Hubungan Musik dan Manusia: Dari Bios ke Zoos

(Sumber foto: http://www.storyofmathematics.com/greek_pythagoras.html)

Pengantar:

Musik tak bisa dilepaskan dari dunia manusia. Sepanjang peradaban manusia, sejak zaman Yunani Kuno hingga kapitalisme global saat ini, musik telah menjadi cerminan masyarakatnya seperti yang diungkapkan oleh Adorno. Namun, yang terjadi justru kini kita terjebak pada kondisi ketika musik hanya menjadi komoditas ekonomi semata. Telah terjadi degradasi dari fungsi dan peranan musik pada kehidupan manusia. Padahal pada awalnya, musik memiliki peran penting dalam kehidupan manusia sebagai sains hingga medium spiritualitas. Salah satu pengaruh terbesar dari reduksi yang terjadi pada musik karena keterpengaruhan dari teknologi yang kemudian membuat musik hanya menjadi objek semata. Dari awal peradaban hingga sekarang teknologi yang terus berkembang dan perubahan sosial yang terus terjadi kemudian membuat musik tidaklah lagi menjadi medium kontemplasi.

Pendahuluan:

Sejak berabad-abad lalu, musik punya peranan penting dalam kehidupan manusia. Zaman Yunani Kuno, misalnya, musik sama pentingnya dengan sains (matematika). Musik serta teorinya merupakan salah satu dari empat kategori dalam sains: aritmetika, geometri, musik, dan astronomi. Sebagaimana dikemukakan Aristoteles (384-322 SM), Phytagoras mempercayai bahwa alam semesta ini dipenuhi oleh interval musik dan sehubungan dengan itu mereka juga mempercayai bahwa “all is number”. Pada masa Yunani Kuno, matematika dan musik tidak hanya menjadi kriteria bagi orang cerdas tetapi juga bagi orang terdidik.

Aristoteles membagi musik ke dalam tiga fungsi: “ethical” (kegunaannya untuk edukasi/pendidikan), “of action” (dapat menjadi pengaruh bahkan untuk orang yang tak mampu memainkan musik), dan “cathartic” (memiliki tujuan sebagai pelepas kecemasan/kemarahan dan membuat tenang) (Attali, 2009: 28). Plato (sekitar tahun 427-347 SM) dan Aristoteles menguraikan teori tentang “ethos” atau sifat moral dan efek-efek yang dihasilkan oleh musik. Menurut Aristoteles, musik menirukan dan menggambarkan emosi serta keadaan jiwa manusia. Jadi, kalau seseorang mendengarkan musik, emosinya sendiri akan dipengaruhi menjadi serupa dengan sifat musik tersebut. Pada masa Yunani Kuno, “pembagian” musik ditentukan dari sifat musik itu sendiri seperti musik beraliran ibadah Dionysia yang dianggap dapat membangkitkan suatu sifat semangat, kegemparan, dan sifat-sifat lain yang dianggap kurang baik. Sedangkan musik beraliran ibadah Apollo yang cenderung tenang, damai, dan dorongan spiritual.

Musik Yunani Kuno sangat berpengaruh pada masa selanjutnya melalui teori musiknya, secara khusus pada teori musik Barat selama abad pertengahan. Bagaimana kemudian temuan-temuan teori-teori musik pada masa Yunani Kuno ini menjadi fondasi berkembangnya musik di Barat. Temuan-temuan tentang ide dan sifat musik dan peranannya di alam semesta dan gunanya di masyarakat serta penjelasan ukuran interval musik termasuk pembagian oktaf ke dalam delapan nada yang telah ditemukan Phytagoras pada abad ke-6 SM merupakan warisan penting dari peradaban Yunani Kuno.

Berbicara tentang perkembangan sejarah musik di Barat dan Timur – yang kadung kedua peradaban itu dibedakan- memiliki dimensi masing-masing. Musik di Timur yang dibawa dari peradaban Cina, India, Semit, bahkan Jawa, cenderung statis dan kurang berkembang secara progresi musikalnya. Hal ini berbeda dengan musik yang ada di Barat sejak masa renaisans yang melahirkan beragam dinamikanya mulai dari barok/rokoko, klasik, romantik, modern, hingga kontemporer.

Namun, yang akan saya bahas di sini tidak akan melihat melihat perkembangan musik dari aspek teknis/elemen musikalnya. Tapi bagaimana musik kini memiliki fungsi yang berbeda dalam dunia manusia. Jacques Attali membagi periodisasi musik berdasarkan ekonomi-politik dalam bukunya Noise: The Political Economy of Music (2009). Dia membagi ke dalam empat bagian yaitu: (1) Ritual/Sacrificing, (2) Representasi/Representing, (3) Penggandaan/Repeating, dan (4) Pencampurbauran/ Composing. Pada awal peradaban, musik merupakan bagian dari suatu upacara dan ritual khusus (sacrificing), sebelum kemudian masuk zaman modern yang memunculkan musik-musik seperti Mozart dan Beethoven yang “mereduksi” musik sebagai bagian dari modernitas kaum borjuis pada masa itu (representing). Kemudian setelah revolusi industri dan merebaknya kapitalisme maka musik tak ubahnya menjadi perpanjangan tangan ideologi kapitalisme dan mulai kehilangan “aura” dan “otentisitasnya” melalui kehadiran berbagai teknologi rekaman seperti CD, kaset, atau piringan hitam (repeating dan composing). Kini musik sebagai bagian dari industri budaya tak bisa lepas dari keseharian kita. Musik (seni) pada masa kapitalisme inilah yang dikritik oleh kritikus budaya seperti Walter Benjamin dan Theodor Adorno.

Teosentris ke Antroposentris

Memasuki abad pertengahan, ketika peradaban Yunani Kuno runtuh dan digantikan oleh Romawi yang serta merta berkembangnya agama Kristen membuat musik pun lebih banyak didominasi oleh kepentingan gereja. Pada masa itu gereja memang memiliki kewenangan mutlak dalam mengatur kehidupan manusia, termasuk seni dan budayanya. Sejarah musik Barat harus memusatkan perhatian pada musik gerejawi. Pendidikan dan kesenian pada umumnya terbatas pada gereja dan biara. Tidak ada pendidikan khusus di luar gereja, termasuk pendidikan musik. Namun, tak serta merta pada abad pertengahan atau zaman medieval ini hanya berkembang musik gerejawi semata. Berkembang pula musik sekuler yang dibawa oleh para troubadour pada masa itu.

Pada musik kita dapat pula menemukan bahwa musik memiliki peranan dalam aspek spiritual. Musik menjadi bagian dalam ritual dan spiritualitas masyarakatnya. Pada masyarakat Barat hal itu terlihat jelas ketika musik menjadi bagian dalam ritual-ritual keagamaan. Musik yang berkembang pada gereja pada masa itu memang ditujukan untuk pemujaan terhadap ilahi. Warna musik gereja yang berkembang pada masa itu yaitu musik Gregorian yang dikembangkan oleh Paus Gregorius (540-604). Sebelum ke musik Gregorian, awal mulanya musik gereja dikembangkan oleh Ambrosius (340-397) makanya disebut musik “Ambrosian”. Bentuk-bentuk nyanyian pada masa abad pertengahan ini lebih berupa misa atau liturgi. Adapun bentuk-bentuk nyanyian gerejawi Zaman Medieval itu yang masih terlestari saat ini terdiri dari: “kyrie eleison” (Tuhan, kasihanilah kami), “Gloria in Excelsis Dio” (Kemuliaan pada Allah Maha Tinggi), “Credo in Unum Deum” (Aku Percaya Pada Satu Allah), “Sanctus” (Kudus, Kuduslah), dan “Agnes Dei” (Anak Domba Allah).

Peradaban Islam pun mengenal musik sebagai sarana untuk mengenal tuhan. Musik Persia adalah salah satu bentuk seni Islam yang sangat kental dengan pola dan praktik tasawuf. Sebagai dimensi spiritualitas Islam tasawuf mengadopsi musik Persia dan bentuk musik lainnya untuk menjadi sarana mencapai tujuan-tujuan spiritual, yaitu pengaksesan menuju Tuhan.

Spiritualitas pada umumnya merupakan kata yang memiliki asosiasi dengan hal yang berkaitan dengan religi, mistis, paranormal, dan acapkali dikaitkan dengan sesuatu yang tidak kasat mata, tidak terukur, atau ghaib. Pengertian spiritualitas adalah suatu hal yang kompleks seperti yang diungkapkan Mohammed Arkoun: “the concept of spirituality is loaded with complex and different meanings; it is used loosely in context as different as religion, architecture, music, painting, literature, philosophy and alchemy, as well as in spiritualism, astrology, esoteric knowledge, et ce tera”.

Dari pengertian Arkoun di atas, bahwa spiritualitas memiliki tafsiran dan interpretasi yang sangat luas dan sangat kompleks. Arkoun melihat bahwa ada hubungan antara spiritualitas dengan hampir semua hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk musik

Sebelum memasuki masa renaisans, musik memang lebih banyak ditujukan untuk kepentingan ritual/spiritual. Namun, memasuki masa renaisans ketika terjadi ketidakpercayaan masyarakat terhadap gereja dan pengaruh gereja mulai memudar karena bermacam krisis di dalam tubuh kelembagaannya sendiri, dan juga perubahan sosial yang terjadi didalamnya. Kemudian terjadilah bahwa pusat alam semesta bukan lagi teosentris akan tetapi antroposentris. Akhirnya berkembanglah pula musik pada masa renaisans.

Rasionalitas dan Individualitas

Pada masa renaisans mulai berkembang sains dan teknologi. Salah satu ciri dari masa ini yaitu adagium yang diperkenalkan oleh Rene Descartes, “Cogito Ergo Sum” (Aku Berpikir Maka Aku Ada) dan rasionalitas yang akhirnya menjadi dasar dari peradaban Barat. Pada masa ini musik yang sebelumnya memiliki fungsi sebagai bagian spiritualitas masyarakat kini berubah. Sosiolog Max Weber mengungkapkan bagaimana pengaruh rasionalisasi yang terjadi pada masyarakat Barat membuat progresi musikal itu terjadi: “thoroughly concrete characteristics of the external and internal situations of the Church in the West, the result of sociological influences and religious history, allowed a rationalism which was peculiar to Westernmonasticism to give rise to these musical problems which were essentially „technical‟ in character. On the other hand, the invention and rationalization of rhythmical dancing, the origin of the musical forms which developed into the sonata, resulted from certain modes of social life life at the time of the Renaissance. Finally, the development of the piano, one of the most important technical elements in the development of modern music, and its spread among the bourgeouise, had its roots in the specifically “indoor” character of the Northern European civilization”.

Menurut Weber, berbagai penemuan teknologi (terutama instrumen organ/piano) dan munculnya rasionalisasi pada masyarakat Barat pada masa itu menggeser musik yang dulu semata ditujukan untuk urusan spiritualitas menjadi urusan teknikal semata. Secara lebih jauh, Weber mengungkapkan bahwa musik kemudian bergeser hanya menjadi persoalan “material, technical, social, dan psychological”. Material dalam hal ini perkembangan teknologi dalam musik yang terus berkembang dalam musik Barat seperti munculnya alat-alat musik dalam keluarga cardiophone, idiophone, membranophone, dan aerophone. Aspek teknikal yaitu munculnya notasi-notasi musik yang dikembangkan oleh para komposer pada masa musik setelah renaisans seperti Bach, Haydn, Mozart, Brahms, hingga Beethoven. Aspek inilah yang kemudian musik-musik Barat terus dieksplorasi sedemikian jauh hingga mulai munculnya inovasi-inovasi terus menerus dalam musik Barat dan terjadi progresi musikal sedemikian jauh. Hingga puncaknya pada karya John Cage, “4:33” yang hanya menampilkan keheningan bagian dari musik.

Sedangkan pada aspek sosial, atau menurut istilah Weber, “the space of performance itself”, mengaitkan hubungan antara musik dan masyarakat. Seperti pada masa renaisans hanya kaum borjuis yang dapat menonton musik-musik klasik karya komposer-komposer ternama. Atau kemunculan musik Barat pada masa renaisans juga dibarengi dengan munculnya kaum borjouis pada masa itu. Bagaimana kemudian musik hadir sebagai bagian dari status sosial masyarakat. Aspek psikologis, menekankan bahwa kini musik tak lebih dari sekedar medium berekspresi semata. Alih-alih untuk aspek keilahian, musik kini lebih ditonjolkan pada “individualitas”. Akhirnya kemudian yang lebih ditonjolkan pada musik-musik setelah masa Renaisans ini kepada eksplorasi dan penemuan-penemuan baru (new discoveries).

Budaya Massa

Setelah memasuki masa renaisans, pada abad ke-19 terjadilah revolusi industri sehingga memunculkan kapitalisme sebagai salah satu cirinya. Memasuki abad ke-20, perkembangan teknologi terutama pada rekaman musik (music recording) mendorong terjadinya pergeseran fungsi musik. Esensi musik justru berubah ketika terjadi perubahan dalam teknologi cara mengonsumsinya. Kehadiran teknologi kemudian cenderung mendorong terjadinya konsumsi massa (mass consumption).

Pemikir dari Mazhab Frankfurt Theodor Adorno menyadari bahwa ternyata manusia tidak benar-benar terbebas dan tercerahkan. Hal ini didasari pada pemikirannya ketika melalui perkembangannya musik sudah menjadi bagian dari industri budaya yang justru kemudian lebih berorientasi pada ideologi kapitalisme. Menurutnya, musik kemudian hanya menjadi medium yang “distandardisasikan” atau dalam pengertian Adorno, sekali pola musikal dan/atau lirikal ternyata sukses (secara pasar/ekonomik), maka musik itu akan dieksploitasi hingga mengalami “kelelahan komersil” yang memuncak pada kristalisasi standar. Hal ini menurut Adorno kemudian musik akan mendorong terjadinya “individualisasi-semu (pseudo-individualisasi). Kemudian pernyataan kedua, bahwa musik musik mendorong terjadinya pendengaran pasif. Menurut Adorno, musik-musik klasik pada zaman sebelum era kapitalisme yang cenderung “serius” dapat merangsang imajinasi yang menawarkan keterlibatan dengan dunia sebagaimana seharusnya. Hal ini berbeda dengan musik pop yang cenderung pasif dan repetitif.

Perubahan teknologi rekaman yang membuat musik kini bisa berkembang dan diduplikasi mengakibatkan musik telah kehilangan “aura”-nya. Musik pun kini tak lebih hanya sekedar medium banal yang dinikmati untuk sehari-hari. Menurut Walter Benjamin, zaman modern menghasilkan identitasnya dan mereproduksi identitas itu melalui mekanika teknologi. Modernitas telah mempercepat perubahan melalui pengembangan teknologi-teknologi produksinya – asal muasal dan landasan material simulakra yang dikaitkan dengan post-modernitas.

Di zaman ketika produksi mekanis membuat akses musik yang dulu hanya dimiliki oleh segelintir kaum borjuis kini menjadi lebih egaliter. Kemurnian, keunikan, spontanitas, dan kreativitas objek seni entah itu simfoninya Mahler atau lukisan karya Manet hanya menjadi milik istimewa bagian elit yang sedikit itu, yang jelas-jelas ditandai oleh posisi kelas mereka, yang memiliki akses ke konsumsi objek-objek seni semacam itu. Menurut Benjamin, inilah “aura” sebuah karya seni. Dipandang dengan cara demikian reproduksi mekanis memiliki sebuah potensi emansipatoris, entah itu musik yang kini bisa diputar berkali-kali tanpa harus ke sebuah teater orkestra. Semua orang kini memiliki akses terhadap seni.

Tapi pada satu sisi, Benjamin juga melihat dampak negatif dari munculnya produksi mekanis tersebut. Akhirnya akan memunculkan “deaurafikasi seni” atau seni yang telah kehilangan auranya. Akhirnya akibat dari perkembangan teknologi mekanis dan reproduksi massal maka karya seni tersebut didekatkan hanya dengan menjadikannya sebuah komoditas, sedangkan esensinya sebagai karya seni itu sendiri hilang. Benjamin mendefinisikan aura sebagai fenomena unik berupa jarak (antara objek seni dan penikmatnya), betapa pun dekatnya objek itu. Aura menunjukan otoritas seni dalam bentuknya yang kultik, kondisi keunikannya yang tak mungkin ditiru, sebuah singularitas dalam ruang dan waktu yang menjadi penanda otentisitasnya (Jenks, 2013: 130).

Kesimpulan: Dapatkah Musik Jadi Medium Vita Contemplativa?

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, musik menjadi cerminan masyarakat yang terus berubah. Pada masa Yunani Kuno musik memungkinkan manusia meraih humanitasnya (bios) karena musik menjadi medium berpikir. Perubahan teknologi dan struktur sosial yang terus terjadi memungkinkan musik kini tak lagi menjadi medium untuk merenung, berpikir, atau

memuja keilahian. Musik hanya menjadi medium banal yang tak jarang kita puja dan berhalakan. Kapitalisme global telah berhasil menyulap aura dan mistisisme musik sehingga ia menjadi objek ekonomik dan komoditas semata atau dalam arti lain menghilangkan humanitasnya (zoos). Tak aneh, misal, kita melihat bagaimana pemujaan berlebihan terhadap musisi, rockstar, atau karya musik itu sendiri. Puncaknya ketika John Lennon yang mengatakan bahwa The Beatles lebih populer dibanding Yesus Kristus dan membuat dia meregang nyawa ditembak oleh fansnya sendiri.

Kini orientasi musik berubah menjadi persoalan ekonomi karena teknologi justru membuat musik kehilangan “aura”-nya. Musik kemudian menjadi hanya berkutat pada persoalan sepele dan remeh temeh. Apalagi di era internet ini musik beredar dan tak lebih dari sesuatu yang banal, fenomenal, dan temporer seperti lagu “Lelaki Kardus” yang sempat menjadi viral beberapa waktu lalu. Tak ayal perubahan esensi dalam mengapresiasi musik juga ditentukan oleh objek-objeknya. Bagaimana objek teknologis memiliki peranan dalam mengonstruksi musik.

Mengutip istilah yang dikemukakan oleh Yasraf Amir Piliang dalam orasi ilmiahnya bahwa karena motif seni kini bergerak menjauh dari nilai-nilai esensial seni itu sendiri dan mendekat ke arah nilai-nilai pasar. Inilah indikasi bagaimana seni pun telah kehilangan nilai humanitasnya dan hanya menjadi bagian dari kapitalisme global. Inilah yang kemudian sepanjang pemahaman yang terjadi dalam perkembangan musik di Barat bahwa musik mengalami dekadensi dan mengubah paradigma humanitas dalam musik. Apakah di kemudian hari musik mampu menjadi medium vita contemplativa atau sebagai wahana untuk merangsang kita berpikir?

Daftar Referensi:

Attali, Jacques. 2009. Noise The Political Economy of Music. University of Minnesota

Sugiharto, Bambang. 2014. Untuk Apa Seni?. Penerbit Matahari

Jenks, Chris. 2013. Culture: Studi Kebudayaan. Pustaka Pelajar

Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Jalasutra

(Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Orasi Ilmiah Yasraf Amir Piliang, yang bertempat di Salman ITB, Jum’at, 18 November 2016)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here