Pasca-Orde Baru: Common Room dan Kehadiran Ruang Alternatif dalam Praktik Seni di Kota Bandung

Penampilan musik Karinding Attack dalam Pembukaan Nu Substance Festival 2010

Pasca Orde Baru merupakan gejala baru dalam praktik kesenian di Indonesia. Salah satunya yaitu kehadiran dari ruang alternatif di beberapa kota besar di Indonesia seperti Ruang Rupa (Jakarta), House Of Natural Fiber (Yogyakarta), dan Common Room (Bandung). Ruang alternatif ini menjadi pelaku penting dalam kesenian kontemporer di Indonesia, termasuk di Bandung. Pada periode ini Indonesia sedang berada pada transisi besar-besaran secara sosial, politik, ekonomi, dan budaya karena menuju era demokrasi dan keterbukaan informasi setelah lepas dari rezim selama 32 tahun. Kemudian pada waktu yang sama kehadiran teknologi media baru, terutama internet, juga mengubah pandangan akan pentingnya “media baru” ini dalam praktik berkesenian di Indonesia. Common Room menjadi bagian dari hadirnya gelombang baru anak-anak muda di kota-kota besar Indonesia. Secara institusional dan praktik, Common Room berada dalam wilayah diskursus yang sama dalam mengedepankan ekspresi-ekspresi seni baru. Terutama musik dan seni rupa. Sebuah visi yang oleh generasi sebelumnya sering dianggap tidak penting.

Situasi itulah yang menjadi latar belakang kemunculan Common Room Networks Foundation sebagai salah satu ruang alternatif dalam praktik seni di Kota Bandung. Didirikan sejak tahun 2001 oleh empat orang sahabat dari latar belakang pendidikan yang berbeda yaitu Gustaff H. Iskandar (seniman), R.E. Hartanto (pelukis), T. Ismail Reza (arsitek), dan Reina Wulansari (desainer grafis). Sebelumnya bernama Bandung Center For New Media Arts (BCFNMA). Pada masa itu Gustaff dkk. menganggap perlu adanya institusi yang mendukung pengembangan seni multidisiplin, terutama praktik seni yang menggunakan media dan teknologi di Bandung. Sejak saat itu mereka mulai mengorganisasi pameran, workshop, hingga publikasi di internet. Mereka juga mulai membangun jaringan dengan individu, komunitas, hingga institusi lainnya dari beragam latar belakang.

BCFNMA berubah nama menjadi Common Room Networks Foundation. Karena pada satu sisi kebutuhan ruang fisik masih diperlukan. Meski saat itu internet merupakan platform yang cukup populer dalam membangun jaringan dan koneksi dengan beberapa seniman dari luar negeri. Namun, pada konteks lokal, ternyata masih ada kebutuhan yang cukup penting dengan hadirnya ruang fisik yang menjadi jembatan antar seniman lokal maupun internasional menciptakan kultur baru dalam berkolaborasi dan berkarya. Kebutuhan ruang fisik sebagai platform berkesenian itu menjadi sangat penting di tengah terjadinya kontestasi-kontestasi ruang yang terjadi di Bandung. Maraknya ruang komersil (mall, hotel, dan minimarket) dan ruang privat (apartemen dan perumahan) yang tengah kencang dibangun. Hal berbeda terjadi sebaliknya. Ruang-ruang untuk praktik berkesenian justru hampir dikatakan tidak ada. Gedung atau auditorium untuk kegiatan kesenian tidak ada. Memang terdapat beberapa galeri seni dan museum namun itu pun sangat elit. Tak ada ruang yang mampu menampung hasrat seniman-seniman muda. Galeri-galeri pemerintah sarat birokrasi dan galeri-galeri komersil cenderung mengikuti arus pasar dan mengesampingkan inovasi dan eksperimentasi.

Kekosongan ruang seni seperti itulah yang kemudian menjadikan Common Room menjadi “hub” yang sangat penting dalam seni kontemporer di Kota Bandung selama sepuluh tahun terakhir ini. Keberadaan Common Room menjadi tempat berbagi pengetahuan sehingga tercipta inovasi-inovasi baru. Setiap harinya dipenuhi oleh anak muda-anak muda dari beragam latar belakang pendidikan. Seperti misalnya komunitas musik Openlabs yang melahirkan beberapa band/produser musik elektronik di Kota Bandung. Mereka terdiri dari anak muda-anak muda yang gandrung dengan musik elektronik. Mulai dari menggagas konser hingga membuat album kompilasi. Contoh lainnya adalah komunitas seni tradisional karinding. Sejumlah seniman asal Ujungberung, Bandung, yang lebih dikenal sebagai musisi metal mulai bereksperimentasi untuk mengenalkan alat musik tradisional karinding. Kegiatannya pun mulai beragam dari konser musik, kelas, workshop, hingga konser musik. Di tengah situasi politik dan ekonomi yang mengarah pada situasi neo-liberal justru Common Room hadir dalam semangat berkesenian yang independen dan seolah menolak pasar. Dalam menciptakan hubungan dengan komunitas seni terbangun semangat independensi yang sama untuk mengedepankan penciptaan-penciptaan berbasis eksperimentasi dan inovasi.

Festival Nu-Substance yang diselenggarakan sejak tahun 2007 sampai tahun 2013, menjadi ruang tempat komunitas-komunitas seni menciptakan kreasi-kreasi eksperimentasi dan inovasinya. Beragam kegiatan diselenggarakan mulai dari pameran, workshop, diskusi, seminar, konser musik, dan pemutaran film dokumenter. Festival ini juga selalu mengundang seniman-seniman internasional seperti Benjamin L. Aman, Jan Van Den Dobbelsteen, Danielle Lemaire, Romain Osi, Arrington de Dionyso, dan masih banyak lagi. Para seniman internasional itu hadir dan berkolaborasi dengan seniman-seniman lokal. Terdorongnya kolaborasi dan berbagi ide dan pengetahuan merupakan salah satu tujuan dari terselenggaranya Nu-Substance Festival.

Buku Nu-Substance Festival yang dieditori oleh Idhar Resmadi merangkum kegiatan festival seni, budaya, dan new media di Kota Bandung ini sejak 2007-2012

Keberadaan Common Room pun turut mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang mendukung pergerakan kreatif lokal. Bandung selama ini dikenal sebagai pusatnya musik, desain, dan fashion sejak tahun 1970-an. Keberadaan distro dan clothing lokal turut mendorong perkembangan ekonomi di Kota Bandung. Kehadiran-kehadiran produk tersebut mendorong penciptaan ekonomi berbasis ide dan kreativitas atau selama ini biasa dikenal sebagai ekonomi kreatif. Pada tingkat kebijakan, Common Room terlibat dalam pengembangan ekonomi kreatif di tingkat pemerintahan lokal maupun nasional. Karena sejak tahun 2005 hingga tahun 2011, Common Room telah melakukan penelitian dan pemetaan  terhadap para pelaku kreatif di Kota Bandung. Karena pada satu sisi, kesenian dan kebudayaan di Bandung harus ditingkatkan pada fase pengembangan ekonomi kreatif. Mendorong bagaimana terciptanya industri berbasis ide dan kreativitas bagi para pelaku seni di Bandung. Hal ini tentu saja harus didukung dengan kebijakan dari pemerintah.

Pada tingkat nasional, Common Room juga dipercaya oleh Kementerian Parisiwata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia untuk menyelenggarakan aktivasi Taman Budaya. Common Room dipercaya untuk memberi masukan untuk pengembangan kebijakan tentang Taman Budaya yang diharapkan dapat menjadi ruang bagi para seniman lokal untuk mengembangkan potensi seninya. Sejak tahun 2012 dan tahun 2013, kemudian Common Room melaksanakan penelitian dan asesmen terhadap 14 Taman Budaya di beberapa provinsi di Indonesia. Antara lain mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua. Kehadiran kesenian tradisional yang beragam dari banyak daerah merupakan potensi yang unik dan menarik. Hal ini yang selama ini dilupakan oleh pemerintah. Padahal jika mampu dikelola dengan cukup baik, Taman Budaya seharusnya mampu menjadi potensi daya tarik wisata bagi turis lokal maupun internasional.

Common Room menjadi semacam “hub” antar komunitas kreatif untuk berkolaborasi di Kota Bandung

Struktur Common Room kemudian hadir tak hanya sebatas menjadi ruang fisik semata, akan tetapi telah menjadi ruang transit dalam bentuk pengembangan ide, kreativitas, dan kebijakan publik untuk mengedepankan pengetahuan dan kolaborasi. Kehadiran ruang alternative di Kota Bandung mutlak masih diperlukan mengingat pada posisi penting kesenian kontemporer di Indonesia yang terus berkembang seiring dengan perubahan sosial yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Ruang-ruang alternative inilah yang mampu mewadahi keinginan warga kota.

Kehadiran ruang-ruang seni memang bukanlah hal yang mudah di tengah kontestasi kepentingan politik dan pasar. Ruang-ruang kota seolah dimiliki oleh mereka pemilik modal. Beragam ruang alternatif di Kota Bandung seperti Common Room, Jendela Ide, Cigondewah Public Space, Ultimus Bookstore, dan S 14 merupakan segelintir ruang-ruang alternatif yang masih bertahan. Pada satu sisi, situasi yang sama masih terjadi. Pembangunan di Kota Bandung yang kian masif memiliki dampak cukup besar terhadap warga kota. Dan sampai saat ini masih belum ada ruang yang cukup representative dengan segala aspek dan kebijakannya yang mendukung pengelolaan kesenian dan kebudayaan di kota Bandung – yang mengedepankan semangat independensi, inovasi, dan eksperimentasi. Dengan segala keterbatasannya, berbagai ruang alternatif ini mesti tetap berstrategi untuk sekedar bertahan.

***

(Tulisan ini merupakan versi Indonesia dari yang sudah diterbitkan di laman Temporary Art Review: http://temporaryartreview.com/post-new-order-common-room-and-alternative-spaces-as-an-art-practice-in-bandung/)

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here