Radio GMR Bandung: Semangat Zaman Musik Rock

Poster reuni Radio GMR setelah 13 tahun (sumber foto: rioticrecords.com)

“Its 1966, the greatest era for rock’n’roll. But BBC radio, play less than 45 minutes of pop music a day. By the summer of 1967 the golden age of pirate radio was over, but their big dream never died. These are now 299 music stations across UK. They played rock and pop all day and all of the night. And as for rock’n’roll, well it’s had a pretty good 40 years” (The Boat That Rocked, 2009)

Film komedi satir Airheads yang diperankan Brendan Fraser, Steve Buscemi, dan Adam Sandler ini menceritakan sulitnya menjadi musisi rock yang diterima oleh industri radio. Film ini bercerita tentang ketiga rocker pecundang yang berusaha membajak sebuah stasiun radio agar musik mereka diputar di udara dan didengarkan orang banyak. Meski penjualan film ini termasuk rendah dan masuk dalam kategori B-movie, film ini mendapat status cult oleh para rocker dan metalheads di era 90-an.

Film ini menceritakan simbiosis mutualisma penting antara radio dengan industri musik. Peran radio dalam industri musik tentu memiliki efek luar biasa. Bahkan pertemuan-pertemuan antara para music director dan para petinggi label rekaman diyakini menentukan laju industri musik (terutama di Indonesia) yang masih menyembah statistika-statistika chart dan rating.

Nasib musik rock dalam percaturan industri radio memang masih minim atau kalau boleh dibilang mengkhawatirkan. Boleh jadi nasib radio rock (yah, radio yang benar-benar berformat musik rock atau didominasi musik rock) memang tenggelam ke dasar laut seperti metafora yang digambarkan dalam adega n penutup film The Boat That Rocked, diperankan oleh Phillips Seymour Hoffman (yah, tokoh yang beruntung memerankan Lester Bangs di Almost Famous), yang bercerita tentang nasib pirate rock’n’roll radio di Inggris pada pertengahan 1960-an.

Keberadaan radio rock atau radio yang berformat musik keras rock/metal di Indonesia dewasa ini kalah oleh radio-radio mapan yang lebih aman memutar format-format pop melayu,Top 40, bahkan dangdut. Maka tak aneh, keberadaan radio rock di Indonesia sungguhlah sulit.

Kalau pun ada, mengutip istilah Bono U2, hanyalah radio remaja yang memutarkan musik rock. Maka tak aneh jika musik-musik keras terselip dalam acara-acara “menggelikan” semisal Chart Indie, Top Chart Indie Ten, dan sebagainya. Kalau pun ada band rock, biasanya merupakan band rock yang sudah mempunyai massa semisal The S.I.G.I.T. atau Seringai yang seringkali mendapat high-rotation di radio-radio.

Keengganan media radio untuk memutarkan musik rock notabene memang cerminan dari betapa tidak demokratisnya industri musik Indonesia. Menurut saya, media elektronik seperti radio apalagi televisi merupakan ibu tiri yang tidak demokratis terhadap musik rock. Persoalan rating memang masih menjadi salah satu penyebab musik rock yang terbilang segmented ini tidak bisa meraih pasar atau keuntungan margin profit. Klasik, memang.

Padahal berbicara musik rock, menjadi bagian penting untuk memantau atau memetakan peta politik dan budaya yang terjadi di kalangan anak muda Indonesia. Rock sebagai bagian dari budaya barat tentu berbicara banyak terhadap proses keberbudayaan negara ini. Dari ngak-ngik-ngok, era MTV, hingga festival rock Java Rockinland yang selalu disambut antusias.

Membicarakan musik rock dan peran radio tentu tak bisa dilepaskan dari satu nama yang begitu influensial dalam menyebarkan musik rock di Tanah Air yaitu radio GMR di Bandung. Sebagai sebuah radio peran GMR memang begitu penting sebagai propaganda musik rock menjadi masif di Bandung dan Indonesia. Keberanian mereka untuk mendobrak batasan-batasan radio konvensional patut diacungi jempol. Band-band rock Tanah Air macam Rotor, Roxx, Suckerhead, Pas Band, Puppen, Jasad, U’Camp, Jamrud, tak bisa dilepaskan dari keberadaan GMR dalam karir bermusik mereka.

Dalam perjalanannya, radio GMR merupakan penanda zaman tentang pengaruh musik rock berkembang pesat di Indonesia. Sebagai media yang berkembang pada era orde baru hingga orde reformasi, GMR bisa kita lihat bagaimana fenomena musik rock sejak awal kedatangannya ke Indonesia hingga pengaruhnya yang kian masif sekarang ini. Dari latar belakang politis dan budaya, GMR bagi saya memegang peranan penting untuk membentuk rock menjadi suatu hegemoni pada masa jayanya di tahun 90-an. Bahkan para rocker asal Bandung pada masa itu memegang teguh jargon, “lain budak metal Bandung mun teu ngadengekeun GMR” (bukan anak metal Bandung kalau tidak mendengarkan GMR terj.). Maka GMR adalah sebuah dokumentasi zaman.

Periode 1967-1991: Kebijakan politik anti-barat hingga era stasiun komersial

Pengaruh musik rock menyebar pesat di Indonesia tak bisa dilepaskan dari beberapa kebijakan politik yang terjadi di Indonesia pada pergeseran antara era Orde Lama dan Orde Baru. Radio GMR yang berdiri pada masa Orde Baru, merupakan sebuah katarsis terhadap gejala budaya asing yang sempat dilarang dan kontroversial pada masa Orde Lama era pemerintahan Soekarno.

Pada masa vivere pericoloso (the year of living dangerously), pidato Soekarno pada 17 Agustus 1959 atau dikenal dengan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, menyerukan sebuah sikap melindungi kebudayaan nasional dari pengaruh asing dan melahirkan kebijakan anti-barat yang begitu ketat yang menyebut musik rock sebagai imperialisme baru dari Barat. Maka musik rock ala barat adalah sebuah hal yang dilarang. Koes Plus ditangkap karena dianggap sebagai antek imperialisme, pemuda gondrong menjadi sasaran penertiban, nama band atau musisi berbahasa Inggris dipaksa berubah, dan begitu pula dengan dunia penyiaran radio yang berhenti menyiarkan musik berbau barat.

Memasuki era orde baru industri musik Indonesia mengalami kemajuan karena melonggarnya kebijakan anti-barat setelah diruntuhkannya komunisme. Termasuk dunia penyiaran yang bebas untuk menyiarkan musik-musik berbau barat, seperti musik rock.

Pada masa ini, tepatnya tahun 1967, Erwin Sitompul mendirikan sebuah stasiun radio amatir bernama YG Station (Young Generation) dengan frekuensi 1368 Khz/Am. Nama berbahasa Inggris yang tentu saja haram di era Soekarno. YG juga seperti merayakan kebebasannya mengonsumsi musik barat dengan menggelar konser yang khusus meng-cover lagu-lagu The Rolling Stones dan band asal Jakarta Acid Speed Band sebagai penampil utamanya dan dihadiri oleh para Stone Lovers (fansnya The Rolling Stones yang dibentuk YG) – Di era Soekarno tentu ia bakal geram.

Dalam perkembangannya, YG Station yang merupakan cikal bakal dari radio GMR memiliki pendengar yang sangat banyak di kalangan anak muda apalagi musik yang ditawarkan adalah musik rock yang di era itu menandai lahirnya anak muda baby boomers. Bergabungnya anggota band the Rollies yang merupakan salah satu grup band rock di Bandung banyak mempengaruhi corak musik yang disajikan YG.

Hal itu ditandai dengan kedekatan sang pemilik radio Erwin Sitompul dengan salah satu personil the Rollies yaitu Iwan Rollies untuk memenuhi koleksi perpustakaan lagu-lagu rock buat GMR.Keduanya sama-sama pecinta berat musik blues. Pada perjalanannya, Young Generation pun banyak mengenalkan musisi Kota Bandung, seperti The Rollies, Deddy Stanzah, Freedom Of Rhapsodia, Superkid, Giant Step dan Shark Move.

Ada dua momen penting yang menandai perjalanan YG yaitu  pertama, pada tahun 1971 ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang mengharuskan seluruh stasiun amatir untuk berbadan hukum. YG membentuk badan hukum dengan nama PT Generasi Muda. Bentuk badan hukum ini mengawali hadirnya era stasiun komersial atau swasta di Indonesia.

Momen penting kedua ketika turunnya izin dari pemerintah untuk berganti ke jalur FM (Frekuensi Modulasi). Pada 1 Januari 1991, Radio Generasi Muda mulai berjalan penuh secara komersial di jalur FM dengan frekuensi 104.4 FM. Hal ini merupakan realisasi dari perkembangan teknologi dan keinginan pendengar agar kualitas suara yang dihasilkan lebih baik. Bahkan agar YG senantiasa berpindah ke jalur FM, sang pemilik Erwin Sitompul rela menjual mobil BMW kesayangannya. Sebuah usaha keras, cita-cita, dan idealisme yang tinggi hanya demi hasratnya terhadap musik rock berkembang besar di Bandung.

Syarat-syarat waktu itu untuk berada di jalur FM yaitu diharuskannya sebuah radio memiliki format dan segmen dan nama radio mesti berbahasa Indonesia. Maka 1 Januari 1991 nama YG pun berganti menjadi GMR (Generasi Muda Radio) dan format yang dipilih adalah format Rock Station (blues, slow rock, classic rock, art/progressive rock, hard rock, heavy metal, speed metal, thrash metal hingga death metal) dengan fokus pada segmentasi anak muda yang notabene memiliki gairah terbesar terhadap musik rock. Pada saat itu di Bandung belum ada radio yang mengisi format musik rock. GMR merupakan yang pertama di Bandung bahkan di Indonesia. Stasiun ID yang diusung, “104.4 FM The Best Rock Station In Bandung” 

Periode 1991-2003: Kematian Samuel Marudut, Kontroversi Mega, hingga Kematian GMR

Periode 1990-an  menandai periode penting dalam industri budaya Tanah Air. Dalam era ini, serbuan kapitalisasi budaya mulai gencar setelah pemerintah Soeharto mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan industri budaya yang  lebih longgar bagi pemilik modal. Hal ini ditandai dengan mulai tayangnya televisi swasta, masuknya MTV ke Indonesia, bahkan major label internasional mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Kedatangan Bill Clinton pada tahun 1994 yang menginginkan Indonesia membuka pasar musiknya bagi investasi asing menjadi salah satu momen penting akses musik barat menjadi mudah diterima di Indonesia.

Periode ini merupakan sebuah periode penting yang menandai perkembangan musik rock di Bandung. Setelah akses musik barat ke Indonesia menjadi mudah, GMR menjadi salah satu radio (atau malah media satu-satunya) yang menjadi referensi musik rock bagi anak muda Bandung. Mudahnya musik barat masuk ke Indonesia menjadi katarsis baru.

Program-program GMR

Pada era sebelumnya, misalnya tahun 1970-1980an, referensi musik barat “hanya” dimiliki oleh segelintir orang yang memiliki akses ke luar negeri. Dari media masyarakat hanya disuguhkan Album Minggu Kita-nya TVRI. GMR bagi saya menandai era penting bagi referensi musik rock yang saat itu benar-benar terbatas. Radio ini berani memutarkan album terbaru Metallica, Napalm Death, Carcass, Sepultura dalam program unggulannya.

Program seperti Kharisma Persada, 439942, Ring My Bell, Tembang Pribumi, Double R, Sunday Rock, Stone Program dan tentunya Sik Sikadalah beberapa program yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh parametalhead di Bandung. Salah satu hal yang biasa dilakukan anak muda untuk mendapatkan lagu-lagu metal pada masa itu adalah dengan merekamnya pada kaset kosong.

Acara Double R dan Sik Sik adalah dua acara yang notabene bagi saya cukup unik dan penting dalam memberikan edukasi musik. GMR memberikan pengetahuan pada kita betapa pentingnya memberikan integritas dan edukasi kepada musik yang kita cintai. Bukan hanya bersifat mendengar musik di radio sebagai leisure, akan tetapi menumbuhkan semacam kondisi mental yang apresiatif dan produktif — Banyak band rock/metal di Bandung yang terbentuk setelah pendirinya terpengaruh saat mendengarkan musik rock di GMR.

Pada acara Double R, pendengar diharuskan untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan penyiar. Setiap jawaban yang benar akan mendapat poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan setiap minggu untuk mendapatkan hadiah yang boleh dibilang tak seberapa untuk zaman sekarang, poster dan kaset. Pertanyaannya pun bukan sembarang pertanyaan. Tetapi menebak lagu yang diputar oleh penyiar. Kadang lagu yang diputar hanya bagian reff atau akhirnya saja, yang bisa membuat pendengar bingung. Ade Muir (bassis Pure Saturday) adalah salah satu orang yang sering menjadi pemenang kuis “Double R”.

Lain lagi dengan Sik Sik. Konsepnya adalah me-request lagu dan meminta tiga dukungan kepada pendengar lain agar lagu tersebut diputarkan. Uniknya, pendengar ketiga yang merequest lagu yang sama tersebut diharuskan menjawab pertanyaan seputar band yang di-requestnya,  bercerita fasih seputar band itu, dan menebak potongan lagunya. Semua proses berbelit itu hanya demi imbalan agar lagunya diputar –sebuah proses yang mustahil di zaman sekarang di mana mendengarkan musik semudah mendapatkan pisang goreng. Yang paling banyak lagunya diputar akan mendapat gelar “Sarjana Sik Sik”.

 

Zine Generaxi yang menjadi buletin/media dari radio GMR

Promo band-band lokal

Perjalanan GMR semakin meluas sebagai satu-satunya radio rock di Indonesia. Tak hanya mengangkat musisi Bandung, banyak musisi-musisi rock di luar Bandung yang mempromosikan musiknya melalui GMR. Perannya semakin penting dalam menumbuhkan musik rock sebagai bagian penting dalam industri musik Indonesia yang era itu dibombardir oleh musik-musik alternatif seperti Nugie atau pop-nya Kla Project.

Rotor adalah band thrash metal pertama Indonesia yang merilis album dengan nama Behind the 8th Ball. Sebelumnya demo lagu itu sudah lebih dulu diputar di GMR. Kemudian debut album rock asal Bandung U’Camp,Bayangan, yang diproduseri oleh Ian Antono (gitaris Godbless) dan debut album Rudal, Slitting The World, juga sama-sama demo-demo album tersebut sebelumnya dipromosikan terlebih dahulu oleh GMR. Bahkan mulai dari jawara thrash metal asal Jakarta Sucker Head hingga jagoan-jagoan indie generasi awal macam Pas Band, Puppen, dan Pure Saturday adalah band-band yang “berhasil” dipromosikan oleh GMR.

Peran Samuel Marudut

Keberadaan awal karir Pas Band sebagai pendobrak sikap independen dan anti-kemapanan tentu tak bisa dilepaskan dari peran penting GMR. Pas Band melakukan pre-recording di GMR pada bulan September dan Oktober 1993, berkat campur tangan music director GMR, (alm) Samuel Marudut, dan hasilnya Pas Band merilis debut EP album 4 Through The Sap yang diyakini sebagai album independen pertama di Indonesia.

Awalnya Pas Band sempat frutrasi karena banyak ditolak label rekaman sebelum Samuel Marudut meyakinkan mereka untuk merilis album secara mandiri. Album ini pula yang memecut band-band indie untuk melakukan hal serup,a seperti pada Puppen dan Pure Saturday. Saking berpengaruhnya, 4 Through The Sap masuk ke dalam urutan 9 dari150 album berpengaruh versi Rolling Stone Indonesia.

Era tahun 1995-1996 adalah masa kejayaan musik underground. Masa itu band-band rock/metal mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan itu terlihat dari antusiasme demo band yang dikirim ke GMR. Untuk mengakalinya, GMR membuat acara Bedah Demo dan Demo Live at Studio yang juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan acara ulang tahun ke-enam GMR. Acara Bedah Demo (Bedah Musik Tak Berdarah) berawal dari kepedulian GMR terhadap grup-grup band dengan jumlah cukup banyak yang belum sempat membuat demo atau kesulitan menyalurkan demonya. Dan hasil yang terkumpul sangat signifikan, yaitu 108 lagu dari 84 grup band yang diterima disiarkan langsung di GMR kemudian diulas dan dianalisis. GMR menetapkan the best five yaitu “Morsa“, “Kid“, “Jasad“, “Alternative“, dan “Cakra“.

Demo Live at Studio menjadi tindak lanjut acara Bedah Demo. Selain mengirimkan demo tapenya, grup-grup musik tersebut mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya secara langsung dalam acara ini. Sebelas band metal terdaftar sebagai pengisi acara tersebut yaitu Cakra, Jasad, Kid, Sacreligious, Leppeace, Tympanic Membrance, Existensi, Fatal Death, Noise Damage, The Seconds, dan Fayes. Lima grup yang disebutkan pertama merupakan nominator utama dalam acara Bedah Demo.

Tahun 1996 merupakan tahun dimana band-band lokal mulai memperlihatkan eksistensinya dalam komunitas musik di Bandung. Ekspresi komunitas musik semakin terlihat dengan banyaknya rilisan yang menandai komunitas musik underground kian menggeliat. Band-band metal lokal macam Jasad, Sacrilegious, Noise Damage, Rotten To The Core, Closeminded, Insulin Coma, Koil, Hellburger, Sonic Torment, Piece Of Cake, Pimple adalah  contoh dari band-band indie yang berhasil merilis album.

Selain dari Bandung, Tengkorak dari Jakarta, Rotten Corpse dari Malang dan Slow Death dari Surabaya adalah band underground yang dipromosikan oleh GMR. Era itu merupakan era dimana komunitas indie di Bandung sangat beragam keberadaannya dan hanya GMR yang bisa memutarkan lagu-lagu mereka.

Perjalanan emas GMR dalam menorehkan tinta emas ke dalam semangat zaman musik rock di Indonesia pada dekade 1990-an bukan berarti dicapai tanpa ada jalan terjal. Tanggal 27 Maret 1993, bertepatan dengan Bulan Ramadhan, pendiri sekaligus pemilik GMR, Erwin Sitompul tutup usia. Untuk meneruskan perjalanan GMR, akhirnya istrinya, Ida Sitompul, menggantikan posisi suaminya sebagai direktur.

Pada tanggal 15 Oktober 1994 Samuel Marudut menghembuskan nafas terakhir di kediaman Krisna ‘Sucker Head’ di daerah Kalibata Jakarta. Ia kemudian dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu Bandung. Ironisnya, Samuel Marudut meninggal ketika sedang mendengarkan lagu “The End” milik The Doors. Itu mengingatkan kita pada satu hal, Samuel Marudut meninggal dunia di usia yang relatif muda, 24 tahun mengingatkan kita akan sosok Jim Morrison – vokalis The Doors, Jim Morrison meninggal di usia 27 tahun.

Nama besar GMR juga sempat tercoreng di mata komunitas punk di Bandung. Kejadian ini bermula dari seorang penyiar GMR yang mencibir musik punk. Ceritanya ada seorang pendengar yang meminta lagu Runtah (nama salah satu band punk asal Bandung), namun penyiar yang bernama Mega itu justru tidak memutarkan request lagu Runtah dan malah mencibir musik Punk sebagai musik sampah. Kejadian ini sempat menjadi kontroversi di kalangan komunitas underground Bandung.

Untuk menentang penyiar radio GMR yang fasis, kemarahan Runtah diteriakkan dalam lirik lagu “Mega” dalam album Punx’N’Skins:

“Modar sia anjing/ Aya hiji penyiar anu ngaranna Mega/ Penyiar GMR / Anu ngaranna Mega / si eta tai pisan/ Anu ngaranna Mega/ Si eta eweuh kanyaho/ Anu ngaranna Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing .. Mega.. Mega…. Mega… modar sia goblog/ Mega… Mega… Modar siah tai/ Eta penyiar goblog/ Anu ngaranna Mega/ Eta penyiar tai/ Anu ngaranna mega/ Goblog eweuh kanyaho/ Anu ngaranna mega/ Wani gelut jeung aing/ Anu ngaranna mega/ Mega.. Mega… Mega… modar sia anjing/ Modar sia goblog/ Modar siah tai//” (Mati sia anjing/ ada satu penyiar bernama Mega/ penyiar GMR/ yang bernama Mega/ dia tai banget/ yang namanya Mega/ dia gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ Mega.. Mega… Mega… / Mega anjing… Mega.. Mega.. Mega.. Mega.. Mati lu goblog/ Mega.. Mega… Mega… Mati lu tai/ Dia penyiar goblog/ yang namanya Mega/ dia penyiar tai/ yang namanya Mega/ goblog gak punya pengetahuan/ yang namanya Mega/ berani berantem ama gue/ yang namanya Mega/ Mega… mega.. Mega.. mati lua anjing/ mati lu goblog/ mati lu tai/)

Bagi saya ekspresi kemarahan Runtah adalah sebuah gairah atau kesadaran kolektif tentang betapa pentingnya integritas dan edukasi dalam musik bagi individu yang menyukai musik.

Saking berpengaruhnya GMR masa itu, ekspresi musikal bisa terlahir dari kekecewaan yang berubah menjadi potensi kreativitas yang tinggi.

Kejadian tragis juga sempat mewarnai perjalanan GMR ketika tower pemancar mereka jatuh akibat hujan deras disertai angin kencang hingga menimpa salah satu rumah di kawasan Cipaganti. Selama satu bulan GMR tidak mengudara dikarenakan adanya perbaikan dan pergantian tower pemancar.

Waktu itu beredar gosip bahwa hal itu adalah kutukan tuhan – Maklum musik metal yang diputar oleh GMR dianggap ‘musik setan’. Ketika sebuah majalah muslim menulis Pure Saturday sebagai pemuja setan, karena singkatan “PS” yang diartikan sebagai “Pemuja Setan”.

Akhir riwayat GMR

Menjelang awal milenium GMR mengalami banyak dinamika. Mulai dari keluarnya penyiar-penyiar mereka hingga manajemen yang beralih dari Ida Sitompul ke Gunung Sewu Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, pendidikan, dan ekspor-impor pisang ini mulai mengambil alih. Peralihan manajemen ini dianggap sebagai awal pemicu kemunduran GMR. Dari tahun 1997 hingga 2000 format musik GMR berubah 70%, darirock station ke classic rock, di mana lagu-lagu yang diputar dari era tahun 60an hingga 80an. Sementara, metal dan extreme metal ditiadakan karena permintaan dari manajemen baru.

Pergantian format musik menjadi classic rock membuat GMR kehilangan banyak pendengar. Ketika berformat musik rock pada awal 1990 sampai 1997, pendengar GMR mencapai 180 ribu, akan tetapi ketika beralih menjadi classic rock penyusutan pendengar menjadi drastis, dengan hanya 20 ribu pendengar. Tiga tahun berada di format classic rock, tepat Juli 2000 format GMR beralih kembali ke rock station. GMR kembali memutarkan metal.

Tiga tahun bertahan dengan format rock station, 11 September 2003 GMR harus berakhir dikarenakan Gunung Sewu Group memindahkan manajemen-nya ke Femina Group yang mengharuskan format beralih kefemale station dan nama radio pun berubah menjadi U FM.

GMR adalah semangat zaman yang tak boleh dilupakan ketika berbicara musik rock/metal di Indonesia. Dari hiruk pikuk, jatuh-bangun, GMR dibangun dari semangat idealisme, fanatisme, dan kecintaan pada musik rock itu sendiri. Para penyiar yang dibangun dengan idealisme dan fanatisme yang sinergis dengan para pendengar yang fanatis itu sendiri (ingat kasus band Runtah di atas).

GMR kini sudah tiada. Akses terhadap industri radio bagi para musisi rock teru tama yang berada di ranah musik metal/death metal adalah hal yang utopis. Kurang lebih sebulan yang lalu, genap awal September, sebuah program musik rock di sebuah radio ternama di Indonesia yang digawangi kawan saya dari band Rocket Rockers dan Alone At Last resmi ditutup dan hanya menerima relay dari Jakarta saja.

Ini menambah daftar kelam program-program musik rock yang kian tenggelam. Ini juga menjadi cerminan ketika hampir empat tahun lalu saat saya mengurus program musik rock, selalu bertabrakan dengan pihak manajemen. Rasanya, membuat radio rock (atau minimal program musik rock) haruslah dibangun dari semangat fanatisme musik yang tinggi, bukan dari persoalan cocok-mencocokkan harga – seperti pemilik GMR Erwin Sitompul yang rela berkorban demi GMR yang bermula dibikin sebatas hobi semata.

Saya sebenarnya berharap banyak akan keberadaan radio-radio streaming dan podcast yang mulai bermunculan sebagai alternatif dari keberadaan industri radio. Ini bisa menjadi semangat zaman baru. Agar musik rock berjaya di udara, dan tak lantas tenggelam. Saya melihatnya seperti Phillip Seymour Hoffman dalam film The Boat That Rocked, sebuah metafora agar memiliki integritas dan fanatisme yang tinggi terhadap musik rock, sambil berteriak lantang dan mengepalkan tangan: “Rock’N’Roll!”

Saya akan menutup tulisan ini dengan “Tips Mendengar Radio” yang diambil dari buletin GMR Generaxi edisi 2 di tahun 1996:

Pilihlah stasiun radio yang kamu sukai.. Jangan yang kamu benci. Kalo nggak mau, ya nggak usah!”(SELESAI)

***

(Dimuat di situs Jakartabeat.net, Pada September 2010) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here