Meraba Wajah Budaya Pop era 1990-an

MTV merupakan salah satu ikon budaya pop yang digemari anak muda era 1990-an (foto diambil dari crainsnewyork.com)

“There’ll be no shortgage of disaffected youth in America over the next 50 years. So, There’ll be some great rock’n’roll coming down the line”

  • Steve Fisk, Produser asal Seattle, Amerika

Saya hampir yakin kalau orang yang datang ke pameran ini setidaknya pernah mengalami masa-masa 90-an. Kalau tidak ‘hidup’ pada masa tersebut, setidaknya pernah bersentuhan dengan budaya pop era- 1990-an. Siapa yang tidak mengenal Kurt Cobain, Grunge, MTV, Beavis & Butthead, The Simpsons, Pulp Fiction, Oasis, Britpop, dan masih banyak lagi. Fenomena-fenomena itu tentu masih terekam dengan baik dalam ingatan kita – jika kita pernah bersentuhan dengan budaya pop 90-an.

Banyak orang mengatakan jika orang yang tumbuh dan besar dalam generasi budaya pop 1990-an maka ia disebut sebagai Generasi X yang dipopulerkan oleh novelis Douglas Coupland lewat karyanya yang berjudul Generation X: tales For Accelerated Culture. Generasi ini yang lahir pasca-perang dunia sekitar tahun 1960-an sampai dengan 1970-an. Generasi X lahir dari pemahaman terjadinya perubahan sosial dan politik dunia dan lalu ekonomi. Generasi ini juga lahir dari dekadensi politik, sosial, dan ekonomi. Menjadi saksi runtuhnya ekonomi Amerika pada resesi 1982 lewat kebijakan yang popular disebut Reaganomics yang kemudian melahirkan kultur alternatif atau counter-culture seperti Black Flag, Nirvana, dan REM. Yang melahirkan generasi pemuda nan apatis terhadap dunia dan orang tua mereka yang dianggap gagal mempertahankan eksistensi bersama – atau seperti Richard Linklater bilang sebagai generasi slacker.

Seperti yang kita ketahui, runtuhnya ideologi komunisme/sosialisme dengan tanda dirubuhkannya Tembok Berlin pada 1990 atau terjadinya Revolusi Beludru (Velvet Revolution) oleh Vaclav Havel di Cekoslowakia, menandakan era baru generasi budaya pop kapitalisme yang massal. Akibatnya generasi ini ‘menderita’ resiko besar karena ketidakpastian masa datang akibat kompetisi bebas di dunia yang tidak lagi bersekat dan menganut nilai absolut. Yang kemudian membuat Kurt Cobain tidak tahan dan memutuskan bunuh diri.

Dalam film-film yang besar pada tahun 1990-an seperti Pulp Fiction, Lost in Translation, Election, Fight Club, Being John Malkovich, saya melihat bagaimana filmmaker generasi 1990-an lewat sikap sinis dan skeptisnya justru lebih banyak menuangkan tema-tema otokritik terhadap budaya konsumerisme dan materialisme Amerika sendiri. Hal ini berbeda dengan generasi filmmaker sebelumnya yang lebih banyak menuangkan sisi teknologi dan ideologi, sebagai bagian dari kebijakan perang dingin melawan Rusia.

Dalam musik Britpop pun, kampanye ‘Cool Britannia’ yang dipopulerkan oleh Tony Blair untuk membangkitkan nasionalisme anak muda Inggris yang sudah terlalu banyak ‘termakan’ oleh konsumerisme dan budaya pop dari Amerika (Grunge, McDonalds, Starbucks, dll) telah berhasil menciptakan musik Britpop seperti yang kita kenal sekarang. Pada pertengahan 1990-an hampir mustahil rasanya orang-orang tidak mengenal Oasis atau Blur. Musik Britpop dengan berbagai dukungan pemerintah dan media Inggris telah berhasil menjadi hegemoni budaya ke seluruh dunia dan membuat dunia kembali terkena wabah ‘British Invasion’ Jilid kedua.

Tekanan sosial, politik, dan ekonomi yang menghantam anak muda Inggris membuat mereka kembali meraih kejayaan dan menguasai dunia lewat musik. Blur dan Oasis, misalnya, selalu berhasil merepresentasikan sebagai bagian kelas anak muda Inggris seperti tercermin dalam lirik-lirik mereka oleh berbagai media Inggris.

Novel Generation X karya Douglas Coupland yang menyoroti pertumbuhan generasi 1990-an

Dari berbagai contoh dan analisa di atas, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana tekanan politik dan ekonomi yang tinggi melahirkan kultur budaya pop era 1990-an seperti yang kita kenal dan alami. Jauh berbeda misalnya dengan Generasi Y atau Generasi Millenia yang tumbuh dan besar lewat tekanan teknologi media dan industri komersial sehingga melahirkan industri budaya pop yang lebih replikatif, generik, instant, dan dangkal. Seperti kemunculan Britney Spears atau Justin Beiber.

Maka meski agak berlebihan omongan dari Steve Fisk, seorang produser asal Seattle Amerika yang saya kutip di atas. Dia berujar bahwa Grunge dirasakannya sebagai kultur otentik terakhir yang dihasilkan Amerika – meski Grunge juga tidak orisinil-orisinil amat. Menurutnya, kultur musik itu berhenti pada era 1990-an karena memasuki era-era setelahnya hanya berupa pengulangan atau penyempurnaan dari kultur musik sebelumnya.

Budaya Pop 90’an di Indonesia

Di Indonesia sendiri, meski generalisasi generasi ini awalnya mengambil konteks masyarakat Barat, namun globalisasi membuat kondisi serupa terjadi di belahan dunia lain. Salah satunya karena dampak budaya massa yang besar sekali terjadi pada 1990-an. Jika pada generasi sebelumnya, budaya barat ‘hanya’ bisa dikonsumsi oleh orang-orang kalangan menengah ke atas, seperti anak pejabat. Dampak dari dilarangnya budaya Barat oleh Presiden Soekarno, membuat hanya sebagian kalangan yang masih bisa mendengarkan piringan hitam The Beatles atau Rolling Stones atau menonton film-film Barat setelah hanya diperbolehkannya menonton film-film Rusia. Itu pun tentu saja terbatas, ekslusif, elitis, dan sembunyi-sembunyi di rumah-rumah besar di kawasan Menteng.

Ketika kemudian masuk masa Orde Baru di mana kebijakan Barat lebih dilonggarkan, silih datang dan berganti investasi asing, termasuk juga dalam bidang industri budaya. Penanaman modal asing dalam sejumlah industri budaya, saya kira memberikan dampak signifikan yang mengubah wajah budaya pop kita semua atau lebih lebay-nya, mengubah generasi kita semua.

salah satu ilustrasi yang terdapat dalam novel Generation X karya Douglas Coupland

Budaya massa yang kian besar pada pertengahan 1990-an membuat dampak konsumsi media masyarakat Indonesia semakin berubah dan memiliki dampak signifikan. Masuknya MTV pada pertengahan 1994, major label seperti Sony Music, konsumsi film-film barat, kemudian memberikan wajah baru kepada budaya pop Indonesia. Kemudian yang terjadi bentuk lokalitas baru lebih cenderung pada barat. Tak bisa disangkal misalnya pada 1990-an kita mengalami euforia budaya massa (MTV, film, musik, komik, dsb).

Efek dari budaya massa itu kemudian melahirkan ekspresi-ekspresi budaya ‘kebarat-baratan’ seperti dari musik, fashion, film, dsb. Lahirnya musik independen misalnya, tentu melihat bagaimana kegagalan industri budaya mainstream mewakili ekspresi budaya mereka. Lewat kultur Do It Yourself (DIY) memunculkan sebuah sikap dan fenomena baru. Secara ekspresi tetaplah proses kebaratan selalu muncul dan berkembang meski lewat tatanan nilai yang berbeda. Misalnya, cover version band-band Barat yang kerap muncul pada band-band indie di 1990-an.

Salah satu fenomena menarik yang terjadi di era 90-an adalah munculnya generasi alternatif atau independen. Di Jakarta muncul sekumpulan sineas membuat film Kuldesak sebagai bagian resistensi mereka terhadap budaya pop mainstream. Di Bandung, muncul kumpulan musisi yang bergerak di jalur independen seperti Pure Saturday, Puppen, Jasad, atau Burgerkill misalnya. Sekumpulan anak muda yang memiliki energy lebih dan melihat munculnya harapan akan eksistensi bersama terhadap Indonesia. Hal itu juga didorong dengan terjadinya krisis politik dan ekonomi pada 1998 yang membuat Indonesia berada pada babak baru Generasi X ala Indonesia.

***

(Disampaikan dalam diskusi Pameran Those Good Old Days: serba-Serbi 1990-an di Galeri Kita, Bandung, pada Rabu, 30 Mei 2012) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here