Kota Tanpa Festival Musik: 5 Hal Kenapa Festival Musik ini Penting Bagi Suatu Kota

(sumber foto: https://macaudailytimes.com.mo/day-history-1969-woodstock-music-festival-ends-2.html)

Sejak pertengahan 1970-an, Kota Bandung sudah menjadi barometer industri musik Indonesia. Kota ini sudah sejak lama dikenal melahirkan potensi-potensi musisi sebut saja The Giant Step, The Rollies, Harry Roesly, Bimbo, hingga ke generasi yang lebih baru seperti Noah dan Tulus. Rasanya jika daftar tersebut saya perpanjang maka tulisan ini tidak akan cukup.

Ironisnya, dalam beberapa tahun terakhir ini festival musik yang mengangkat potensi lokal band barudak Bandung memang seperti “hilang”. Artikel Tirto.id (22 April 2017) berjudul “Mengusung Festival Musik sebagai Atraksi Wisata di Indonesia” menyebut beberapa kota yang aktif menyelenggarakan festival musik mulai dari Jakarta, Solo, Bali, Yogyakarta, Tenggarong, dan Makassar. Daerah Gunung Bromo, Jawa Timur, saja sekarang sudah aktif menggelar festival musik. Cukup menyedihkan karena Bandung tak disebut dalam daftar itu. Padahal musik seperti menjadi urat nadi yang menghidupkan kota kembang ini. Terlihat dari ramainya gigs, rilisan fisik, atau bermunculan band baru, tapi tanpa ada suatu hajatan bersama yang mempertemukan semua band barudak Bandung ini. Maka tak aneh jika saya sebut Bandung sebagai “kota tanpa festival musik”.

Padahal jika kita menengok sedikit ke belakang, beberapa tahun lalu kota ini memiliki festival musik metal Bandung Berisik yang mampu mengangkat citra kota sekaligus juga komunitas musik di Kota Bandung. Festival ini sempat menjadi barometer penting bagi kancah musik metal Indonesia.

Preanger Fest yang menampilkan puluhan musisi lokal Bandung

Kehadiran Preanger Fest yang menggaungkan band lokal Bandung lintas generasi diharapkan dapat menjadi ruang apresiasi baru, terutama untuk band muda. Bayangkan musisi Bandung dari beragam genre musik akan saling bertemu dari mulai Bimbo, The Panas Dalam, Burgerkill, Pure Saturday hingga generasi lebih anyar seperti Heals dan Ikkubaru. Festival yang akan dihelat selama dua hari pada 13 dan 14 Oktober 2018 di PPI Pussenif Bandung ini tentu akan menampilkan puluhan aksi dari band lokal Bandung lainnya. Mudah-mudahan stigma “kota musik tanpa festival musik” ini kemudian hilang dan tumbuh suatu hajatan bersama yang membuat Kota Bandung ini selalu kreatif dan dinamis. Berikut ini dalam hemat saya beberapa keuntungan dalam sebuah gelaran festival musik:

  1. Meningkatkan Citra Kota (City Branding)

Festival adalah sebuah hajatan yang mampu meleburkan berbagai sekat. Keuntungan menggelar festival bagi suatu kota tentu akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung. Festival yang tumbuh secara spesifik dan mengajak serta semua stakeholder (komunitas, pemerintah, korporasi, masyarakat, dan media) tentu akan berdampak secara tidak langsung pada citra kota (city branding). Definisi city branding sendiri secara harfiah yaitu segala aktivitas yang mencitrakan kota dengan beragam kegiatan positif. City Branding dapat membentuk persepsi, nilai, dan daya tarik bagi suatu kota tersebut.

Tak bisa dipungkiri, bahwa Bandung memiliki sejumlah potensi terutama di sektor musik dan kreativitas sebagai daya tarik utamanya. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata sehingga kegiatan ekonomi tumbuh secara aktif. Potensi musik yang ada di Bandung bisa lebih maksimal lewat keberadaan festival. Apalagi mayoritas penggerak kreatif di kota ini adalah anak muda yang menjadi pasar besar bagi industri musik.

  1. Berdampak pada sektor ekonomi informal

Menurut Chris Gibson dan John Connel dalam buku Music Tourism, festival musik punya potensi ekonomi langsung. keberadaan festival musik itu akan menghela sektor ekonomi terutama ekonomi informal. Dari suatu festival saja tentu akan menghela berbagai kegiatan ekonomi semisal pajak, hotel, tiket, merchandise, penyedia jasa sound, kuliner, bensin, transportasi publik, hingga jasa parkir. Setidaknya keberadaan suatu festival ini akan berdampak nyata pada sektor ekonomi informal.

Karena festival musik ini mampu menyedot ribuan orang sehingga sangat pas untuk dijadikan tujuan wisata musik. Beragam aktivitas ekonomi tentu akan hidup di sana. Sebagai perbandingan, festival musik Coachella 2016 di Amerika, terjual sekitar 195 ribu lembar dan menghasilkan pemasukan kotor sebesar 94,2 juta dolar. Itu memang di luar negeri. Tapi dengan pasar anak muda yang besar dan kelas menengah yang terus tumbuh festival musik dapat menjadi potensi ekonomi yang menggiurkan.

  1. Apresiasi bagi band-band muda

Beberapa tahun ini wacana tentang regenerasi musisi muncul ke permukaan. Kemudian bermunculan gigs-gigs kolektif yang dapat menjadi wadah baru para band anyar ini tampil. Tapi, sayangnya itu belum cukup. Kehadiran festival dapat menjadi ruang bagi para band-band baru ini kian dikenal lebih luas. Dengan sederet kebutuhan itu, sudah selayaknya Bandung dapat mengambil posisi untuk memberikan ruang bagi para musisi dan band lokal untuk turut unjuk gigi.

Bagi band muda, kesempatan tampil di suatu festival harus dimanfaatkan dengan baik. Meski tidak ditaruh di panggung utama dan jam prime time, tapi seharusnya band muda mampu menampilkan sesuatu yang ciamik dan menarik. Kesempatan tampil di festival seharusnya dimanfaatkan oleh band-band muda ini untuk menampilkan sesuatu yang baru, segar, inovatif dan gimmick yang unik. Karena kita tidak pernah tahu diantara ribuan penonton tersebut ada yang terkesima dan dapat membantu karir kedepannya.

4. Ajang silaturahmi

Festival musik ini menjadi ajang bertemunya musisi lintas genre dan lintas generasi. Ini menjadi kesempatan untuk saling bersilaturahmi dan saling belajar. Terutama buat band-band muda maka ini seharusnya menjadi ajang untuk membangun jejaring dan belajar pada musisi yang lebih senior.

Tak hanya itu, dalam festival musik juga selalu hadir produser, pemilik label rekaman, dan media musik sehingga seharusnya band muda lebih aktif lagi untuk membangun jejaring, mengobrol, dan saling bertegur sapa. Ini lah yang harus dimanfaatkan secara baik.

5. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri

Dalam beberapa tahun terakhir ini muncul beragam festival dari beragam generasi dan beragam genre musik. Rasanya, tahun-tahun terakhir ini muncul pula festival metal, rock, jazz, musik elektronik, dan folk. Menurut saya, festival musik ini menjadi “benchmark” baru bagi perkembangan industri musik di Indonesia. Hambatan genre dan generasi sudah bukan lagi jadi perhitungan.

Dewasa ini rasanya kualitas band-band lokal ini kian bagus. Terminasi indie atau mainstream, atau band keras dan non-keras, rasanya sudah tidak relevan lagi. Kualitas musik band lokal ini dengan beragam referensinya sudah melampaui ekspekstasi. Semangat musik lokal untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri kian mendekati kenyataan. Mayoritas festival-festival musik sekarang ini justru menghadirkan headlinernya adalah musisi-musisi lokal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here