Menciptakan Bandung Kota Musik

Penampilan lawas Burgerkill dari Festival Bandung Berisik 2 yang digelar pada pertengahan 1990-an (foto diambil dari http://metalcoreporations.blogspot.co.id/2013/02/sejarah-bandung-underground.html)

Pembangunan kebudayaan seharusnya menjadi aspek penting ketika akan mengedepankan industri atau ekonomi berbasis kreativitas. Tanpa dukungan kebijakan-kebijakan pembangunan yang mengarah pada pengembangan seni dan budaya maka mustahil pembangunan itu sendiri akan menciptakan arah kebudayaan yang jelas. Salah satu seni dan budaya yang memiliki akar cukup kuat di Kota Bandung salah satunya yaitu sektor musik. Tak bisa disangkal lagi jika banyak yang menyebut Kota Bandung sebagai barometer industri musik nasional.

Sejak tahun 1970-an, banyak talenta-talenta Kota Kembang yang sukses berkiprah di kancah musik nasional maupun internasional. Faktor historis memang memiliki pengaruh akan pencitraan yang sangat baik tentang suatu kota. Banyaknya anak muda merupakan kelebihan dari kota ini sehingga melahirkan banyak talenta-talenta mumpuni yang terus lahir sebagai produser maupun musisi. Maraknya pergelaran musik berskala lokal maupun nasional yang terjadi hampir di setiap minggunya juga menjadi indikator penting betapa musik menjadi denyut nadi yang menghidupkan kota ini. Faktor itulah yang membuat Bandung cukup strategis jika mengedepankan sektor musik sebagai salah satu bidang yang harus dikembangkan dalam menciptakan nilai ekonomik, sosial, dan budaya.

Kota Musik

Menurut kajian yang dilakukan oleh IFPI & Music Canada dalam The Mastering of A Music City, definisi mengenai “Kota Musik” secara sederhana adalah sebuah kota yang menjadikan musik sebagai potensi ekonomik, kewirausahaan, budaya, dan sosial. Keuntungan menjadikan “Kota Musik” akan memiliki beberapa dampak positif, antara lain: (1) Mendatangkan turis, (2) Menciptakan peluang entrepreneurship (kewirausahaan), dan (3) Memperkuat citra kota (city branding). Berkaca pada Kota Liverpool yang dinobatkan sebagai “Kota Musik” oleh UNESCO atas dasar keberadaan komunitas musik, wisata musik, pendidikan musik, dan kemampuan kota di pinggir laut itu melahirkan segudang talenta berbakat di bidang musik (Pikiran Rakyat, 14/12/2015). Kota tempat lahirnya The Beatles itu menjadi kota kedua di Inggris Raya yang meraih status sama selain Kota Glasgow.

Kota Bandung juga memiliki potensi yang sama. Kota ini memiliki beragam komunitas musik yang tersebar dengan ragam jenis musiknya, kemudian memiliki daya tarik sejarah dan talenta-talenta berbakat yang terus menghiasi industri musik nasional, bahkan beberapa nama sudah mulai merambah eksistensinya menuju pentas internasional. Dari sektor musik ini saja di Kota Bandung tercipta jejaring sektor kreatif lainnya seperti merchandise, event organizer, hingga desainer sehingga akan terhela berbagai sektor-sektor kreatif lainnya yang saling menopang satu sama lain.

Hanya saja hampir selama ini pengembangan musik di Kota Bandung berjalan organik tanpa dukungan riil dari pemerintah. Minimnya fasilitas infrastruktur seni dan budaya yang mumpuni merupakan contoh. Selama ini pergelaran-pergelaran musik juga lebih cenderung diadakan di lapangan terbuka, convention hall, atau taman kota. Hal inilah yang menjadi sorotan penulis Andre Vltchek ketika mengkritik Bandung menjadi kota kreatif tapi menjadi paradoks ketika  infrastruktur pendukungnya bisa dibilang terhitung minim (Kompas, 30/1/2016).

Rencana Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghadirkan infrastruktur fisik berupa gedung konser yang megah memang patut diapresiasi. Namun, pengembangan sektor musik seharusnya juga memikirkan aspek sosialnya. Karena selama ini daya dukung sosial ini yang lebih menjadi dinamo dalam mengembangkan komunitas musik.

Pendidikan Musik

Aspek sosial yang patut menjadi perhatian adalah pendidikan musik. Karena Kota Bandung memiliki keuntungan banyaknya tempat-tempat pendidikan musik baik itu bersifat formal di perguruan tinggi maupun non-formal berupa tempat les musik hingga komunitas-komunitas musik. Keberadaan institusi formal di perguruan tinggi musik seperti ISBI, Unpas, STMB, unit musik mahasiswa di berbagai kampus hingga sekolah musik non-formal dan komunitas musik yang cenderung menjadi tulang punggung pengembangan sektor musik di Kota Bandung selama ini.

Orientasi kebijakan pembangunan kebudayaan pada sektor “hulu” atau akses terhadap pengetahuan inilah yang seharusnya menjadi kunci menjadikan “Kota Musik” di Kota Bandung dapat melahirkan kembali seniman atau musisi yang terus berinovasi dan berkarya. Kebijakan-kebijakan yang lahir harus mampu menjamin agar kondusivitas para musisi-musisi ini untuk terus bereksplorasi. Talenta-talenta lokal inilah yang harus dapat menjadi perhatian.

Tak kalah penting adalah mengakomodasi talenta-talenta musik yang tak terhitung jumlahnya di Kota Bandung ini. Memberikan ruang-ruang untuk mereka tak sebatas pada aspek infrastruktur fisik semata, tapi perlu juga dukungan kebijakan-kebijakan yang mendorong terjadinya akses pengetahuan, kemudahan perizinan, jaminan berkarya dan berekspresi, beasiswa pendidikan musik, hingga promosi internasional. Pendidikan musik yang tak hanya dibekali seputar kemampuan teknis semata. Tapi juga pendidikan mengenai seluk-beluk seputar industri musik nasional hingga internasional. Karena selama ini hampir pendidikan musik yang didapat sebatas “learning by doing”. Untuk itu penting juga akan konferensi atau workshop internasional yang menghadirkan mentor-mentor dari para praktisi musik kelas dunia. Sehingga kebijakan-kebijakan yang ada kemudian terintegrasi dengan kebutuhan para praktisi musik dan diharapkan menciptakan pembangunan kebudayaan dari sektor musik yang memiliki dampak riil terhadap masyarakat.

***

(Tulisan ini pernah dimuat di Opini Pikiran Rakyat, 17 Mei 2016) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here