Membahas Regenerasi Musik di Bandung

Talkshow membahas regenerasi musik di Bandung bersama Teguh Wicaksono (Sounds From The Corner), Angkuy (Bottlesmoker), dan Dwi Lukita (Microgram Entertainment)

Sebetulnya saya sudah pernah membahas masalah ini di sini. Bermula dari keresahan beberapa teman baik penikmat musik maupun pelaku musik di Bandung yang beranggapan kalau menonton festival-festival musik yang pengisi acaranya band-band-itu-itu-saja. Beberapa acara yang bersponsor rokok pun  situasinya serupa. Logika kapital perusahaan lebih membutuhkan nama besar (big names) yang dapat mendatangkan banyak penonton. Kalau saya jadi penyelenggara acara juga pasti akan berpikir hal yang sama: karena modal besar, maka untung harus besar.

Beberapa waktu lalu, saya ditelpon oleh seorang teman, Teguh Wicaksono, founder dari Sounds From The Corner. Dia sedang mengarap sebuah pra-event Archipelago Festival di Bandung dan bertanya kira-kira tema apa yang menarik untuk dibahas dan kontekstual dengan kebutuhan di Bandung. Saya mengajukan tema di atas, karena menurut saya kebutuhan ini harus untuk anak muda. Mereka yang mungkin sedang tumbuh bersama band, asyik menggarap acara, atau mulai belajar membuat media sendiri.

Kondisi Bandung sekarang, tentu berbeda dengan kondisi dulu. Maka saya pikir perlu melihat apa saja perubahan yang terjadi. Untuk membuat talkshow ini Teguh juga menggandeng Microgram Entertainment sebagai salah satu kolektif yang banyak berisi anak muda yang sedang penuh gejolak dan ingin terus belajar. Talkshow dinamakan “Catch Your Wave”, karena memang tujuannya untuk mereka yang baru memasuki industri ini.

Saya tidak akan menuliskan semua hasil diskusinya di blog ini karena berlangsung lama banget (Gila, sampai 3 jam). Tapi saya hanya akan menuliskan yang mungkin saja beberapa hal tersebut masih relevan untuk didiskusikan lebih lanjut. Kalau dikerucutkan lebih jauh, hasil diskusi memang bermuara pada 3 aspek: media, penyelenggara acara, dan faktor sosial kultural.

Kalau berbicara media, kebetulan saya sendiri boleh dikatakan memang berkembang di industri media massa. Saya tumbuh di era ketika media massa cetak terutama majalah masih digemari. Perkembangan digital membuat media massa cetak terpaksa bergeser. Akses informasi juga berubah dari yang bersifat satu arah menjadi dua arah.

Di Bandung sendiri, saya pikir media massa berupa webzines dan blog boleh dikatakan tumbuh. Tapi sayangnya, tidak begitu mengigit. Penyebabnya media massa yang hadir seringkali terbawa arus utama dan akhirnya cenderung menjadi tipikal. Sajian beritanya tak beda dengan apa yang ada. Apalagi saat ini band-band sendiri kini sudah punya sosial media masing-masing. Pembaca tentu lebih memilih akses informasi dari sosial media band, ketimbang membuka dan membaca terlebih dahulu via webzines ataupun blog. Maka media sekarang tantangannya yaitu mampu membuat konten yang lebih kreatif!

Faktor lainnya yaitu media harus memiliki kontrol sosial sebagai kurator dalam menentukan selera massa. Jadi fungsi kurasi ini yang menurut saya sudah hilang. Seharusnya media massa memiliki keberpihakan, misalnya kepada musik-musik yang cenderung baru – dan tentunya secara kualitas juga harus bagus.

Tak hanya media, penyelenggaraan acara juga saya pikir harus sudah mulai memiliki idealisme dan keberpihakan. Beberapa tahun terakhir di Bandung sendiri, ada beberapa gigs yang tumbuh dari kesadaran akan butuhnya ruang regenerasi. Misalnya, Lazy Festival yang digelar sepanjang tahun 2014. Konsepnya adalah arisan, di mana sejumlah band urunan untuk membuat acara secara swadaya. Ini konsep yang benar-benar DIY.  Sayang konsep ini tak bertahan lama karena memang membutuhkan komitmen yang luar biasa – dan itu sangat sulit.

Kemudian ada juga An Intimacy yang banyak menampilkan band-band baru dan beberapa outputnya sudah mulai berhasil rilis album dan  merangkak memasuki industri macam Heals, Lizzie, Under The Big Bright Yellow Sun, Alvin, dan Oscar Lolang.

Kalau berbicara perihal event musik atau gigs, di Bandung sendiri boleh dikatakan tak pernah sepi. Saban minggu – atau minimal dua minggu – selalu terselenggara berbagai gelaran. Sayangnya tak ada yang menggigit dengan konsep yang unik dan luar biasa. Kalau di Jakarta bolehlah kita bercermin kepada gigs-gigs super-keren semacam Superbad dan Thursday Riot. Acara itu mampu meng-kurasi band-band baru untuk naik ke level lebih berikutnya.

Kurasi menjadi salah faktor penting dalam menentukan pengisi acara. Saya jadi ingat cerita dulu teman-teman Ujungberung ketika menggarap Bandung Berisik pada masa awal. Salah satu syarat agar tampil di festival itu yaitu band-band baru harus sudah punya karya sendiri! Kurasi itu membuat sebuah acara menjadi kian menggigit sekaligus juga jadi pemberi motivasi agar band-band berani untuk merekam karya mereka sendiri.

Satu hal yang kemudian jadi pembahasan adalah faktor sosial kultural. Bagi saya faktor ini boleh jadi berpengaruh. Perasaan “senioritas-junioritas” bisa muncul akibat faktor kultur urang Sunda yang gak enakan, segan, rendah diri, dsb. Saya ketika menulis buku Pure Saturday baru tahu kalau dulu pada awal karirnya PS ternyata banyak didukung oleh band “senior” mereka macam Pas Band dan Puppen. Setiap kali Puppen manggung, vokalis mereka Arian kerap mempromosikan Pure Saturday dari mulut ke mulut. Pas Band bahkan memberikan sisa shift rekaman mereka kepada Puppen dan Pure Saturday agar bisa merekam karya mereka sendiri (cerita lebih lanjut bisa disimak di buku ini).

Pada awal karirnya juga Efek Rumah Kaca banyak didukung oleh seorang Harlan Bin. Tulisan-tulisan Harlan Bin di Ripple pada masa itu banyak memuji-muji musik Efek Rumah Kaca – sebagai promo colongan. Atau bagaimana seorang David Tarigan yang juga banyak memuji dan mendukung White Shoes and the Couples Company dan The Adams sebelum akhirnya dirilis di Aksara Records.

Pola mutual-support mampu menjadi jembatan “senioritas” tersebut. Sikap band-band yang sudah merasa “senior” sudah seharusnya membangun jembatan dan mengangkat band-band “junior” di bawah mereka. Contoh paling sederhana adalah Rekti (The Sigit) yang mendirikan label rekaman Bhang Records dan merilis band-band yang terhitung baru.

Pola kultural ini dulu juga mampu dijembatani lewat hadirnya “hub” atau ruang publik yang menjadi arena tongkrongan bersama. Beberapa tahun terakhir ini, Bandung memang kehilangan “hub” yang menjadi arena tongkrongan, semacam lapak distro hingga ruang alternative seperti If Venue dan Common Room. Karena dulu saya merasa “hub” seperti itu mampu menjadi pencair dan semua orang berkumpul mengeksplorasi ide bersama. Rasa segan itu bisa hilang karena ruang sosial yang dibangun lewat tongkrongan akhirnya membuat suasana lebih cair. Dulu saya seringkali nongkrong di Riotic dan Common Room. Awalnya saya datang sebagai konsumen dan hadir ke pameran, namun lama kelamaan tercipta hubungan pertemanan karena sering bertemu, ngobrol, dan berbagi wawasan.

***

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here