Musik Pop Sunda dan Anak Muda

Darso, salah satu musikus pop Sunda yang melegenda (foto diambil dari Youtube)

Mampukah musik pop Sunda digemari anak muda? Pertanyaan itu yang terpikir di benak penulis dalam diskusi “Musik Pop Sunda dan Preservasi Budaya” di Aula Pikiran Rakyat, Selasa, 29 September 2015 lalu. Senang tentunya jika musik pop Sunda seperti “Bubuy Bulan”, “Es Lilin”, “Sorban Palid”, atau “Hariring Kuring” akrab di telinga anak muda. Alangkah lebih menarik jika para anak muda ini justru menjadi pelaku musik pop Sunda. Kondisi demikian membuat kita tidak khawatir karena karya tanah sendiri tetap lestari.

Membangkitkan gairah anak muda kembali mengapresiasi musik pop Sunda tidaklah mudah meski bukan mustahil. Kontestasi budaya di tengah hiruk pikuknya budaya populer asing semisal K-pop (Korean Pop), J-pop (Japanese Pop), Bollywood (sinema India), Britpop (British Pop), American pop, atau yang kini yang tengah digemari, Yesilcam (sinema Turki), menghiasi sajian media massa nasional dan masih digemari anak muda saat ini. Tantangan itu memang kian terasa berat untuk membuat musik pop Sunda menjadi industri budaya yang digemari masyarakat, terutama bagi kalangan anak muda.

Karena berkaitan dengan urusan “populer” maka mau tidak mau jika berbicara musik pop Sunda akan berbicara konteks industri. Untuk itulah diperlukan inovasi yang kreatif dan penciptaan pasar yang adaptif agar industri musik pop Sunda kembali booming. Pada tahun 1960-an, musik pop Sunda pernah mengalami booming pada era Nada Kencana dibawah pimpinan M. Yasin. Meskipun kalau dilihat dari sisi politis, masa itu dipengaruhi oleh strategi kebudayaan Soekarno yang melarang musik pop barat yang dianggapnya musik ngak-ngik-ngok sebagai bentuk kolonialisme dan imperialisme. Kebijakan serupa barangkali mustahil untuk dilakukan di era sekarang ini. Rasanya tak mungkin kita menolak kehadiran budaya asing di tengah gencarnya arus informasi dan globalisasi. Namun, strategi kebudayaan merupakan upaya yang harus ditempuh agar musik pop Sunda kembali bertaji di industri dan tetap lestari.

Strategi Kebudayaan

Dari hasil diskusi mengenai musik pop Sunda, bisa diambil kesimpulan jika peran arranger memiliki posisi penting dalam perkembangan musik pop Sunda. Peran arranger inilah yang kemudian dapat mengonversikan musik pop Sunda dalam konteks “kekinian”. Peran penting arranger misal terlihat dalam dinamika lagu “Es Lilin” yang pada tahun 1930-an dinyanyikan dengan kecapi, kemudian berubah menjadi degung, dan digubah dengan alat modern yaitu gitar dan bass elektrik pada tahun 1960-an dan dianggap “musik populer”. Konversi musik itu tak lain adalah upaya strategi kebudayaan agar musik pop Sunda kemudian menjadi lebih kaya dan luas sehingga bisa dinikmati lebih banyak orang.

Musik pop Sunda harus kita lihat sebagai bagian dari budaya yang dinamis. Hal ini senada dengan strategi kebudayaan menurut van Peursen (1988) yang melihat kebudayaan bukan sebagai bentuk yang final, melainkan akan terus berkembang. Dalam bagian strategi kebudayaan inilah, ada beberapa poin penting yang menurut penulis memiliki peran signifikan dalam industri musik pop Sunda.

Pertama, sekat-sekat yang membatasi seniman tua dan muda sudah seharusnya dihilangkan. Apalagi arranger yang ternyata memiliki peran besar dalam mengonversi musik pop Sunda. Musikus atau arranger pop Sunda senior berkolaborasi dan menjadi “guru” bagi musikus atau arranger muda. Untuk itulah batasan-batasan pakem perlu dilepaskan agar kemudian pop Sunda berkembang sehingga populer di kalangan anak muda dan tercipta inovasi-inovasi baru dari yang sudah ada. Dari transformasi pengetahuan itulah diharapkan akan muncul musik pop Sunda yang tidak alergi untuk dipadupadankan dengan musik pop yang telah ada di anak muda semisal dengan sentuhan elektronik, rock, atau jazz sekalipun.

Kedua, sajian media massa nasional memang memiliki porsi sedikit untuk mendukung pengembangan kebudayaan lokal. Setidaknya di Bandung masih sedikit beruntung karena masih adanya dukungan televisi lokal yang kooperatif dalam menayangkan musik pop Sunda. Namun, upaya melalui media massa semata tidaklah cukup. Diperlukan pula sejumlah upaya strategis melalui beragam kegiatan off-air semisal workshop, forum, dan festival untuk anak muda setingkat sekolah menengah atau mahasiswa. Tujuannya untuk mengenalkan kembali musik pop Sunda di kalangan anak muda sekarang. Workshop dan festival musik pop Sunda ini menjadi ruang baru agar terjadi regenerasi arranger musik pop Sunda. Hadirnya ruang-ruang inilah yang akan memberikan gairah anak muda menekuni musik pop Sunda karena adanya ruang mereka untuk berekspresi.

Inovasi Budaya

Kesuksesan grup musik karinding merupakan hal nyata bahwa budaya lokal bisa sukses berdampingan dengan anak muda. Peran antara budaya populer dan budaya tradisional harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh dan bukan satu hal yang mesti kita pisah-pisahkan. Keberhasilan komunitas metal Ujungberung yang kembali memopulerkan karinding, terutama di anak muda, harus dilihat sebagai upaya yang nge-pop dan berhasil menghela budaya tradisional. Pada awal kemunculannya pun musik pop Sunda sukses membuat musik Sunda (buhun) dikenal lebih luas, tak hanya dikenal sebagai musik tradisi suatu wilayah saja. Dalam konteks inovasi budaya itulah budaya populer mampu menghela kebudayaan tradisional menjadi terangkat kembali..

Inovasi budaya menghadirkan bentuk-bentuk baru dari suatu budaya sebagai hasil dari interaksi yang kompleks. Tak semata untuk pelestarian, inovasi budaya diperlukan sebagai bagian dari menciptakan pasar baru (new market) dalam konteks industri. Tantangan bagi para arranger musik pop Sunda agar menciptakan inovasi-inovasi baru itulah yang sesuai dengan “kekinian” anak muda. Sanggupkah?

***

Referensi:

Peursen, CA van. 1988. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here