Catatan Lewat Album Kompilasi: Napak Tilas Bandung Bawahtanah 1997-2008

Kompilasi Masaindahbangetsekalipisan yang digadang sebagai kompilasi band-band independen petama di Kota Bandung yang dirlis pada 1996 oleh 40124 Records

Kita patut iri akan kompilasi masaindahbangetsekalipisan. Kita patut iri pada mereka yang telah mendokumentasikan karya mereka. Kita patut iri pada mereka yang telah menjadi pelopor. Kita patut iri pada mereka yang telah membuat sejarah. Kini, kita yang patut membuat sejarah…

Tepat sebelas tahun yang lalu, Richard Mutter (saat itu masih menjadi drummer Pas Band) merasa resah ketika melihat banyak band yang latihan di studio Reverse miliknya namun tak kunjung juga album band-band tersebut rilis. Berawal dari celoteh Avedice, anak sulung Richard, nama album kompilasi bernama masaindahbangetsekalipisan itu rilis dan seolah menjawab keresahan Richard, seperti dilukiskan dalam senyum Avedice di sampul muka album kompilasi itu. Rilisnya album kompilasi pertama di Indonesia ini menjadi tonggak sejarah baru dari geliat scene musik bawahtanah di Bandung pada pertengahan 90-an. Terberkatilah band yang ikut serta didalamnya, Full Of Hate, Burgerkill, Rotten To The Core, Turtles Jr., Papi, Sendal Jepit, Waiting Room, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, Deadly Ground, Cereal Fever, Nut 4 Eat, Plum, dan Third Parties, mereka telah menggoreskan tinta emas sejarah dan menjadi dokumentasi berharga dari kreativitas komunitas bawahtanah.

Sejarah, dalam arti harfiah berarti silsilah, asal usul keturunan; kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 2001: 412) . Hari ini adalah sejarah yang bakal kau tulis untuk hari esok, dan hari esok adalah sejarah yang bakal kau tulis untuk esoknya lagi, esoknya lagi, dan esoknya lagi. Dunia terpatri dalam konstruksi realitas yang kita bentuk sendiri, tergantung bagaimana kita bisa merekam dengan baik dan bisa menyimpannya dengan baik.

Sebelas tahun setelah masaindahbangetsekalipisan banyak sekali terukir sejarah dalam komunitas bawahtanah di Kota Bandung. Ada era di mana semua individu didalamnya menyimpan ceritanya masing-masing. Dan kita akan memulai darimana semua ini berasal. Tren, komunitas, indie label, dan sejarah bisa terangkum lewat sebuah potensi kompilasi.

Bandung Bawahtanah dan Potensi Kreativitas

Seiring dengan gencarnya perputaran arus informasi, muncul berbagai bentuk kesadaran individu, keterbukaan, kebebasan berekspresi, dan toleransi, diantara beberapa komunitas anak muda di Bandung. Semangat untuk menyikapi perbedaan dengan cara yang khas (nyeleneh/kumaha aing), pada beberapa kelompok anak muda Bandung tampaknya juga ikut melahirkan pola resistensi, yang dapat kita kenali sebagai sebuah model budaya tandingan. Kebiasaan untuk membentuk budaya tandingan untuk menyikapi budaya yang dianggap lebih mapan setidaknya mendorong pertumbuhan budaya urban di kalangan masyarakat Kota Bandung menjadi lebih dinamis (Iskandar: 2003)

Latar belakang sosiografis dan psikografis karakter urang Bandung memunculkan keragaman komunitas bawahtanah. Bermunculannya ragam komunitas tersendiri seperti punk, hardcore, metal, oi, indies dll. menjadi fenomena tersendiri sehingga Bandung selama ini dikenal sebagai barometer dalam kancah dunia musik bawahtanah di Indonesia. Dan akibat perputaran arus informasi yang dari hari ke hari semakin cepat, urang Bandung seringkali dengan peka mampu menangkap semua itu. Sehingga potensi kreativitas urang Bandung dan komunitas bawahtanah didalamnya memiliki kesempatan yang banyak dalam berekspresi. Mulai pertengahan 90-an mulailah muncul gigs, distro, hingga album musik.

Perkembangan komunitas bawahtanah dalam rentang dekade dari tahun 1997-2008 menyisakan karya-karya kreativitas sebagai penanda eksistensi komunitas bawahtanah di Bandung. Satu hal yang bisa kita telusuri, selain dalam bentuk dokumen tertulis, yaitu lewat album kompilasi. Masaindahbangetsekalipisan bisa dibilang telah menjadi pemacu untuk bertumbuhnya potensi kreativitas bawahtanah Bandung.

Potensi kreativitas yang dimaksud tentu karya seni musik dan salah satu bentuk konkretnya bisa kita lihat dalam bentuk album kompilasi. Sebuah album kompilasi hendaknya tak hanya dipandang sebagai esensi sebagai karya seni atau olah musik saja, akan tetapi lebih dipandang sebagai bukti karya dokumentasi atau karya sejarah. Tentu saja dokumentasi di sini bukan berarti lembaran roll film foto atau kaset video, akan tetapi musik yang terekam dalam pita kaset atau kepingan piringan disc. Music contructs our sense of identity through experiences it offers… experiences which enable us to place ourselves in imaginative cultural narratives (Frith 1996: 275).

Dalam konteks yang dikatakan oleh Frith di atas, sebuah album kompilasi memuat catatan-catatan tentang pergerakan sejarah dan trend komunitas sehingga melahirkan pola budaya yang baru. Contohnya, album kompilasi Deep Six begitu berpengaruh dalam perjalanan era grunge di Seattle, Amerika atau album kompilasi C86 yang dirilis Tabloid NME di Inggris dianggap menjadi cetak biru musik Indie Pop dewasa ini. Itulah dua contoh bagaimana dua kompilasi yang cukup “berhasil” dalam menangkap trend, era, serta garis sejarah itu sendiri!

Bagaimana dengan situasi bawahtanah Bandung? Tentu saja selain kompilasi masaindahbangetsekalipisan masih banyak album kompilasi yang bisa dikatakan fenomenal. Sebut saja, Kompilasi Bandung’s Burning, Brain Beverages, Strikehard: Kompilasi Hardcore, Breathless: The Hardcore Compilation, yang menjadi penanda berkembangnya musik hardcore/punk di Bandung, atau kompilasi Independen Rebel yang menjadi bukti komunitas Ujung Berung sebagai salah satu garda musik metal di Bandung, kemudian bagaimana kompilasi seperti Ticket To Ride bisa mendokumentasikan venue Buqiet Skatepark, lalu Gedung Dago Tea Huis bisa menjadi saksi bisu komunitas bawahtanah lewat kompilasi 4 Dischord Live, terus Laga Pub and  Café menjadi bukti venue yang legendaris lewat kompilasi Beyond Good, Evil, and Us, dan bagaimana If Venue bisa terdokumentasikan dengan baik lewat kompilasi Million Sounds: Marching To If Venue. Biarkan kompilasi ini bicara dalam sejarahnya…

Napak Tilas Bandung Bawahtanah 1997-2008

Berkaca dari hal di atas, pergerakan komunitas bawahtanah di Bandung seperti punk/hardcore, metal, ska, oi, indies, grunge, dll. dalam rentang waktu satu dekade telah melahirkan karya-karya yang menjadi bagian perjalanan era dan tren dalam proses perkembangan komunitas bawahtanah di Bandung, sehingga diharapkan menjadi wacana budaya komunitas bawahtanah Bandung sebagai suatu prestasi yang terangkum lewat berbagai karya album kompilasi.

Ada beberapa poin yang menjadi wacana menarik perihal bagaimana sebuah kompilasi dianggap penting:

  1. Pergerakan trend, era, dan eksistensi komunitas bawahtanah

Ada satu hal yang pasti, kompilasi di Bandung kebanyakan dibikin dalam satu ranah genre musik yang sama, tanpa melupakan kompilasi-kompilasi multigenre lainnya. Namun apa yang saya pandang penting dalam satu ranah genre adalah semakin spesifik suatu album kompilasi, maka akan terlihat konsep yang diusung. Konsep yang baik yaitu yang mampu menangkap tren dari eksistensi komunitas dalam eranya yang sedang terjadi. Karena kompilasi yang baik tentu ibarat kamera film yang sedang merekam apa yang sedang terjadi disekitarnya. Album kompilasi memiliki kepekaan budaya.

Sebut saja, ketika pertengahan tahun 90-an musik hardcore/punk dan metal yang bisa dikatakan menjadi embrio kultur bawahtanah di Bandung bisa terekam lewat gambaran yang diperlihatkan dalam kompilasi-kompilasi seperti Kompilasi Bandung’s Burning (Riotic Records, 1997), Injak Balik! A Bandung Punk/HC Compilation (Tian An Men Records, 1997), Brain Beverages (Harder Records), Strikehard: Kompilasi Hardcore, Breathless: The Hardcore Compilation, dan Independent Rebel.

Lewat kompilasi-kompilasi itu pula kita mengenal “alumnus-alumnus” kompilasi tersebut yang menjadi pionir di ranah musik punk/HC/metal bawahtanah Bandung seperti Jeruji, Keparat, Total Riot, Sendal Jepit, The Bollocks, Runtah, Turtles Jr., Savor Of Filth, Take A Stand, Hell Burger, Blind To See, Balcony, Full Of Hate, Homicide, Puppen, Sacrilegious, Forgotten, Jasad, Burgerkill, Naked Truth, Dinning Out, Restless, dll. Dari deretan band tersebut ada yang masih eksis maupun ada yang sudah bubar. Ada lagi yang masih jalan di tempat seolah hidup segan tapi tak mau. Tapi lewat cerita kompilasi, masing-masing band dan individu didalamnya menyimpan kenangannya masing-masing.

Coba tengok saja; Kompilasi This Is Bandung (Red Wine Records) pada tahun 1999 boleh dibilang menjadi garda musik indies/indie pop/ electro-pop di Bandung lewat sejumlah band didalamnya seperti The Bride, Peanuts, Kapal Terbang, dan Electrofux. Lalu menginjak pada kompilasi Skalloween (Riotic Records) yang menggambarkan era musik ska sedang tren pada akhir tahun 90-an dan awal 2000 lewat band-band Dirty Dolls, Young Coconut, Phoni Cat, Agent Skins, dll. Kemudian ada kompilasi Still Punk Still Sucks (Ryan Records) dan Bad Tunes and Some Ordinary Things (My Own Deck Records) ketika musik melodic-punk/pop-punk sedang tren di Bandung, bisa kita lihat lewat band-band yang terlibat didalamnya macam Rocket Rockers, Sendal Jepit, Nudist Island, Buckskin Bugle, Disconnected, Close Head, dll. Lewat kompilasi The Difference Compilation Vol.1 (Brokenjaws Records) kita bisa menyimak bagaimana tren musik emo/ pop-punk/post-hardcore sedang popular di kalangan anak muda Bandung lewat sejumlah band seperti Alone At Last, Jolly Jumper, Pitfall, Joy In The Club, dll. Karena lewat kacamata kompilasi itupula komunitas-komunitas bawahtanah macam hardcore, punk, metal, indies, ska, oi, dll. bisa memperlihatkan eksistensinya. Yah, contohnya saja salah satunya kompilasi Rockin Riots (United Races Records) dan Archipelagoi! (United Races Records & Warrior Records) bisa menggambarkan eksistensi komunitas Oi! Atau punk skinhead di Bandung. Inilah bukti bahwa komunitas bawahtanah adalah satu bagian sub-budaya karena memiliki produk budaya lewat potensi-potensi kreativitas didalamnya yaitu musik.

Dari sejumlah fenomena seperti itulah kita bisa melihat perkembangan tren musik bawahtanah khususnya yang sedang popular di anak muda dari era ke era. Bagaimana eksistensi komunitas bawahtanah Bandung bisa pongah karena memiliki karya yang tak ternilai harganya.

2. Modal sosial

Komunitas bawahtanah di Bandung pada awal potensi berkreativitas seperti membikin gigs, membuat distro, dan merilis album berangkat berdasarkan metode independensi atau D.I.Y. dalam bertahan hidup, bukan dalam metode skala kapital besar yang oportunis. Salah satu hal yang diperlihatkan dalam komunitas bawahtanah yaitu metode relasi dan modal sosial. Peran penting dalam komunitas bawahtanah yaitu bagaimana mereka mengembangkan cara relasi dan modal sosial demi suatu sistem yang membuat mereka nyaman dan berada dalam ranah eksistensi tersendiri.

Dalam masing-masing kompilasi dapat dilihat bentuk metode modal sosial. Yah, bagaimana kompilasi-kompilai dirilis ‘hanya’ mengandalkan modal sosial, bukan uang hasil korupsi pejabat. Bukan tidak mungkin band-band yang dirilis yaitu band-band sepermainan dan seperjuangan dalam satu komunitas, menampikkan metode festival atau seleksi berlapis. Salah satu kompilasi yang mengandalkan relasi sosial seperti yang dilihatkan dalam album kompilasi Mempetisi Langit: Benefit Compilation For A Local Community Crisis Center dengan hanya mengandalkan jaringan pertemanan (network of friends).

Kompilasi Mempetisi Langit yang menampilkan sejumlah band berjejaring untuk benefit ruang alternatif IF Venue

Seiring waktu perkembangan modal sosial pun merambah dalam dunia teknologi informasi. Perkembangan internet bagi kota Bandung sangat terasa masif pengaruhnya dalam komunitas bawahtanah, termasuk dalam pola metode relasi. Dengan adanya pemanfaatan modal sosial menggunakan social networking di internet, komunikasi yang dijalin pun tak hanya dalam satu komunitas saja, tapi bisa lintas komunitas di dalam negeri maupun luar negeri.

Salah satu pengaruhnya didalam negeri ketika rilisnya kompilasi seperti Mesin Distorsi: Kompilasi Vol. 01 (Mesin Distorsi Records) pada tahun 2001 yang seperti dijelaskan dalam sleeve cover album tersebut, “Berawal dari media internet dan MLRC pada khususnya, #DISTORSI akhirnya menciptakan komunitas yang subjektif dalam arti ideologi musikalitas sebagai gaya hidup, idiologi maupun media kreatifitas, hingga akhirnya sepakat untuk membuat sebuah kompilasi untuk membantu promosi band-band indie  tanpa harus menciptakan batas-batas dan perbedaan-perbedaan aliran musik itu sendiri yang secara tidak langsung akan menciptakan sebuah atmosfir yang lebih menyatu dan kompak dalam komunitas musisi-musisi yang ada”. Salah satu kompilasi yang mengusung hal serupa yaitu DRS Sampler Family Vol.1. DRS atau Deathrockstar adalah sebuah webzine yang mengulas tentang band-band bawahtanah. Dan kompilasi ini dibuat berdasarkan band-band yang telah direview oleh DRS seperti 70’s Orgasm Club, 1900 Yesterday, A Stone A, Everybody Loves Irene, Klepto Opera, dll.

Modal sosial pun bisa merambah hingga ke luar negeri ketika Tian An Men Records asal Perancis pada tahun 1997 merilis sebuah kompilasi bernama Injak Balik!: A Bandung Punk/HC Comp yang mendokumentasikan scene musik Hardcore/Punk Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr., dan All Stupid. Hal yang sama pun dilakukan oleh Poptastic Records ketika merilis album kompilasi Delicatesen yang menggambarkan fenomena musik indie pop bisa merambah menembus batasan negara. Kemudian ada FFCuts Records (Sub-Label FFWD Records khusus musik rock)  merilis album kompilasi DHR Riot Zone yang berisikan sejumlah band-band eksperimental/noise rock luar negeri seperti Atari Teenage Riot, Hanin Elias, Alec Empire, Patric C, Dj Mowgly, dll. di tahun 2001. Lalu ada Subciety Records yang berkerjasama dengan band-band asal Belanda dan Swiss untuk terlibat dalam proyek kompilasi Rise UP: 3 Nation Compilation pada tahun 2005 dengan konsep dub, reggae, dan ska sebagai way of life.

Itulah bagaimana modal sosial yang dikembangkan dengan teknologi informasi membuat komunitas bawahtanah semakin ‘pintar’ beradaptasi. Seperti yang pernah diungkapkan dalam editorial majalah Ripple Magazine, “Sekarang kami lebih cerdas dan lebih kuat dari 10 tahun yang lalu… 

3. Indie label & Industri Kreatif

Lewat kompilasi pula kita bisa melihat komunitas kreatif di Bandung dari era ke era. Potensi kreatif komunitas bawahtanah yang bisa kita telusuri salah satunya yaitu indie label. Perkembangan indie label, sebagai salah satu infrastruktur komunitas bawahtanah, seringkali bisa bisa kita lihat sepakterjangnya lewat album kompilasi.

Salah satunya yaitu indie label 40.1.24 yang menjadi embrio indie label komunitas bawahtanah setelah rilisnya album kompilasi masaindahbangetsekalipisan. Bisa dikatakan, 40.1.24 Records adalah label tertua sekaligus pertama untuk lingkup komunitas bawahtanah Bandung. Kemudian bermunculan pula beragam indie label lainnya dengan masing-masing karakter dan spesifikasi genre yang diusungnya seperti Riotic Records (Hardcore/Punk), Harder Records (Hardcore/Punk), Spills Records (Pop/Rock), My Own Deck Records (Pop Punk/ Melodic Punk), No Label Records (Punk), Napi Records (Punk), Brokenjaws Records (Hardcore/Post-Hardcore), United races Records (Punk Skinhead/ Oi), Prapatan Rebel Records (Punk/Metal/Hardcore), Extreme Soul Production Records (Metal), Subciety Records (Hardcore/Punk), FFCuts Records (Rock), FFWD Records (Pop), dll. Itu mungkin sebagian nama label diantara banyak label lainnya di komunitas bawahtanah. Mungkin banyak label yang satu-dua rilisan kemudian bubar atau entah jelas kemana nasibnya, hanya beberapa saja yang masih konsisten bertahan. Beberapa dari nama indie label diatas pernah merilis album kompilasi (daftar lengkapnya ada dalam daftar kompilasi), meski tidak semua kompilasi yang dirilis berdasarkan kualitas yang baik, entah itu dilihat dari segi sound maupun konsep.

Potensi indie label sebagai industri kreatif memang belum dilakukan dengan baik oleh komunitas-komunitas bawahtanah Bandung. Sehingga permasalahan banyaknya gulung tikar suatu indie label pun karena belum adanya kesadaran untuk mengatur potensi ini secara baik. Padahal peranan indie label, sebagai industri kreatif, sangat berperan besar dalam infrastruktur komunitas bawahtanah. Kompilasi-kompilasi yang hadir tentu berkat proses manufaktur potensi kreatifitas indie label seperti produser, band/musisi, fotografer, desain grafis, distributor, dan media promosi.

Perkembangan komunitas bawahtanah dari hari ke hari semakin besar. Pengaruh media ikut pula berperan. Sejumlah zines, majalah, surat kabar lokal maupun nasional, internet, radio, TV lokal maupun nasional, ikut pula terlibat dalam ekspansi komunitas ini kian dikenal. Salah satu major label terbesar di Indonesia, Aquarius Records pun tak luput untuk menangkap fenomena ini. Aquarius pun merilis sebuah album kompilasi bernama Indonesia Best Alternative (Tonggak Musik Alternatif) yang termasuk berisikan musisi-musisi bawahtanah Bandung seperti Pas band, Puppen, Pure Saturday, Kubik, dan Koil.

Dewasa ini musik bawahtanah telah mengalami eksposure yang luas dari berbagai kalangan, termasuk produser film. Bahkan musik bawahtanah ikut dalam Soundtrack film Nasional seperti dalam film Catatan Harian Sekolah (FFWD Records) yang musik-musiknya diisi oleh sejumlah musisi bawahtanah Tanah Air seperti Mocca, Pure Saturday, The Upstairs, Seringai, Inspirational Joni, The S.I.G.I.T., Homogenic, Teenage Death Star, dll. Bisa dikatakan ini mungkin Soundtrack film Nasional pertama yang diisi oleh musisi-musisi bawahtanah sebelum diikuti oleh fenomena serupa dalam film Janji Joni, Kala, Quickie Express, dsb.

Fenomenalnya perkembangan musik bawahtanah, meski mengalami pro dan kontra, pun dilibatkan dalam festival musik yang diselenggarakan oleh produsen rokok  bernama L.A. Lights Indiefest yang kini sudah menghasilkan dua album kompilasi, L.A. Lights Indiefest (FFWD Records) dan L.A. Lights Indiefest Vol.02 (FFWD Records) dan kini sedang dalam tahap proses ketigakalinya.

Prestasi itu tentu membuat potensi berkreatifitas menuju ke ranah yang lebih luas.  Kini, industri kreatif berjalan lebih dari sekedar bertahan hidup, tapi justru menjadi lahan baru untuk mencari kesempatan lebih layak.

Tahun 2008, seperti apa kondisi komunitas bawahtanah Bandung? Korban meninggal akibat konser musik, distro yang dulu sebagai forum diskusi digantikan display harga, maraknya kerusuhan, venue jarang, gigs dilarang, pensi pun serupa, indie label mandeg, zines berkurang, seolah menjadi kerikil-kerikil tajam yang mewarnai satu dekade perjalanan sejarah komunitas bawahtanah Bandung.

Tahun 2008, bisa saja sejarah komunitas bawahtanah Bandung hilang jika masih banyaknya konflik yang terjadi dan ruang gerak komunitas ini dibatasi segi kreatifitasnya. Banyak yang mensinyalir jika maraknya konflik dalam komunitas bawahtanah Bandung diakibatkan dari proses komunikasi yang “gak nyampe” antara generasi scene terdahulu dengan generasi scene saat ini sehingga proses edukasi yang diusung bertahun-bertahun menjadi sia-sia. Tentu ini bukan hal yang diinginkan.

Tahun 2008, generasi sekarang jangan terus bernostalgia dengan romansa yang dilakukan generasi komunitas bawahtanah Bandung terdahulu. Salah satu tujuan pengumpulan kompilasi ini pun tak lain demi merekam waktu dari sejarah itu sendiri sebagai proses komunikasi dan edukasi pada generasi saat ini sehingga kita bisa mengapresiasi para pelopor, iri, dan terbakar melakukan hal serupa. Jika kita tidak hidup pada sejarah yang dibuat, saatnya kita membuat sejarah.

Bandung, 22 Juni 2008

***

(Tulisan ini merupakan catatan pameran Napak Tilas Bandung Bawah Tanah 1997-2008 yang memamerkan deretan album kompilasi yang memiliki nilai penting dalam perkembangan musik independen di Kota Bandung. Pameran terselenggara berkat kerjasama Bandung Oral History dan Common Room. Diselenggarakan di Common Room pada Sabtu, 23 Mei 2009)

Link kegiatan pameran tersebut bisa dibaca di sini dan di sini

Cerita tentang salah kompilasi bersejarah Grunge Bandung bisa di baca di sini

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here