Inovasi, Oleh Siapa dan Untuk Siapa?

Bersiap Sambut Bandung Teknopolis, Silicon Valley-nya Indonesia (foto diambil dari hitsss.com)

Satu pertanyaan menggelitik saya ketika dalam Seminar Nasional Membumikan Nawa Cita: Inovasi dan Pembangunan, yang digelar oleh Magister Studi Pembangunan, Rabu (4/11) lalu, salah seorang peserta bertanya, “Inovasi itu oleh siapa dan untuk siapa?” Tak mudah memang menjawabnya. Di tengah tarik menarik kepentingan yang cukup kuat saat ini, pertanyaan itu memiliki dasar yang sangat filosofis. Bagaimana kemudian inovasi diletakkan dalam konteks kepentingan masyarakat.

Geliat inovasi dalam pembangunan saat ini telah menjadi wacana yang serius dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Bandung sendiri. Program-program yang mempertautkan kebutuhan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat, seperti teknopark dan smart city merupakan contoh kecilnya. Dua program inovasi tersebut menjadi agenda yang dikedepankan oleh Pemerintah Kota Bandung. Seperti yang telah kita ketahui, misalkan, pemerintah telah mempersiapkan kawasan Gedebage yang diperuntukkan untuk pengembangan teknologi dan inovasi. Sejumlah dukungan dan investor juga tampak dipersiapkan untuk mimpi besar Bandung memiliki suatu kawasan yang canggih seperti Sillicon Valley.

Kemudian, Bandung juga ikut berperan dalam pengembangan smart city terutama melalui kehadiran Bandung Command Center dan sejumlah aplikasi teknologi lainnya. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi media yang dapat menjawab berbagai persoalan dan keluhan masyarakat. Pemberdayaan melalui media sosial juga dilakukan agar birokrasi menjadi lebih baik lagi. Namun, dibalik kehadiran inovasi-inovasi teknologi tersebut apakah sudah berpihak untuk kepentingan dan maslahat masyarakat?

Kebijakan-kebijakan pembangunan sudah seharusnya memiliki orientasi untuk memberikan pilihan-pilihan kepada masyarakat (Sen: 1999). Menurut Amartya Sen, kebebasan atau freedom menjadi tujuan dari segala pembangunan yang harus dicapai. Masyarakat harus terbebas dari segala ketakutan, terbebas dari segala ancaman, dan bebas menentukan pilihan hidup yang lebih layak. Kebebasan atau freedom itu sendiri menjadi indikator keberhasilan suatu pembangunan. Karena, kebebasan dalam masyarakat itu merupakan elemen penting untuk mencapai tingkat kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan. Apakah masyarakat kita sudah terbebas di tengah kepungan pembangunan yang berorientasi kepentingan politik dan ekonomik? Rasanya di tengah tarik menarik kepentingan seperti sekarang ini kebijakan-kebijakan pembangunan masih sangat kurang menempatkan masyarakat untuk mencapai kebebasannya. Kebijakan-kebijakan pembangunan masih sering dilakukan melalui negosiasi-negosiasi politik dan ekonomik.

Hal itu misalkan terlihat dari program dan kebijakan pembangunan yang sangat tergantung pada proses-proses politik. Saat elit berganti bukan tidak mungkin program dan kebijakan itu terhenti. Program dan kebijakan pun jarang yang menyentuh pada level masyarakat dan berkelanjutan. Terkait dengan hal itulah perlunya evaluasi agar program dan kebijakan itu mampu menyentuh kebutuhan dan kepentingan masyarakat sebagai prioritas. Inovasi-inovasi yang dilakukan haruslah berorientasi untuk menjawab persoalan sosial yang ada di masyarakat. Jangan sampai inovasi-inovasi tersebut hanya menjawab kebutuhan kepentingan satu pihak tertentu.

Geliat inovasi dan pembangunan haruslah melibatkan masyarakat dalam praktiknya. Orientasi itu dihadirkan untuk mencapai masyarakat Kota Bandung agar memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya. Inovasi-inovasi yang hadir di Kota Bandung sendiri sudah seharusnya tak dimiliki oleh satu kepentingan elit tertentu. Karena pada satu sisi, inovasi-inovasi yang hadir justru terlahir di ranah masyarakat itu sendiri. Kemunculan kelompok-kelompok kreatif, misalkan, menjadi contoh bagaimana inovasi justru muncul dari bawah dalam satu unit sosial tertentu. Karena pada satu sisi ada geliat-geliat inovasi yang lahir dari ranah masyarakat yang justru selama ini tidak terlalu memperoleh dukungan dari pemerintah.

Inovasi-inovasi yang berorientasi untuk kepentingan masyarakat seharusnya memberikan ruang-ruang tersebut. Misalnya, melalui teknopark atau teknopolis dapat memberikan ruang-ruang baru bagi kelompok-kelompok kreatif yang memang selama ini mereka berkarya dan berkreasi. Atau melalui smart city, pelayanan-pelayanan publik untuk masyarakat sudah dapat menjadi lebih baik lagi dan korupsi menjadi hilang perlahan-lahan. Dengan demikian inovasi dapat menjadi jawaban agar menciptakan masyarakat yang memiliki kebebasannya dalam berkarya dan adanya perangkat kebijakan yang membuat mereka bebas dari segala ancaman dan ketakutan.

Evaluasi yang dibutuhkan terhadap keberadaan kebijakan-kebijakan pembangunan dan inovasi yang ada selama ini yaitu agar bagaimana membuatnya membumi di masyarakat. Seolah-olah selama ini kebijakan-kebijakan pembangunan baik itu jangka pendek maupun jangka panjang hampir tidak melibatkan masyarakat. Masyarakat pun menjadi tidak tahu dengan nasib mereka kedepannya. Inovasi yang hadir oleh masyarakat dan untuk masyarakat rasanya menjadi kemungkinan yang seharusnya menjadi prioritas kebijakan pembangunan pemerintah saat ini.

***

(Tulisan ini pernah di muat di Harian Pikiran Rakyat, 11 November 2015. Untuk laman digitalnya bisa di-unduh: https://tandamatabdg.wordpress.com/2015/11/11/inovasi-oleh-siapa-dan-untuk-siapa/)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here