Lewat Jam Malam: Zero Tolerance For Violence

Satria Nurbambang, vokalis Pure Saturday, yang menjadi korban kekerasan oknum aparat akibat kebijakan jam malam di Kota Bandung

Aturan jam malam di Bandung “memakan” korban. Kali ini, menimpa sosok yang cukup dikenal di Kota Bandung, Satria “Iyo” Nurbambang, vokalis band indie Pure Saturday. Kasus ini bermula ketika Iyo bersama beberapa kawannya tengah berada di bar Camden. Tanpa ba-bi-bu oknum polisi yang juga datang ke dalam bar itu diduga menggunakan kekerasan untuk membubarkan pengunjung – termasuk Iyo. Polisi berdalih ada keributan di dalam bar, meski keributan terjadi di luar bar. Iyo yang sedang berada di dalam bar justru terkena pentungan polisi yang membuat dirinya mendapatkan 20 jahitan di kepala. Kasus ini pun segera menyeruak ke media sosial, terutama mempertanyakan aturan jam malam yang dianggap “membunuh” hak sipil dan juga otoritas aparat penegak hukum yang masih bertindak semau gue.

Aturan jam malam belum lama diterapkan di Kota Bandung. Aturan ini mulai berlaku untuk membatasi tempat-tempat hiburan malam sejak awal Januari silam. Aturan ini bermula ketika ada seorang Kapolsek yang ditusuk di sebuah bar di bilangan Jalan Sudirman Bandung. Sebelumnya, kekerasan demi kekerasan seperti penjambretan dan penusukan sering terjadi di malam hari. Hal itu melatarbelakangi Kepolisian Kota Bandung mengeluarkan kebijakan jam malam di Bandung. Yang perlu diklarifikasi di sini, aturan jam malam tidak dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Bandung, melainkan pihak kepolisian.

Aturan jam malam membuat Bandung seperti berada dalam posisi darurat militer. Kafe dan bar kini terpaksa tutup dibawah jam 12 malam – beberapa pengusaha kafe dan bar terpaksa merugi dan berimbas pada pemecatan pegawai. Beberapa minggu lalu, sebuah acara nonton bareng sepakbola terpaksa dibubarkan. Kemudian beberapa tongkrongan juga mengalami nasib yang sama. Paling parah, seorang teman saya yang sedang berbelanja di sebuah mini-market pada malam hari terpaksa berurusan dengan aparat. Seolah keluyuran di malam hari atau paling parah, berkumpul di malam hari akan di-cap sebagai kriminal. Bandung malam hari tidak lagi menjadi kota yang dipenuhi suka cita dan kegembiraan, melainkan dipenuhi kecemasan dan rasa takut.

Kecemasan makin menjadi. Sehari paska insiden yang terjadi pada Iyo, sebuah event BMX dan skateboard bahkan terpaksa dijaga ratusan polisi. Seperti panopticon, kini terjadi pengawasan yang cukup ketat – bahkan Kapolres Bandung mengeluarkan pernyataan jikalau berkumpul lebih dari 10 orang harus izin pada Kapolsek! Gila! Padahal aturan berserikat dan berkumpul sudah diatur konstitusi.

Keriuhan di media sosial mempertanyakan kebijakan jam malam yang dianggap terlalu dipaksakan. Aturan jam malam diterapkan spekulan hanya karena untuk menimalisir kejahatan di malam hari – Toh, logikanya kejahatan di manapun tak mengenal siang dan malam. Sebagai kota yang identik dengan wisata dan kreativitas, aturan ini justru akan membatasi event-event di malam hari. Dan hal yang paling ditakutkan, aturan jam malam malah menjadi pemicu aparat kepolisian menancapkan otoritasnya. Dan getahnya, peristiwa pemukulan yang terjadi pada Iyo akibat arogansi aparat penegak hukum.

Insiden yang terjadi pada Iyo merupakan satu dari beberapa bagian cerita dari komunitas musik di Kota Bandung menghadapi otoritas dan kekuasaan. Kejadian kelam Tragedi AACC pada tahun 2008 yang menyebabkan meninggalnya sebelas orang sempat membuat ruang gerak komunitas musik di Bandung mendapat sorotan buruk dari pihak kepolisian. Imbasnya acara-acara musik tidak mendapatkan izin penyelenggaraan. Kalaupun mendapat izin, ditebus dengan harga yang tidak semestinya. Beberapa band seperti Burgerkill, Jasad, Beside, Jeruji, dan lainnya dicekal dan masuk daftar hitam dari aparat. Kontradiksi yang membuat band macam Burgerkill justru berprestasi di luar Kota Bandung dan malah “terpenjara” di kota sendiri.

Kejadian pada waktu itu tak membuat gentar dan justru menimbulkan resistensi-resistensi dari komunitas musik. Mereka menggelar gigs di studio-studio ilegal. Bahkan sampai membuat gigs di lembah dan gunung di daerah utara Kota Bandung. Beberapa kali sempat dicium oleh aparat dan dibubarkan. Namun, semangat resistensi tak akan pernah padam. Seolah tak mengenal kata jera, gigs-gigs ilegal tanpa izin pun terus digulir dan diselenggarakan. Sekali ketahuan dan dibubarkan, seribu kali gigs diselenggarakan. Insiden itu membuat solidaritas komunitas musik di Bandung justru menjadi lebih kuat.

Begitupula insiden yang terjadi pada Iyo beserta riuhnya isu jam malam. Bandung tetap menjadi Bandung. Bandung tetap menjadi kota yang penuh gairah dan kreativitas anak mudanya. Sejarah telah mencatat, semangat anak muda ini yang tak pernah akan redam hanya karena pentungan. Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah tweet yang ditulis oleh akun resmi Pure Saturday: #ZeroToleranceForViolence.

****

Catatan dari Redaksi:

Tak lama setelah kasus Iyo pertama mencuat, linimasa Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dibanjiri pesan-pesan protes dari para netizen. Ridwan menekankan melalui akun-nya bahwa “jam malam” ini bukan kebijakan Pemkot Bandung, melainkan rekomendasi dari Kepolisian. Sedangkan menurut Peraturan Daerah, tempat hiburan dibatasi tutup jam 3 pagi.

Sayangnya, ia mengindikasikan bahwa dirinya sebagai Wali Kota tidak bisa turut campur dalam kewenangan polisi untuk memberlakukan “jam malam”. “Kita ada Muspida,” ucapnya, seperti yang kami kutip dari Kompas.com. “Yang memimpin daerah bukan hanya wali kota, ada kepolisian, ada TNI, ada kejaksaan. Kita tidak bisa mencampuri, hanya bisa mengoordinasikan. Jadi sifatnya horizontal koordinatif, bukan vertikal direktif.”

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Mashudi membantah bahwa Iyo dipukul oleh oknum polisi. “Kondisinya, semua orang di ruangan itu mabuk. Kecuali pelayan.” Terangnya, seperti kami kutip dariTribunnews.com. “Berawal dari kejadian perkelahian yang salah seorang di antaranya masuk ke dalam Camden Bar itu. Anggota masuk itu, sudah ada beberapa yang kondisinya berdarah-darah. Anggota kena pukul oleh orang-orang yang mabuk itu.”

Melalui Twitter pribadinya, Iyo balik menampik pernyataan Kapolrestabes. “1 hal yang mungkin perlu di luruskan, keterangan kapolres di televisi atau di media, adalah pernyataan yang bukan kejadian yg terjadi pada saya.” Tuturnya. “Di TKP memang ada 2 kejadian. 1 perkelahian yang ada di LUAR cafe, dan 1 lagi kejadian saya yang ada di DALAM cafe. Yang mana 2 kejadian itu adalah berbeda. Pada saat itu, saya tidak tahu menahu tentang kejadian di luar cafe. Hingga pada jam 12 malam lebih itu, kejadian menimpa saya DI DALAM cafe Camden. Korban atau kejadian ataupun pelaku yang terjadi di dalam dan di luar cafe adalah tidak berkaitan, tidak saling mengenal dan tidak berhubungan.”

Beberapa waktu lalu, Ridwan Kamil pun menyempatkan diri mampir dan bertemu dengan teman-teman Pure Saturday untuk berdialog dan menjelaskan duduk perkara. Melalui Twitter, Pure Saturday menanggapi positif kunjungan tersebut, selagi tetap menggencarkan tagar #ZeroToleranceForViolence.

Perjuangan berlanjut terus.

***

(Tulisan ini pernah dimuat di www.pamflet.or.id)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here