Dari Sastra Ke Kota

Zines Propganda Hysteria

Suatu malam saya mendapat pesan kalau kawan lama saya, Adin “Mbuh”, sedang berada di Bandung.Adin diundang untuk mempresentasikan zines Propaganda Hysteria di acara pra-event Bandung Zines Fest di salah satu galeri ISBI Bandung.Propaganda Hysteria merupakan media alternatif yang mengabarkan program-program dari kolektif Hysteria, sebuah ruang komunitas seni budaya asal Semarang, yang dikelola oleh Adin bersama kawan-kawannya.

Pada malam itu, Adin bercerita banyak tentang zines dan perkembangan Hysteria hampir selama satu dekade lebih.Di tengah era perkembangan sosial media, zines tampaknya masih menjadi medium yang dipilih oleh Hysteria untuk menyebarkan gagasan dan juga informasi kegiatan-kegiatannya.Adin bercerita panjang perjalanan zines Propaganda Hysteria dari awal mula sebagai wadah ekspresi komunitas sastra di Semarang sampai sekarang kemudian lebih banyak menyoroti persoalan urban/urbanisme.Hal ini seiring dengan orientasi kegiatan Hysteria yang terfokus pada isu urban dan lingkunganbeberapa tahun terakhir.Entah apakah Adin merasakan dunia sastra sudah tidak cukup menantang atau dia ingin mencoba tantangan lebih jauh dengan menggauli isu-isu urban.

Saya mendapat zines Propaganda Hysteria langsung dari tangan Adin sendiri. Sekilas saya baca zines Propaganda Hysteriamungkin secara bentuk agak lebih baik karena secara penulisan dan tata letak jauh lebih rapi dari format zines fotokopi yang biasa saya dapat. Entah kenapa juga Adin memilih medium zines untuk menyebarkan gagasannya.Hal yang cukup jarang untuk sebuah ruang alternatif (alternative space) memilih zines untuk menjadi media informasinya.Mengingat zines ini lebih banyak digunakan oleh komunitas yang berada di wilayah musik independen atau aktivisme sosial-politik.

Saya pertama kali mengenal Hysteria ketika bertemu Adin di Common Room Bandung hampir sekitar delapan tahun lalu.Saat itu dia sedang magang di tempat saya bekerja.Saya pikir cukup aneh juga ada yang magang di Common Room.Ternyata Adin memang mendapatkan beasiswa untuk belajar lebih jauh tentang pengelolaan ruang alternatif seni budaya yang tumbuh cukup berkembang pascaorde baru di Indonesia.Saya tak tahu alasan pasti kenapa Adin memilih Kota Bandung, dan khususnya Common Room.Rasanya saya pernah menanyakan hal tersebut.Tapi, saya lupa.Yang saya ingat Adin punya ruang atau komunitas bernama Hysteria.Cuma pada saat itu jalurnya lebih ke sastra.Wajar saja seingat saya Adin memang lulusan sastra.

Selama ini saya hanya mengetahui sepak terjang Hysteria melalui cerita-cerita Adin ketika kami bertemu atau mengetahui informasinya lewat laman sosial media yang sering diunggahnya lewat Facebook – bahkan ia berulang kali kerap bête ketika FB-nya diblokir dan sekian kali pula ia membuat akun-akun baru untuk menyebarkan informasi tentang Hysteria. Saya tidak tahu tepat situasi apa yang terjadi di Semarang karena memang secara pribadi saya belum pernah berkunjung ke kota lumpia tersebut. Kecuali, menyimak pergerakan kreativitas di Semarang dari kaca mata band-band independennya yang saya kenal cukup baik.

Dari Sastra ke Kota

Hysteria pertama kali menerbitkan zines bernama “Propaganda Hysteria” sejak 11 September 2014.Sastra memang menjadi “ruh” kegiatan merekadari diskusi hingga workshop.Setelah itu mereka menginisiasi sebuah event bertajuk “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang menjadi cikal bakal Gerobak Hysteria yang pada perjalanannya ternyata menjadi wadah komunitas yang lebih luas lagi, tak hanya sastra.

Penerbitan zines seiring berbarengan dengan kegiatan-kegiatan yang di-inisiasi oleh Hysteria.Jadi kalau ingin membicarakan perjalanan Hysteria selama ini, maka penerbitan zines bisa menjadi tolak ukur.Karena, pada zines itu semua kegiatan, program, hingga gagasan Hysteria tercatat dan terdokumentasi.Lewat zines ini saya dapat menangkap perubahan yang terjadi dalam tubuh Hysteria, baik sebagai ruang komunitas maupun ide dan programnya.

Perjalanan Hysteria menerbitkan zines juga boleh dikatakan penuh tantangan.Selayaknya media alternatif, pengerjaan zines ini juga seringkali luput dari tenggat waktu dan selalu memiliki masalah finansial.Sesuatu hal yang lumrah terjadi di antara para pegiat zines.Zines Propaganda Hysteria terbit benar-benar karena semangat, militansi, dan spirit independensi yang digawangi oleh komunitas mereka sendiri.Untuk pendanaan bahkan tergantung pada sponsor-sponsor kecil seperti tukang fotokopi, warnet, laundry, hingga salon kecantikan. Bahkan tahun 2014 mereka sempat vakum menerbitkan zines karena keterbatasan dana. Mereka mulai bisa membuat terbitan berkala secara rutin dengan kualitas cetak bagus ketika mendapatkan pendanaan dari Rujak Center For Urban Studies (RCUS). Konten-kontennya lebih banyak tergantung dari program-program yang sedang dijalankan.Meski tak pernah jauh-jauh dari isu seni, anak muda, komunitas, dan urban.

Cukup menarik menyimak perjalanan Hysteria baik itu sebagai sebuah ruang ide maupun ruang komunitas.Hysteria mencoba untuk menjadi jembatan ide dan praktik, tanpa harus ada batasan wacana.Mereka bisa “berubah” dari isu sastra ke perkotaan dan tampak melihat bahwa dalam memecahkan isu sosial terutama perkotaan maka harus melihat secara kompleks dan komprehensif dari sudut pandang yang lebih luas lagi. Mereka memilih pendekatan seni budaya sebagai sebuah praktik “estetika partisipatoris” karena mereka memang terjun “blusukan” secara langsung ke kampung-kampung di Semarang. Mereka menghelat berbagai kegiatan seni budaya mulai dari workshop, diskusi, pameran, gigs musik, dan pemutaran filmdi beberapa kampung kota di Semarang.

Ada beberapa hal yang menarik jika melihat konteks media alternatif dan bagaimana upaya Hysteria dalam membangun strategi komunikasinya.Ketika berbicara sebagai sebuah produksi pengetahuan, kita telah masuk pada era media yang sudah kian personal – selebgram, blogger, vlogger, youtuber, content creator, dsb. Di era sekarang, siapa pun danapa pun dapat menjadi “media”. Zines adalah medium personal yang dapat menjadi ruang ekspresi apa pun termasuk pandangan politik dan ideologi – tak ada batasan rigid dalam penerbitan zines di mana tatanan dalam media massa konvensional dilabrak oleh penerbitan zines (Duncombe, 1997).

Buku Peka Kota Hub: 13 Tahun Hysteria Seni untuk Kota yang diterbitkan oleh Kolektif Hysteria

Beberapa tahun terakhir ini geliat zines sudah mulai berkembang lagi. Setidaknya apa yang saya amati sejak perhelatan Bandung Zines Fest dari tahun ke tahun penerbitan zines tampak sedang bergeliat – di beberapa kota lainnya sendiri festival zines sudah mulai sering dihelat. Mungkin saja orang-orang sudah mulai bosan dengan berita-berita yang ada di internet atau sosial media yang cenderung penuh hoax.

Zines mulai berkembang di Indonesia pada 1990-an dan punya peran cukup besar dalam menyebarkan ide dan gagasan yang progresif (isu seperti aktivisme kiri, feminisme, lingkungan, hingga politik). Wacana-wacana yang terdapat dalam zines juga dapat menjadi saluran gagasan baru bagi anak muda yang selama ini tidak mereka peroleh di media massa mainstream.

Namun, sekarang dari yang apa saya amati, zines tak semata sebagai media informasi atau propaganda. Tapi telah “bertransformasi” menjadi ruang ekspresi.Misalnya, ketika di Bandung Zines Fest saya melihat transformasi wacana itu telah berubah. Zines kini menjadi medium yang juga banyak digunakan oleh para seniman, fotografer, komikus, dan illustrator muda untuk mengekspresikan karya-karyanya – mungkin semacam perlawanan terhadap galeri atau pola mencari “market” yang lebih luas – sehingga mulai bermunculan pula zines fotografi, zines art/ilustrasi, zines komik, dll. Akhirnya bagi saya hal ini membuat zines bakal lebih berkembang kedepannya karena benar-benar masih relevan menjadi media alternatif tanpa ada batasanapa pun.

Media alternatif semacam zines ini muncul sebagai jawaban atas dominasi budaya arus-utama (mainstream) yang membosankan yang sekian lama dianggap telah mendiktekan kriteria budaya, moral,dan nilai-nilai dalam masyarakat.Munculnya media-media alternatif dari kelompok-kelompok subkultur biasanya menyuarakan alasan-alasan semacam ini.Pesan-pesan media jenis ini biasanya tidak hanya menyuarakan ideologi gerakannya, tetapi juga mengajak pembacanya bertindak.Mengingat pesan dan latar belakang pembentukannya, media alternatif jelas bersifat antikemapanan (anti-establishment) (Ibrahim dan Adlin, 2006).

Ketika Hysteria membuat zines untuk wadah komunitas sastra di Semarang, karena memang sempitnyaruang untuk sastrawan muda di media massa konvensional. Tak banyak media yang mengangkat sastra.seringnya di Kompas (atau beberapa koran lokal) yang biasanya diterbitkan setiap Minggu pagi. Belum lagi kita melihat adanya patronase dalam dunia sastra yang membuat ruang untuk sastrawan muda jadi kian lebih sempit.

Zines Propaganda Hysteria rasanya dapat menangkap keresahan itu.Sampai saat ini mereka masih konsisten memberikan ruang baru bagi para sastrawan muda yang sedang bergeliat.Hal itu bisa disimak dari penerbitan zines mereka yang masih konsisten menerbitkan puisi, esai, dan cerpen.Karakter itu memang tidak hilang dan seolah mereka tidak ingin melupakan darimana mereka berasal.Kalau saya baca dari zines-zines sekarang, sastra masih memiliki ruang.Meski porsinya tidak se-besar dulu.

Meski kini Hysteria bergeser menjadi satu ruang alternatif yang membahas isu urban, mereka termasuk konsisten dalam menerbitkan zines.Saat ini mereka sudah menerbitkan lebih dari sembilan puluh edisi – hal yang tidak lazim sebetulnya untuk suatu ruang alternatif yang lebih banyak strategi komunikasinya pada workshop, diskusi, atau pameran.Zines Propaganda Hysteria seperti menjadi “perpanjangan” ide dan praktik dari apa yang dilakukan oleh mereka. Jika Hysteria menjadi ruang publik untuk komunitas, maka zines Propaganda Hysteria ini dapatmenjadi“ruang ketiga” (third space) yang meleburkan ide dan praktik antara ruang fisik dengan ruang media (cetak maupun digital).Sehingga, distribusi informasi bisa tersebar lebih luas lagi.

Zines-zines Hysteria menawarkan sebuah medium baru dalam menyebarkan informasi soal urban.Saat ini isu pembahasan tentang isukota/urban memang lebih cenderung berpihak pada segelintir elit: berita tentang program pemerintah, berita dibukanya lahan mall, apartemen, atau hotel baru, atau berita-berita tentang penggusuran, dsb. Propaganda Hysteria justru sebaliknya.Mereka mampu menempatkan sendiri sebagai ruang yang menurut saya memiliki independensi dan keberpihakannya pada warga.Seperti dalam salah satu edisinya, mereka membahas profil seorang bernama “Mbah Mul” yang ternyata memiliki jasa besar di sebuah kampung di Semarang. Juga ada cerita bagaimana kolektif Hysteria membangun program-program kampung kota, seperti notulensi diskusi Temu Kampung Semarang dan program susur kampung lewat aktivasi yang mengintegrasikan kampung-kampung di Semarang dengan teknologi Augmented Reality (AR). Berita-berita yang tentu saja bukan isu-isu “besar” yang selalu jadi santapan media massa mainstream.

Praktik penerbitan zines ini akhirnya membuka strategi komunikasi untuk membuat jejaring lebih luas lagi.Persebaran ide dan gagasan yang terus ter-amplifikasi menjadi bola salju sehingga praktik-praktik advokasi terhadap warga diharapkan dapat dicatat dan disebarluaskan dan harapannya dapat mempengaruhi kebijakan publik.Amplifikasi informasi yang menyatukan antara aktivisme ruang fisik dengan media merupakan strategi komunikasi yang dilakukan Hysteria.Semoga, mereka konsisten menerbitkan zines – atau apapun dalam konteks memproduksi pengetahuan.

***

Referensi:

Adlin, Alfathri. 2006. Resistensi Gaya Hidup. Penerbit Jalasutra: Yogyakarta

Duncombe, Stephen. 1997. Zines and the Politics of Alternatif Culture. Verso: London & New York

Propaganda Hysteria Edisi 98 Oktober 2017

http://temporaryartreview.com/post-new-order-common-room-and-alternatif-spaces-as-an-art-practice-in-bandung/

(Tulisan ini merupakan salah satu isi dari buku antologi “Peka Kota Hub: 13 Tahun Hysteria Seni untuk Kota” (Kolektif Hysteria, 2018)) 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here