Regenerasi Musisi Independen di Kota Bandung

An Intimacy, salah satu gigs yang menyajikan band-band lokal generasi teranyar

Regenerasi merupakan kata kunci penting dalam keberlangsungan skena musik independen di Kota Bandung. Wacana “regenerasi” bukan muncul untuk pertamakalinya. Persoalan ini selalu muncul menghadang tatkala melihat kebutuhan terhadap musisi-musisi muda untuk diberi ruangnya berekspresi. Saat ini persoalan yang terasa di Kota Bandung adalah kebutuhan terhadap ruang untuk para musisi muda ini unjuk gigi.

Beberapa tahun lalu saya masih ingat dengan event seperti Les Voila atau Free At last yang dibuat oleh segelintir pegiat komunitas musik independen di Kota Bandung. Festival Bandung Berisik yang kini menjadi festival musik berskala nasional pun dulunya dibuat oleh segelintir komunitas musik metal di Ujungberung untuk menuangkan ekspresi bermusiknya. Event-event tersebut dibuat tanpa modal yang besar, bahkan patungan, dan tak berharap akan profit yang banyak kecuali hanya sekedar menjadi event tempat komunitas saling berinteraksi, guyub, dan menunjukkan ekspresi bermusik bersama. Semangat komunalitas yang terbangun itulah kuncinya.

Namun, persoalan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini ketika terjadinya komodifikasi pada komunitas musik independen di Kota Bandung saat ini. Persoalan yang paling terasa adalah penyelenggaran konser musik yang bersifat masal dengan sponsor besar (berupa rokok atau telco). Kebutuhan itu tentu saja memiliki dampak positif dengan laju kapital yang bertambah. Akan tetapi, pada satu sisi, akan menimbulkan persoalan di mana penyelenggaraan acara musik hanya akan bergantung pada sponsor besar dengan ruang/venue yang juga besar. Hal itu tentu menimbulkan dampak dengan kian sempitnya ruang berekspresi untuk musisi-musisi baru yang notabene membutuhkan panggung lebih banyak. Dampak lebih buruknya, akan terjadi situasi ketergantungan terhadap kapital besar sehingga bukan tidak mungkin akan mematikan ruang baru bagi musisi-musisi muda ini.

Untuk itu, semangat komunitalitas harus dikembalikan dalam mental para pegiat musik di Kota Bandung ini. Kota Bandung sedari dulu dikenal dengan semangat komunalitas yang luar biasa. Semangat kebersamaan dan gotong royong dalam penyelenggaraan acara musik berskala komunitas dan kecil pun dirasakan sudah minim belakangan ini. Entah ada kaitannya atau tidak, situasi kebergantungan terhadap kapital besar ini bisa jadi satu mata pisau yang “membunuh” semangat komunalitas itu. Membangun regenerasi, membutuhkan komitmen yang kuat. Komitmen itu bisa tumbuh jika segenap pelaku komunitas memiliki visi dan semangat yang sama. Regenerasi musisi independen membutuhkan partisipasi yang aktif dan tak terlalu kebergantungan terhadap kapital besar agar para musisi-musisi muda ini tetap berani berkarya.

Semangat komunalitas itulah yang seharusnya ditumbuhkan dalam event-event komunitas berskala kecil. Inilah ruang yang ingin diberikan kepada musisi-musisi baru untuk berekspresi. Setidaknya kehadiran event kecil seperti ini dapat menjadi pemicu agar musisi-musisi muda tak lekas berhenti berkarya, akan tetapi tetap memiliki gairah untuk berkarya sebaik-baiknya. Kehadiran ruang untuk para musisi muda ini diharapkan dapat memicu regenerasi musisi di Kota Bandung. Namun, langkah penting dalam event ini yaitu menumbuhkan kembali Bandung sebagai suatu kota dengan semangat komunalitas yang tinggi. Keberlanjutan generasi musisi ini akan tetap terpelihara jika siklus konser-konser berskala besar diimbangi dengan event kecil yang kontinyu dan tetap memelilihara semangat dan kreativitas budak ngora Bandung.

***

(Tulisan ini pernah dimuat di Kolom “Insight”, Suplemen Belia, Pikiran Rakyat, 23 September 2014)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here