dihadapi sedini mungkin dan akan menjadi persoalan sosial yang serius di Indonesia.

Sebaliknya, bonus demografi ini akan menjadi kekuatan luar bisa jika mampu dimanfaatkan dengan baik. Populasi anak muda di Kota Bandung cukup tinggi. Jika tidak cepat teratasi, bukan tidak mungkin muncul persoalan sosial yang melibatkan anak muda seperti pengangguran, prostitusi, kekerasan sosial, dan kriminalitas geng bermotor. Ini contoh kecil dari beberapa persoalan sosial yang kini dihadapi kaum muda.

Pembangunan Kota Bandung harus meletakkan kembali pada komunitas anak muda sebagai inovator. Kontestasi di Bandung membuat anak muda menjadi komoditas bagi kepentingan pasar maupun politik. Lihat bagaimana pembangunan hotel dan apartemen yang terus berdiri. Juga pusat-pusat belanja atau merek-merek luar negeri yang lebih megah bersaing dengan produk-produk lokal bikinan urang Bandung. Hal ini telah menggeser anak muda hanya sekadar menjadi komoditas.

Dalam bukunya DIY Style, antropolog asal Amerika Brent Luvaas (2012) menuliskan  bahwa keberadaan komunitas anak muda inilah yang menjadi penggerak inovasi di Kota Bandung. Lewat komunitas-komunitas anak muda ini lahir inovasi-inovasi dalam bidang musik, desain, dan fashion yang memang menjadi citra Kota Bandung. Karya-karya mereka telah membentuk wajah Kota Bandung selama dua puluh tahun terakhir.

Inilah yang harus menjadi sorotan dalam kebijakan pembangunan Ridwan Kamil untuk mendorong kembali inovasi-inovasi anak muda Kota Bandung agar tidak hanya sekadar menjadi komoditas pasar. Anak muda sebagai produsen dan jangan hanya sekadar menjadi konsumen.
Dalam ranah inovasi (Fuzi, 2013), keberadaan komunitas menjadi penting sebagai helix keempat (quadruple helix) selain triple helix (universitas-industri-pemerintah).  Dari komunitas-komunitas anak muda inilah lahir pengetahuan-pengetahuan baru lewat interaksi para pelaku di dalamnya. Mereka menjadi penggerak dan pelaku industri kreatif yang berhulu dari pengetahuan baru di dalam komunitas.

Luvaas menyebutnya dengan istilah “hangout culture” (2012), sebuah upaya terciptanya pengetahuan kolektif dalam komunitas sehingga melahirkan karya-karya kreatif. “Hanging out is where ideas are generated, group sensibilities forged, and collective interpretations developed. And what is being produced most readily through hanging out is a particular attitude, defining a specific moment in Indonesian”.

Menurut Luvaas,  proses kolektif yang dilakukan komunitas berperan besar menciptakan proses kreatif anak muda di Kota Bandung, mulai dari menyablon kaus, membikin distro, menggelar festival musik, menerbitkan majalah/zine, dan membuat album rekaman.

Lewat berbagai jargon (teknopolis, smart city, atau creative city) seharusnya program-program tersebut juga menghadirkan inovator-inovator anak muda Bandung. Agar mereka kembali bergeliat, kebijakan-kebijakan yang mendukung atau pro-inovasi terhadap keberadaan komunitas anak muda amat diperlukan.

Selama ini inovasi-inovasi yang lahir di komunitas anak muda tercipta secara organik, dan hampir dikatakan nihil dukungan Pemerintah Kota Bandung. Tekanan ekonomi pada saat krisis moneter dan perubahan politik pasca-reformasi merupakan kunci terciptanya produk-produk kreatif dari komunitas anak muda ini.

Singkatnya, menginjak dua tahun kepemimpinan Ridwan Kamil, komunitas anak muda membutuhkan kebijakan pro-inovasi melalui langkah-langkah struktural yang dapat menciptakan iklim kondusif bagi teciptanya situasi yang kolaboratif dalam melahirkan produk kreatif dan inovatif. Ada dua tahapan yang diperlukan.

Pertama, menghadirkan kembali ruang-ruang kolektif sehingga interaksi terjadi. Dalam skala komunitas, kehadiran ruang kolektif ini menjadi penting dan mendorong terciptanya penelitian dan pengembangan sosial. Menyitir kembali Luvaas, “hangout culture” adalah kunci dari inovasi dalam tingkat komunitas. Ini memungkinkan terjadinya penciptaan ide-ide baru hasil dari interaksi para anggota komunitas.

Kalau dulu ide tersebut lahir dari tongkrongan-tongkrongan informal, kelak dari ruang kolektif akan tercipta ide-ide baru. Pembangunan gedung kesenian dan kebudayaan yang dilengkapi dengan youth-centre, yang dulu didengung-dengungkan akan didirikan, harus menjadi salah satu infrastuktur yang mendorong inovasi ini bisa terwujud.

Teknopolis yang saat ini hangat dibicarakan juga tak hanya menjadi kepentingan pasar dan investor semata, tapi harus menjadi pusat litbang sosial bagi para inovator dari komunitas urang Bandung sendiri. Dengan begitu, kebijakan struktural yang menciptakan litbang sosial inilah yang bisa menjadi roda penggerak inovasi di Kota Bandung.

Kedua, menciptakan iklim yang kondusif untuk para inovator lokal dalam menciptakan pasar lokal maupun internasional. Tak bisa dipungkiri sekarang Bandung telah menjadi pasar potensial bagi produk-produk luar. Pembangunan infrastuktur yang pesat akan menjadi gairah baru bagi investor-investor luar untuk melakukan ekspansi ke Kota Bandung. Pembangunan infrastruktur yang pesat seharusnya tak menjadikan anak muda Bandung hanya sebagai “penonton”, tapi benar-benar harus menjadi pelaku yang aktif.

Maka, kebijakan yang mendorong gairah dan kebebasan para pelaku inovasi untuk terus tetap berkarya amat dinantikan. Kebijakan itu, misalnya, restrukturisasi birokrasi sehingga mempermudahkan para pelaku inovasi dalam soal perizinan; kemudahan kredit usaha, persoalan paten dan badan hukum, dan dukungan pameran dan sosialisasi di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Hal-hal itu sering dikeluhkan oleh para pelaku kreatif, terutama persoalan izin dan birokrasi yang membuat rumit. Kebijakan-kebijakan pro-inovasi itu harus benar-benar menyentuh kebutuhan para inovator dan tak hanya kembali menjadi “gimmick”. Agar Bandung yang kini “bersolek” menjadi cantik luar dan dalam.

***

(Tulisan ini pernah dimuat di: http://geotimes.co.id/gimmick-ridwan-kamil-inovasi-dan-anak-muda/)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here