Gerakan Anti-Korupsi

Kota Bandung saat menjadi kota penyelenggara festival anti-korupsi pada 2015 lalu (foto diambil dari portal.bandung.go.id)

Korupsi merupakan musuh terbesar di negeri ini karena dampak strukturalnya yang terasa sangat besar. Dampak yang terasa sangat signifikan yaitu rusaknya struktur budaya dan moral akibat korupsi..

Menurut indeks persepsi korupsi yang dikeluarkan oleh lembaga Transparancy International Indonesia (TII) pada tahun 2015 ini Indonesia menempati urutan ke-117 dari 175 negara dengan level korupsi masih tinggi. Jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya semisal Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pada survey yang sama, Transparancy Internasional Indonesia (TII) juga mengukur indeks persepsi korupsi pada level kota di Indonesia. Secara mengejutkan, Bandung ternyata berada pada posisi paling buncit di bawah kota-kota besar lainnya seperti Banjarmasin, Surabaya, Semarang, Pontianak, dan Medan yang menempati urutan lima terbaik sebagai kota yang paling bersih dari korupsi.

Ditunjuknya Bandung sebagai kota untuk penyelenggaraan Hari Anti-Korupsi Internasional oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini harus menjadi momen penting agar Bandung bisa terbebas dari korupsi. Pembenahan dari sektor birokrasi pun mutlak menjadi sorotan meski pada satu sisi hal itu dirasa belumlah cukup. Korupsi yang sudah menjadi “budaya” menjadi ancaman besar bagi kalangan anak muda yang notabene di kemudian hari kelak mereka akan menjadi pemimpin negeri ini. Untuk itulah dirasakan pentingnya gerakan-gerakan anti-korupsi yang mampu menyentuh kalangan anak muda. Gerakan anti-korupsi harus menjadi gerakan moral bersama..

Populasi anak muda di Bandung yang cukup tinggi harusnya menjadi dinamo dan katalisator sebagai agen pembangunan dan perubahan untuk Bandung yang bisa lebih bersih dari korupsi. Anak muda harus diberikan ruang dan kreativitasnya dalam menyebarkan ide-ide anti-korupsi.

Gerakan Moral

Pemberantasan korupsi yang kian masif sekarang ini seharusnya tak hanya bergantung pada pendekatan hukum semata. Tak kalah pentingnya, gerakan pemberantasan korupsi juga harus didasarkan pada gerakan moral dan budaya. Disinilah anak muda bisa mengambil peranan. Pemberantasan korupsi melalui pendekatan kesenian dan kebudayaan dapat menjadi landasan moral di kalangan anak muda. Untuk itulah diperlukannya gerakan-gerakan populis dalam memberantas korupsi.

Menurut Franz Magnis Suseno (1987), norma moral merupakan aspek norma yang penting di masyarakat selain norma-norma lainnya seperti norma hukum atau norma sopan santun. Keberanian moral berarti menunjukkan diri dalam tekad untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban. Karena kewajiban moral adalah kewajiban yang mengikat batin seseorang terlepas dari pendapat masyarakat, teman, atasan, dan kewajiban moral itu berlaku mutlak. Karena melalui moral, akan muncul dan berkembang nilai-nilai seperti kejujuran, nilai-nilai otentik (manusiawi), kebersediaan bertanggung jawab, kemandirian moral, keberanian moral, dan kerendahan hati, dan realistik dan kritis. Untuk itulah pentingnya gerakan-gerakan anti-korupsi yang dilandaskan pada aspek moral.

Gerakan pemberantasan korupsi melalui kesenian dan kebudayaan dapat menjadi pendidikan moral yang bernilai di anak muda. Dalam hal inilah gerakan anti-korupsi dapat menjadi “virus pikiran” melalui gerakan-gerakan populis. Gerakan anti-korupsi sebagai suatu gerakan moral dapat menjadi “meme” atau “virus pikiran”. Seperti yang diungkapkan oleh Richard Brodie (2009) bahwa seperangkat gagasan, pemikiran, konsep, dan ideologi dapat “menular” bak virus. Dirinya membandingkannya bagaimana suksesnya perusahaan-perusahaan multinasional melalui media massa dan iklan dapat menciptakan “virus pikiran” tersebut. Dan untuk itulah gagasan-gagasan anti-korupsi melalui pendekatan seni dan budaya diharapkan dapat menular atau mereplikasi pada pikiran-pikiran anak muda untuk menjunjung moralitas dan turut bersama memberantas korupsi.

Selama ini KPK memang terlihat aktif merangkul sejumlah seniman dan budayawan untuk membentuk gerakan moral bersama dalam memberantas korupsi. Kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan berbasis kreativitas seperti konser musik, pameran seni, film indie, dan album kompilasi diharapkan dapat menciptakan “virus pikiran” ini menular ke kalangan anak muda. Seperti yang terjadi di Bandung, dalam memperingati Hari Anti-Korupsi ini, sejumlah kegiatan seni dan budaya seperti rilisnya lagu anti-korupsi, pameran seni, dan konser musik menjadi medium untuk menciptakan “virus-virus” anti-korupsi yang diharapkan dapat “menjangkiti” pikiran anak muda di kota ini. Harapannya gerakan anti-korupsi menjadi gerakan populer di anak muda kedepannya.

Namun, seharusnya momen peringatan ini tak hanya berlangsung dalam satu waktu semata atau hanya menjadi peringatan sekali dalam setahun saja. Perjuangan melawan korupsi merupakan perjuangan yang tak mengenal batas waktu. Menjamurnya potensi anak muda dan seniman di Kota Bandung harus menjadi kekuatan baru yang lebih partisipatif dalam membangun gerakan moral anti-korupsi ini menjadi berkelanjutan. Tersebarnya komunitas-komunitas kreatif yang lebih cair dan terbuka juga diharapkan dapat menjadi figur yang berperan aktif dalam pemberantasan korupsi melalui beragam karya seni dan inovasi untuk menyebarkan “virus” anti-korupsi sehingga “menularkan” lebih banyak orang lagi. Setelah terbangunnya gerakan moral bersama untuk memberantas korupsi diharapkan bahwa perjuangan melawan korupsi merupakan perjuangan kita bersama tanpa mengenal waktu.

***

(Artikel ini diterbitkan di Kolom Opini, Pikiran Rakyat, 11 Desember 2015) 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here