Apa dan Bagaimana Musik Elektronik Tumbuh di Kota Bandung?

Foto Sins o Suns

Musik elektronik di Kota Bandung yang berkembang berkat akses media, koneksi Bandung-Jakarta, dan politik ruang

Geliat musik elektronik memang terhitung pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Bukan sesuatu yang aneh lagi kini pensi-pensi dihiasi para DJ dan band elektronik. Dalam skala nasional ada festival Djakarta Warehouse Project (DWP) atau We The Fest (WTF) yang banyak menampilkan deretan musisi elektronik dan DJ internasional. Anak muda rasanya kurang keren kalau tidak nyicip DWP atau WTF.

Berbicara tentang perkembangan musik elektronik, Kota Bandung memiliki pergerakan yang cukup panjang tentang kultur musik yang satu ini. Meski tak sebesar metal atau rock, beberapa DJ dan band elektronik sampai saat ini tetap konsisten berkarya. Terakhir saya mencatat, band-band elektronik semisal HMGNC, RNRM, dan Bottlesmoker masih merilis karya anyar dalam setahun belakang. Ini belum memperhitungkan beberapa band/produser baru yang cukup aktif, semisal Panda Selecta, Sins of Suns, Midnight Runners, dan lain-lain. Secara regenerasi musik elektronik di Kota Bandung sedang pada masa yang menjanjikan.

Sedikit menengok ke belakang, cikal bakal musik elektronik di kota ini bisa ditemukan dalam salah satu lagu di kompilasi legendaris Masaindahbangetsekalipisan yang dirilis  40.1.24 Records pada tahun 1997 lalu. Salah satu pengisi kompilasi yaitu Plum memainkan musik elektro yang kental,dengan beat yang cukup up-tempo, dan  nuansanya mengingatkan kita pada pengaruh techno dan industrial. “Mereka (Plum) kalau manggung bukan bawa turntable, tapi sampai bawa CPU/komputer ke atas panggung,” ujar Didit Eka Aditya atau Dxxxt, salah satu pelopor dan pegiat musik elektronik asal Kota Bandung, dalam diskusi Spirit of The Age: Sejarah Musik Elektronik Masa Lalu, Kini, dan Nanti digelar di Verde, 14 April 2018. Gelaran diskusi ini juga menghadirkan beberapa pegiat musik elektronik antara lain Egga Pratama (DJ), Iwan aka E-One (DJ), Grahadea Kusuf (HMGNC), dan Duto Hardono (seniman sound art).

Didit juga bercerita kalau penerimaan musik elektronik pada pertengahan 1990-an jauh lebih susah karena keterbatasan informasi. Penerimaan pada musik ini dianggap sebagai musik “aneh”. Seperti yang terjadi pada 1996 ketika Didit bersama kawan-kawannya pernah membuat sebuah event musik elektronik bertajuk “Blind” di El Dorado, Bandung. Event itu konon merupakan event musik elektronik pertama di Kota Bandung. Namun, karena penggemar musik ini terhitung masih sedikit hasilnya sepi penonton.

“Yah yang datang teman-teman sendiri juga,” ujar Didit sambil tertawa.

Menurut Didit, hadirnya musik elektronik di Kota Bandung tak lepas dari demam musik Inggris atau akrab disebut “Indies” atau “Briptpop”. Saat itu untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang musik Inggris memang terhitung susah. Informasi yang tersedia masih terbatas – internet masih belum hadir. Satu-satunya sumber referensi hanya majalah musik impor. Itu pun hanya segelintir orang yang bisa mendapatkannya. Salah satunya lewat ulasan-ulasan di Select Magazine yang jadi sumber referensi bagi komunitas saat itu. Select Magazine banyak mengulas kultur musik pop Inggris, seperti kultur rave scene dan acid house yang sedang populer di Inggris sana. Band-band semisal The Future Sounds of London, The Chemical Brothers, dan Underworld adalah secuil nama yang digilai oleh penyuka musik elektronik pada saat itu.

“Pada waktu itu di Bandung lagi ramai band indie, jadi masuknya juga karena ada relevansi dengan musik-musik asal Inggris yang sedang jadi referensi band-band indie saat itu,” terang Didit.

(Band-band elektronik di Bandung (searah jarum jam): Bottlesmoker, HMGNC, Sins o Suns, RNRM)

Kehadiran media informasi ini jadi titik penting kalau membicarakan awal mula masuknya musik elektronik. Baru kemudian ketika internet hadir informasi itu lebih mudah didapatkan, terutama lewat berbagai forum musik elektronik.

“Gue pertama kenal musik elektronik justru dari games Wipeout karena soundtracknya berisikan band-band elektronik Inggris. Gue ingat ada The Future Sounds of London, ada Chemical Brothers, itu pertama perkenalan gue.  Mulai cari di Yahoo ama Altavista. Jadi gue juga beruntung ketika SMP udah punya internet di rumah. Jadi gue pertama kali cari tahu cara bermain musik di internet itu dari forum. Ada forum namanya Dancetech dari Inggris. Tahu genre juga dari sana,” ujar Grahadea Kusuf, personil band elektronik HMGNC.

Pengalaman serupa dialami oleh Iwan aka DJ E-One yang mulai mengenal musik-musik elektronik karena dia sering mengakses forum di internet. Dari kegiatan itu membuatnya kian mendalami musik elektronik termasuk alat-alatnya.

“Waktu itu memang sudah ada internet. Ada nama forumnya Invisible Scratch. Ada DJ-nya Beastie Boys juga di sana. Emang harus ngulik forum-forum kayak gitu. Internet memang sudah ada tapi kan, Youtube belum ada,” ujarnya.

Bahkan Dea dan Iwan mengakui kalau mereka mengetahui informasi soal alat musik semacam synthesizer, tutntable, groovebox, hingga mixer juga berkat informasi yang ada di forum. Sayangnya, akses terhadap alat musik tersebut juga masih susah.

“Emang harus ngulik untuk dapat alat juga, seperti dapatin list dealer dan distributornya baru kita bisa dapat alat yang diinginkan. Namun, akses itu kemudian makin mudah ketika kultur “cokro” (hackers) tumbuh di komunitas hingga mendapatkan alat jadi lebih mudah. Malah ditawar-tawarin,” terang Dea.

Bandung-Jakarta Connection  

Pengaruh besar lainnya yang membuat musik elektronik kian masif diterima berkat banyaknya event-event musik elektronik yang notabene bukan sekedar musik yang dimainkan di klab-klab komersil. Pada awal tahun 2000 kian marak event musik elektronik di Kota Bandung yang perannya tak lepas dari terbangunnya relasi dengan kolektif-kolektif  DJ asal Jakarta seperti Future dan Java Bass. Sosok seperti DJ Anton dan DJ Hogi Wirjono membawa pengaruh cukup besar. Mereka cukup aktif membuat event rave party di Kota Bandung.

Anton dan Hogi memiliki referensi lebih luas terhadap musik elektronik karena mereka sempat sekolah di San Francisco, Amerika. Mereka tergila-gila dengan kultur rave scene yang ada di sana. Mereka kemudian “membawa” kultur rave scene tersebut ke Indonesia. Salah satunya Kota Bandung. Beberapa nama event musik rave legendaris semisal Artcore Nation dan Revolution menjadi ajang party barudak Bandung pada masa itu.

Momen penting dari pertumbuhan musik elektronik memang selepas millennium baru. Event-event digelar hampir di tiap minggu. Akhirnya secara perlahan banyak orang yang mulai tertarik pada musik yang satu ini.

“Ketika menjelang awal tahun 2000. Jadi yang gue lihat kecenderungannya ada dua yaitu DJ dan live PA. Dalam satu area event tuh ada DJ, ada live PA, ada chill room. Jadi lo datang ke acara tuh seru, ragam musiknya sudah mulai banyak. Bahkan yang datang pun bisa random banget mulai dari anak punk, anak skate, hingga anak kuliahan,” terang Egga Pratama, salah satu DJ sekaligus penikmat musik elektronik.

Pada awal millennium boleh dikatakan anak muda Kota Bandung sudah mulai mengalami euforia terhadap musik elektronik. Informasi-informasi yang hadir di komunitas juga sudah lebih mudah lagi didapatkan. Diantaranya liputan-liputan dari majalah Trolley dan Ripple yang sering menampilkan liputan event rave party. Hal ini mendorong scene ini menjadi lebih luas lagi.

“Sebenernya perbedaannya saja, kalau di Bandung itu scene-nya lebih banyak karena ada musik indie. Jadi media yang mereka dapat kesitu pasti nyambung-nyambung. Karena kayak di Inggrisnya juga, kayak Primal Scream, diremix oleh siapa, siapa diremix oleh siapa. Sementara kalau di Jakarta itu lebih ke DJ saja, bukan produser,” terang Didit.

Periode kian masifnya scene ini ketika sudah mulai bermunculan “amateurs DJ”. Mereka banyak memutar lagu pada event-event rave komunitas. Secara karakter, DJ ini tentu berbeda dengan DJ-DJ klab komersil. Terutama di pemilihan genre musiknya. Musik-musik yang diputarkan tentu saja bukanlah musik elektronik mainstream yang ada di klab-klab komersil. Para “amateurs DJ” ini biasanya adalah para fans musik yang memiliki koleksi vinyl banyak dan pengetahuan musik luas. Jadi bukanlah DJ yang “profesional”.

“Gue mulai nge-DJ didorong oleh teman karena melihat gue punya koleksi vinyl yang banyak banget. Nge-DJ itu akhirnya kan personal banget, muterin lagu-lagu yang kita suka. Gue sekarang kalau diminta nge-mix itu jujur saja nggak bisa,” terang Didit.

Kebutuhan Ruang

Membicarakan musik elektronik juga tak bisa lepas dari peran ruang yang menaunginya. Stigma negatif selalu menempel pada para pelaku musik elektronik karena musik-musik ini sering dimainkan di di sebuah klab malam yang lekat dengan seks, narkoba, dan alkohol. Musik-musik seperti techno, progressive, atau disco merupakan bagian genre musik yang sering ditemui di klab-klab dugem.

“Dulu saya juga sadar bahwa nggak bisa main di klab komersil yang udah mapan kayak gitu. Karena musiknya memang beda. Kalau dulu, akhirnya saya cari-cari tempat yang memang karakter si tempatnya belum muncul, jadi bisa dibentuk. Kalau bikin di klab mapan seperti SE (Studio East), Score, atau Embassy yah nggak akan bisa, makanya lebih milih ruang-ruang yang belum terlalu kuat identitas karakternya,” ujar Didit yang pernah membuat serial event musik elektronik bernama Blackflake.

Akhirnya pada medio 2000-an event musik elektronik justru hadir di ruang-ruang yang non-klab seperti basement mall, kampus, bar, hingga skatepark. Selain itu ada juga sederet nama venue bar yang dikenal sering menyelenggarakan event musik elektronik seperti Amsterdam Café, Bar 69, Kyooki, dan TRL. Sayang satu per satu event-event musik elektronik di sana perlahan ikut ditinggalkan seiring dengan ikut tutupnya tempat tersebut.

Kontestasi ruang ikut muncul yang membuat pergerakan musik ini sangat ditentukan dengan bagaimana pemilihan ruang-ruang yang ada. Di Berlin, misalnya, scene musik EDM (Electronic Dance Musik) ini bisa tumbuh karena mengaktifkan beberapa gudang terbengkalai menjadi sebuah ajang pesta yang seru. Sementara kondisi makin sedikitnya ruang-ruang yang terbuka terhadap musik elektronik ini apalagi ditambah stigma negatif yang menempel membuat pergerakan musik elektronik ini tidak seluwes beberapa genre musik lainnya. Tantangan yang terus muncul agar di tengah kontestasi ini, Bandung tidak kurang party.

***

(Tulisan ini pernah dimuat https://frekuensiantara.com/news/apa-dan-bagaimana-musik-elektronik-tumbuh-di-kota-bandung/)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here